MALANG POST – BPBD Kota Batu memetakan empat desa rawan longsor di Kecamatan Bumiaji, Minggu (8/11/2026), akibat kemiringan lereng dan minimnya kerapatan vegetasi, serta menyiagakan 350 personel gabungan guna mengantisipasi ancaman limpasan banjir lumpur menghadapi puncak musim hujan.
Ancaman tanah longsor perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Kota Batu memasuki musim penghujan. Empat desa menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu.
Di antaranya adalah Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, Gunungsari, dan Bulukerto. Kondisi lereng yang curam serta minimnya kerapatan vegetasi dinilai meningkatkan risiko pergerakan tanah saat hujan deras.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menjelaskan bahwa ada tiga indikator utama yang memengaruhi tingkat kerawanan longsor, meliputi kemiringan lereng, kondisi tanah, dan kerapatan vegetasi.
Menurutnya, lereng dengan kemiringan tinggi memiliki risiko lebih besar, terutama jika kondisi tanah mudah gembur ketika terkena air. Risiko tersebut semakin meningkat apabila vegetasi di kawasan itu tidak cukup rapat untuk membantu mengikat tanah.
“Memang empat wilayah tersebut lerengnya juga cukup parah, sedangkan kerapatan vegetasinya kurang. Harusnya penanaman vegetasinya lebih diperkuat lagi,” katanya, Minggu (8/11/2026).
Penguatan vegetasi menjadi salah satu langkah mitigasi yang perlu diperhatikan. Sebab, akar tanaman dapat membantu menjaga kestabilan tanah, terutama di kawasan dengan kontur berbukit dan lereng curam.
Ancaman semakin besar ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang. Air yang meresap membuat tanah semakin jenuh sehingga berpotensi memicu pergerakan tanah.

ALAT BERAT: Sebanyak empat desa di Kota Batu masuk zona rawan longsor di musim penghujan periode 2026-2027 ini. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Catatan BPBD Kota Batu menunjukkan, sedikitnya 49 kejadian tanah longsor terjadi hingga Oktober 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan jenis bencana hidrometeorologi lainnya pada periode yang sama.
Selain longsor, ancaman banjir juga perlu diantisipasi. Hujan deras berpotensi memicu limpasan air dari kawasan yang lebih tinggi menuju wilayah di bawahnya. Bahkan, aliran tersebut dapat membawa material lumpur.
Sejumlah kawasan di Kecamatan Bumiaji berisiko terdampak aliran air bercampur lumpur dari wilayah atas. Sementara itu, kawasan Gunungsari juga perlu mendapat perhatian karena terdapat aliran Sungai Brantas.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, mengatakan bahwa data kejadian bencana tersebut dihimpun melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops). Memasuki musim hujan yang diprediksi mulai berlangsung pada November, pemetaan kawasan rawan dan upaya mitigasi perlu diperkuat.
“Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng juga diminta lebih peka terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama saat hujan turun dalam waktu lama,” tuturnya.
Penguatan vegetasi dan pemantauan kondisi lingkungan menjadi bagian penting dalam menekan risiko bencana. Langkah penanganan pun perlu disesuaikan dengan karakteristik serta tingkat kerawanan masing-masing wilayah.
Sebelumnya, sebanyak 350 personel gabungan disiagakan untuk mengantisipasi potensi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga angin puting beliung. Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan Apel Siaga Tanggap Bencana Hidrometeorologi di Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo.
Kondisi geografis Kota Batu yang didominasi kawasan pegunungan dan lereng membuat daerah ini memiliki kerawanan bencana cukup tinggi. Oleh karena itu, seluruh unsur harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan.
“Kita menyadari wilayah Kota Batu memiliki potensi kerawanan bencana alam. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan kewaspadaan dari seluruh unsur, baik aparat maupun partisipasi aktif masyarakat, menjadi hal penting untuk kita antisipasi bersama,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




