Oleh: Dahlan Iskan
Banyak pengusaha yang berani mengambil risiko karena taruhannya hanyalah nasibnya sendiri. Beda dengan Presiden Prabowo Subianto. Sangat bernyali. Berani. Sangat berani. Padahal taruhannya adalah nasib bangsa.
Hal itu tecermin dari pidatonya saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Rabu (21/10/2026). Presiden seperti meluapkan perasaan terdalamnya.
“Kita ini terus dihadang. Iya kan? Ada apa itu? Macam-macamlah MSCI, macam-macam. Dia mau menakut-nakuti kita!” ucap Prabowo.
Anda tentu sudah tahu mengapa kalimat tegas itu sampai terucap: gara-gara pengumuman lembaga pemeringkat di New York tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendadak nyungsep 11,7 persen pada Jumat (12/10/2026) lalu, kemudian meluncur turun lagi 3 persen pada hari Senin berikutnya.
Morgan Stanley Capital International (MSCI) memang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan peringkat BEI dua tingkat sekaligus, langsung menuju level terendah: standalone. Kendati keputusan finalnya baru akan diumumkan pada Juni tahun depan, investor saham asing memilih langsung melakukan aksi lepas portofolio (sell, sell, sell).
Banyak kalangan mengira Presiden bakal menegur direksi BEI: mengapa tidak bergerak cepat bereformasi agar Indonesia tidak dijatuhi sanksi oleh MSCI? Namun, reaksi yang ditunjukkan Prabowo ke publik justru sebaliknya: menantang balik MSCI.
Memang, anjloknya harga saham di BEI tersebut dirasa cukup menampar: terjadi di sekitar momentum ulang tahun ke-75 Presiden Prabowo sekaligus genap dua tahun masa kepemimpinannya. Begitu jengkelnya Presiden sampai menyebut langsung nama MSCI—berkali-kali pula. Sebuah fenomena langka di level kepala negara untuk melancarkan tembakan langsung semacam itu.
“Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut kepada siapa pun dan tidak akan pernah gentar!” tegas Prabowo.

Luar biasa bernyalinya. Sidang kabinet itu sendiri dihelat tepat pada peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo.
“Kita tidak takut. Kita punya kekuatan. Kita punya keberanian. Dan kita rela berkorban. Kita tidak mengenal kata menyerah!”
Frasa “kita rela berkorban” mungkin menyimpan pesan tersirat agar rakyat bersiap menghadapi implikasi ekonomi lanjutannya. Belum ada yang bisa memprediksi apa yang bakal terjadi pascatantangan balik dari Presiden Prabowo tersebut. Yang jelas, kita diminta siap untuk rela berkorban.
Namun, kita diminta rela berkorban apa? Dan apa saja batasannya? Siapa pula yang dimaksud dengan “kita”? Apakah seluruh rakyat Indonesia?
Bahwa kita rela berkorban, itu bisa digerakkan. Pun bahwa kita memiliki keberanian—bahwa kita adalah bangsa pemberani. Namun, sewaktu Presiden menegaskan bahwa kita sudah memiliki kekuatan, saya butuh waktu berpikir agak panjang: kekuatan konkret apa yang saat ini telah kita pegang untuk dipakai bertarung melawan dinamika pasar global?
Kekuatan terbaik sejatinya adalah kekuatan tekad untuk berbenah diri—dalam konteks ini, akselerasi perbaikan tata kelola (good corporate governance) di Bursa Efek Indonesia.
Hal utama yang dipersoalkan oleh MSCI adalah keterbukaan informasi dan transparansi di bursa—agar tidak ada investor saham yang terkecoh. Selain itu, penegakan hukum (enforcement) juga menjadi sorotan: jangan sampai emiten yang melantai di bursa melanggar regulasi tanpa dijatuhi sanksi tegas. Termasuk pula pentingnya memperbesar porsi saham publik (free float). Jangan sampai lembar saham yang dilepas ke publik terlalu minim—itu pun diam-diam dibeli kembali oleh pemiliknya melalui skema proksi.
Intinya, MSCI menginginkan agar para pembeli saham tidak terjebak oleh trik para emiten, serta terhindar dari harga yang tidak wajar akibat saham yang terlalu banyak digoreng.
MSCI adalah lembaga bisnis komersial—sebuah perusahaan publik yang melantai di bursa saham New York. Bisnis MSCI akan kian moncer apabila analisis saham yang dikeluarkannya presisi dan tepercaya. Dengan demikian, para investor global tidak perlu repot menganalisis sendiri mana saham yang sehat dan mana yang rapuh, melainkan cukup memercayai kalkulasi MSCI.
Tentu saja, persoalan MSCI hanyalah satu bagian kecil dari substansi pidato Presiden. Masih banyak poin menarik lainnya, salah satunya isu perombakan kabinet (reshuffle).
Dari narasi pidato ulang tahun pemerintahan tersebut, terbaca penanda bahwa reshuffle besar-besaran tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Presiden mengibaratkan dinamika kabinetnya seperti laga sepak bola.
“Sekarang ini belum…”—Presiden sempat tampak mencari padanan kata ‘turun minum’ dalam pertandingan sepak bola—”…apa itu namanya… half time.”
Lalu Presiden melontarkan tamsil yang terasa jenaka: pemain cadangan. Istilah ini juga dipinjam dari dunia sepak bola. Saat ini, kata Presiden, memang banyak “pemain cadangan” yang sudah tidak sabar menunggu giliran diterjunkan ke lapangan.
Presiden pun meminta mereka untuk bersabar menunggu momentum yang pas. Dan momentum yang pas itu adalah saat half time. ” Half time-nya kan tunggu kalau sudah 2,5 tahun,” ujar Presiden.
Mungkin maksudnya bukan persis di titik pertengahan babak. Bisa jadi setelah melintasi half time.
Dalam olahraga sepak bola, para juru taktik jarang mengganti komposisi pemain persis saat jeda babak pertama. Mayoritas perantian pemain dilakukan setelah memasuki menit ke-70—ketika durasi pertandingan sisa 20 persen lagi.
Jadi, wahai para pemain cadangan, bersabarlah. Agar tidak terbit rasa kecewa, tunggulah saat masa bakti pemerintahan ini menyisakan 20 persen terakhirnya. Entah sudah berapa skor yang tercipta pada papan pertandingan saat momentum itu tiba nanti. (Dahlan Iskan)




