MALANG POST – Kementerian Komunikasi dan Digital bekerja sama dengan Universitas Brawijaya menggelar Workshop 2 Artificial Intelligence Talent Factory Batch 2 Tahun 2026 di Malang, Rabu (21/10/2026), guna mematangkan inovasi teknologi kecerdasan artifisial untuk mendukung efektivitas dan keamanan Program Sekolah Rakyat.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Pusat Pengembangan Talenta Digital berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB) menggelar Workshop 2 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Batch 2 Tahun 2026.
Agenda strategis ini berlangsung pada 21–22 Oktober 2026 di Auditorium Algoritma, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB).
Workshop tersebut berfokus pada pengembangan dan penyempurnaan solusi berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) guna menyokong Program Sekolah Rakyat, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta sistem pengawasan lingkungan pendidikan secara terpadu.
Selain itu, perhelatan ini menjadi forum evaluasi komprehensif terhadap pemodelan AI, basis data (dataset), arsitektur sistem, hingga integrasi aplikasi agar perangkat lunak yang dihasilkan dapat diimplementasikan secara presisi sesuai kebutuhan riil Program Sekolah Rakyat.

PIMPINAN Komdigi dan Universitas Brawijaya: Gunawan Hutagalung (Kapusbang Talenta Digital Komdigi), Prof. Imam Santoso (WR I UB), Sabriansyah Rizqika Akbar (WD I Filkom UB), dan Gembong Edhi Setyawan (WD II Filkom UB). (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
Dalam sambutannya, Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Teknologi Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial RI, Dr. Robben Rico, menggarisbawahi krusialnya pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk menjawab tantangan zaman.
Ia mengapresiasi sinergi lintas lembaga dalam melahirkan terobosan AI yang berdaya guna bagi masyarakat, terutama dalam mengawal penyelenggaraan pendidikan dasar yang inklusif dan berkualitas.
Menurut Robben, pelaksanaan Program Sekolah Rakyat berpijak pada tiga doktrin utama, yakni memuliakan wong cilik, menjangkau yang belum terjangkau, serta memungkinkan yang tidak mungkin.
”Tiga prinsip ini menjadi kompas dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya, sekaligus memastikan kelompok masyarakat marjinal memperoleh hak atas pendidikan yang bermartabat,” tegas Robben, Rabu (21/10/2026).
AI Mampu Deteksi Dini Perundungan, Kekerasan, dan Intoleransi
Di sisi lain, pemerintah melalui Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin Kesos) tengah mengembangkan sistem deteksi dini berbasis kecerdasan artifisial guna menciptakan ekosistem Sekolah Rakyat yang aman dan kondusif.
Kepala Pusdatin Kesos, Joko Widiarto, menjelaskan bahwa teknologi AI ini dirancang untuk memantau dan memitigasi potensi pelanggaran secara beruntun. Sistem difokuskan pada pencegahan tiga dosa besar pendidikan, yakni perundungan (bullying), kekerasan fisik, dan intoleransi.

Aksi perundungan mencakup intimidasi fisik, verbal, maupun psikologis. Sementara itu, kekerasan meliputi tindakan korektif ilegal antarwarga sekolah, dan intoleransi berkaitan dengan perlakuan diskriminatif berbasis suku, agama, ras, maupun latar belakang sosial.
Melalui penerapan algoritma ini, pemerintah berharap upaya mitigasi dapat dijalankan lebih dini sehingga setiap potensi konflik dapat teridentifikasi dan ditangani secara tepat.
UB Dukung Pengembangan Talenta AI Masa Depan
Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UB dalam mengawal perhelatan teknologis ini.
Ia berharap kolaborasi semacam ini terus berkelanjutan melalui edukasi, evaluasi, serta mitigasi risiko pemodelan AI. Dengan demikian, luaran teknologi yang diciptakan tidak hanya canggih, melainkan aman dan bertanggung jawab (responsible AI).
”Pengembangan teknologi yang diimbangi mitigasi risiko merupakan langkah krusial dalam menyiapkan talenta digital muda yang sanggup berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” terang Imam.
Melalui Workshop 2 AITF Batch 2 Tahun 2026, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan ekosistem AI yang aplikatif guna mengakselerasi mutu pendidikan serta memperkuat sistem pengawasan Sekolah Rakyat secara berkelanjutan. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




