MALANG POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu bersama Perum Perhutani KPH Malang dan akademisi Universitas Brawijaya meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap potensi ancaman banjir bandang serta tanah longsor akibat maraknya fenomena Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Selasa (20/10/2026).
Ancaman bencana hidrometeorologi menjelang peralihan musim hujan kian nyata membayangi Kota Batu.
Dalam talkshow di program Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM pada Selasa (20/10/2026), Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho, membeberkan bahwa hingga 19 Oktober 2026 telah terjadi 30 kasus karhutla.
Kebakaran hutan yang masif merusak tutupan vegetasi dan mengubah struktur tanah lereng.
Kondisi tersebut memicu erosi hebat, mengurangi resapan air, serta meningkatkan volume limpasan air hujan menuju kawasan permukiman.
Guna mengantisipasi bencana susulan, BPBD Kota Batu telah menyisir dan membersihkan material penyumbat di enam Daerah Aliran Sungai (DAS) sejak Juni hingga awal Agustus lalu.
“Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hujan lebat, terutama di kawasan lereng dan sepanjang aliran sungai,” terang Gatot Nugroho, Selasa (20/10/2026).
Rencana Reboisasi dan Analisis Akademis
Merespons potensi bencana di kawasan hutan perbukitan, Administratur Perum Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, menyampaikan bahwa pihaknya telah merancang skema pemulihan ekosistem secara cepat.
Perhutani menyiapkan stok benih tanaman untuk reboisasi massal begitu curah hujan mulai stabil.
Di samping itu, pemetaan kawasan rawan serta penelusuran alur sungai terus dimantapkan untuk menekan risiko bencana di wilayah terdampak karhutla.
Dari sudut pandang akademis, Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Sudarto, mengelaborasi bahwa struktur tanah yang terpapar panas karhutla cenderung kehilangan pori resapan.
Saat diguyur hujan deras, tanah lereng curam yang jenuh air sangat rentan longsor dan membawa material kayu lapuk pemicu banjir bandang.
Sudarto menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk pembersihan hulu sungai secara berkala agar aliran air tetap lancar tanpa menyumbat jembatan. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




