UB Gandeng CITED Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif di Tingkat Global. (Foto: Humas UB For Malang post)
MALANG POST – Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Consortium of Inclusive Teacher Education and Development menggelar konferensi internasional bertajuk Belonging Without Borders di Gedung Rektorat UB, Malang, Rabu (28/10/2026), guna merumuskan kebijakan strategis serta memperkuat jejaring global pendidikan inklusif.
Universitas Brawijaya (UB) menggandeng Consortium of Inclusive Teacher Education and Development (CITED) dalam penyelenggaraan konferensi internasional bertajuk “Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World” di Gedung Rektorat UB, Rabu (28/10/2026).
Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menyampaikan bahwa UB merasa terhormat dapat berkontribusi dalam dialog internasional yang telah mengemuka di berbagai belahan dunia ini. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan pendekatan praktis dan berkelanjutan untuk diintegrasikan dalam kebijakan institusional di Indonesia sekaligus memperkuat jejaring antarpeneliti.
Menurut Prof. Imam, pendidikan inklusif tidak sekadar menyediakan akses kesempatan belajar, melainkan menciptakan ekosistem pendidikan yang mana setiap individu merasa dihargai, didukung, dan diberdayakan secara bermakna tanpa memandang latar belakang maupun keterbatasan fisik.

(Dari Kiri) Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP dan Ketua Kelompok Pengarah CITED, Prof. Umesh Sharma. (Foto: Humas UB for Malang Post)
“Melalui kesempatan ini, kita dapat memperkuat aksi bersama untuk mewujudkan pendidikan yang ramah dan inklusif,” ujar Imam, Rabu (28/10/2026).
Ketua Kelompok Pengarah CITED, Prof. Umesh Sharma, menjelaskan bahwa CITED beranggotakan akademisi, pendidik, peneliti, dan penggiat hak-hak disabilitas dari berbagai negara yang berfokus mengembangkan strategi serta sumber daya pembelajaran bagi para guru.
UB sendiri mengusung dua dimensi utama dalam transformasi inklusif. Pertama, kesetaraan gender di lingkungan birokrasi kampus, yang mana 52,2 persen dosen dan 58 persen mahasiswa UB merupakan perempuan.
Kedua, UB menyediakan enam jalur afirmasi pendidikan bagi daerah tertinggal, meliputi ADik Papua, ADEM Papua, ADEM Repatriasi, ADik 3T, jalur khusus penyandang disabilitas, serta mahasiswa internasional. Hingga kini, UB memfasilitasi 329 mahasiswa aktif penyandang disabilitas dan telah meluluskan 185 alumni di 74 program studi melalui pendampingan Subdirektorat Layanan bagi Penyandang Disabilitas dan Pendidikan Inklusif.
Konferensi internasional tahun ini menghadirkan perwakilan komunitas akademik dari sembilan negara, yakni Indonesia, Australia, Bangladesh, Filipina, Italia, Finlandia, Pakistan, Malaysia, dan Inggris, dengan total 52 pendaftar pameran riset luring maupun daring. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




