MALANG POST – Pemerintah Kota Batu bersama BPC PHRI dan IHKA Malang Raya menggelar Bed Making Competition and Art Towel 2026 di Graha Pancasila, Batu, Rabu (21/10/2026), untuk menguji ketelitian dan kecepatan puluhan tenaga housekeeping perhotelan dari berbagai daerah.
Merapikan tempat tidur di kamar hotel bukan sekadar meratakan sprei agar terlihat rapi. Kecepatan, ketelitian, dan konsistensi merupakan standar kualitas yang wajib dipenuhi oleh petugas housekeeping demi menjaga kenyamanan tamu.
Tantangan profesional itulah yang diangkat dalam ajang Bed Making Competition and Art Towel 2026 di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Rabu (21/10/2026).
Wali Kota Batu, Nurochman, mengapresiasi kompetisi yang digagas oleh Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu berkolaborasi dengan Indonesian Housekeeper Association (IHKA) Malang Raya tersebut.
Menurutnya, penguatan kapasitas dan keterampilan tenaga perhotelan merupakan bagian krusial dalam menjaga reputasi keunggulan pelayanan Kota Batu sebagai destinasi wisata unggulan.

BED MAKING: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan bed making dalam pembukaan bed making competition and art towet 2026. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ajang kompetisi ini diikuti lebih dari 80 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, di antaranya wilayah Malang Raya, Banyuwangi, Blitar, dan Surabaya.
Kategori lomba dibagi menjadi jenjang pelajar dan profesional, sehingga menjadi wadah pengujian kompetensi sekaligus mengukur kesiapan calon tenaga kerja menghadapi dinamika industri perhotelan.
Uniknya, Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, turut meramaikan pembukaan dengan menjajal langsung keterampilan menyiapkan tempat tidur kamar hotel.
Pengalaman tersebut bukanlah hal asing bagi Cak Nur—sapaan akrab Nurochman—yang sempat merintis karier di industri perhotelan pada awal tahun 2000-an.
”Sebagai kota destinasi wisata utama, kita wajib menggaransi wisatawan memperoleh pelayanan prima dan kenyamanan optimal selama menginap.”
“Kualitas kinerja divisi housekeeping menjadi salah satu elemen vital yang menentukan persepsi positif wisatawan terhadap Kota Batu,” ujar Nurochman, Rabu (21/10/2026).
Menurut Nurochman, para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Batu memiliki peluang terbuka untuk terserap dalam industri perhotelan.
Pembelajaran kurikulum sekolah yang dipadukan dengan Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi fondasi awal sebelum para siswa terjun ke dunia kerja profesional.
Namun, pembekalan teori dan praktik di bangku sekolah perlu diselaraskan dengan ritme kerja hotel yang dinamis.
Di lapangan, petugas housekeeping dituntut bekerja secara cepat, presisi, serta memiliki ketahanan fisik yang prima guna menuntaskan standar operasional prosedur (SOP) pelayanan.

Salah satu posisi kuncinya adalah room attendant, yakni petugas yang bertanggung jawab penuh atas kebersihan, kerapian, dan kelengkapan fasilitas kamar.
Tugas harian mereka meliputi penataan tempat tidur (bed making), penggantian sprei (linen), hingga sanitasi kamar mandi secara menyeluruh.
Tantangan kerja kian intensif ketika hotel memasuki puncak hunian (high occupancy) dan proses check-out tamu terjadi secara bersamaan. Kamar-kamar tersebut harus disiapkan kembali dalam durasi terbatas agar siap dihuni oleh tamu berikutnya.
Cak Nur mencontohkan, dalam kondisi full check-out, seorang room attendant rata-rata wajib mengelolasi pembersihan sekitar 15 kamar per hari.
Gambaran operasional tersebut menunjukkan bahwa profesi housekeeping membutuhkan manajemen waktu dan ketahanan fisik yang tangguh tanpa mengorbankan kualitas kebersihan.
”Jika di sekolah mereka belajar teori dan simulasi terbatas, di lapangan kerja perhotelan beban tugasnya jauh lebih masif.”
“Dalam sehari, saat kondisi full check-out misalnya dari total 100 kamar, satu orang room attendant bisa memegang tanggung jawab sekitar 15 kamar,” terangnya.
Oleh sebab itu, ia berharap ajang ini tidak berhenti sebatas ajang unjuk kebolehan seremonial. Kegiatan ini diproyeksikan mampu memotivasi generasi muda, khususnya pelajar SMK pariwisata, untuk terus mengasah kualifikasi diri sesuai dengan kriteria pasar kerja global.
Sinergi kolaboratif antara PHRI, IHKA, pelaku industri, perguruan tinggi, dan SMK Pariwisata dinilai menjadi kunci dalam menjembatani kesenjangan (gap) antara kualifikasi akademis dan kebutuhan riil di lapangan.
”Ketersediaan tenaga kerja perhotelan yang kompeten merupakan penunjang utama daya saing kepariwisataan daerah. Sebab, kepuasan wisatawan tidak hanya dibentuk oleh pesona destinasi, melainkan oleh kehangatan pelayanan dan kenyamanan akomodasi,” pukasnya. (Ananto Wibowo)




