
KORBAN: Toko Ragil dan Toko Rizky, dua toko yang ada di dalam Pasar Besar Malang, dalam waktu semalam dibobol maling. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Pasar Besar Malang (PBM) tak lagi aman bagi pedangannya. Hanya dalam waktu semalam, dua toko yang berada di sisi timur, dibobol maling.
Toko itu milik Yuliati (53) warga Sawojajar dan Yayuk (48) warga Klojen. Mereka baru tahu jika toko peracangan bumbu itu kemalingan, saat membuka toko pada Sabtu (12/7/2025) pagi.
Kerugiannya memang tidak terlalu besar. Hanya uang receh sekitar Rp500 ribu, serta tiga anak timbangan yang terbuat dari kuningan.
Tetapi mereka mengeluhkan sistem penjagaan dan keamanan di PBM yang tidak baik. Karena aksi pembobolan itu kerap terjadi dan berulang secara periodik.
“Kami juga mengeluhkan penerangan di PBM yang sangat minim.”
“Lampu yang kami pasang di depan toko, sering kali hilang.”
“Jika hal ini terus dibiarkan tanpa ada solusi dari Diskopindag, kami akan terus dirugikan.”
“Lalu kepada siapa kami meminta pertanggunganjawaban atas kemalingan ini,” jelas Yuliati saat dihubungi Malang Post, Sabtu (12/07/2025).
Apalagi sebagai pedagang, pihaknya secara rutin membayar retribusi. Selain tetap berupaya mengamankan barang dagangan secara mandiri.
“Kepada pedagang lainnya, jangan hanya mengandalkan penjagaan dan pengaman dari pihak keamanan PBM. Mari sama-sama mengamankan barang kita sendiri-sendiri,” tegas dia.
Terpisah, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, menyayangkan kejadian tersebut. Apalagi terjadi tidak lama setelah pagar tembok PBM ambrol dan menimpa PKL di lantai bawah.
“Kami yakin saat ini posisi pedagang di PBM merasa khawatir dan selalu waspadai.”
“Jangan hanya lihat kerugiannya yang tidak seberapa. Tapi poin pentingnya adalah bentuk penjagaan dan pengamanan serta penerangannya kurang maksimal. Mengingat usia PBM dan kondisinya sudah sangat kurang untuk mendukung pedagang beraktifitas,” terang Bayu.
Selama kondisi PBM belum mendapatkan penanganan serius dengan peningkatan (revitalisasi), kata Bayu, pedagang akan terus mengalami kerugian.
Berbeda jika PBM direvitalisasi. Pihaknya memastikan dari sisi keamanan dan kenyamanan akan lebih terjamin. Karena ada perbaikan di semua sektor.
“Karena sejak kebakaran beberapa tahun lalu, sampai sekarang belum ada peningkatan pembangunan.”
“Jelas soal mekanikal elektrikal, belum bisa ditata sedemikian rupa secara keseluruhan,” ungkapnya.
Dengan adanya dua kejadian yang berdekatan di PBM, pihaknya mengimbau kepada semua pedagang bisa memahami kondisi pasar saat ini. Kesepakatan dari semua pedagang adalah kuncinya PBM akan lebih bagus dan aman serta nyaman bagi pedagang.
“Tanpa adanya dukungan satu suara dari semua pedagang, PBM akan terus seperti ini. Apalagi gara-gara belum satu suara, Kementerian PU akhirnya menunda guliran anggarannya ke daerah,” imbuhnya.
Sayangnya pihak Diskopindag maupun pelaksana pasar, ketika dihubungi untuk dikonfirmasi, belum memberikan respon. (Iwan Irawan/Ra Indrata)