MALANG POST – Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Muhammad Jihadi, M.Si., mendesak Pemerintah RI dan Otoritas Jasa Keuangan di Malang, Senin (19/10/2026), untuk segera bernegosiasi secara serius dengan MSCI guna menghentikan panic selling dan penarikan modal asing di pasar modal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tengah mengalami tren penurunan tajam hingga menyentuh titik terendahnya di level 4.900. Fenomena tren menurun (downtrend) ini menyita perhatian Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhammad Jihadi, M.Si.
Ia menyoroti bahwa akar masalah utama dari lesunya pasar modal domestik bermula dari sentimen negatif berskala internasional, khususnya peringatan keras dari lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Jihadi—sapaan akrabnya—menjelaskan bahwa pelemahan drastis pasar saham dipicu oleh temuan MSCI terkait ketidaksesuaian struktur kepemilikan saham publik (free float) di Indonesia.
“Penyebab utamanya adalah pudar kepercayaan pengindeks internasional. MSCI menemukan bahwa batas free float lima persen di pasar saham kita nyatanya dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang terafiliasi dengan emiten besar,” jelas Jihadi, Senin (19/10/2026).
“Akibatnya, MSCI mengancam akan mencabut indeks Indonesia dan menurunkan kualifikasinya ke kelas Frontier atau Standalone Market,” lanjutnya.
Ancaman penurunan level tersebut menciptakan kepanikan pasar yang memicu penarikan dana asing (capital outflow) secara masif hingga menyentuh angka Rp132 triliun. Kondisi ini kian diperparah oleh aksi jual panik (panic selling) dari investor ritel domestik yang ikut melepas saham tanpa mempertimbangkan harga fundamental.
Tekanan jual yang masif ini membuat saham-saham unggulan (blue chip) seperti BCA (BBCA), Telkom (TLKM), dan BRI (BBRI) langsung menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
Lebih lanjut, ia memproyeksikan IHSG masih memiliki ruang koreksi teknis yang cukup dalam.
“Saat ini mayoritas investor dominan mengambil sikap wait and see atau hit and run. Ada proyeksi indeks bisa terus merosot hingga di bawah level 4.000. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebenarnya telah menyimulasikan stress test di angka 4.200,” tambahnya.
Terkait langkah strategis yang perlu diambil investor ritel dengan portofolio memerah, Jihadi menyarankan agar tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
Bagi investor dengan dana terbatas, langkah paling rasional adalah menahan (hold) kepemilikan saham. Ia memperingatkan agar investor tidak terburu-buru melakukan averaging down. Jika investor memilih opsi cut loss, dana tersebut sebaiknya dialihkan ke instrumen berrisiko rendah seperti pasar uang atau obligasi negara ritel (ORI dan SBR).
Jihadi menegaskan bahwa secara fundamental, kinerja saham-saham perbankan masih sangat kokoh dan penurunan harga saat ini murni dipicu oleh fenomena panic selling.
Di sisi lain, anjloknya pasar modal berpotensi membawa efek domino ke sektor riil. Beralihnya dana investasi asing memicu pelemahan nilai tukar Rupiah, yang diproyeksikan merembet pada lonjakan biaya transportasi hingga bermuara pada naiknya harga komoditas pangan.
Sebagai penutup, akademisi UMM ini mendesak pemerintah dan otoritas pasar modal untuk segera membenahi tata kelola bursa secara menyeluruh.
“Pemerintah harus serius melakukan negosiasi dengan MSCI yang pengumuman resminya dijadwalkan pada Juni 2027. Selain itu, aturan ketat terkait kepemilikan free float harus ditegakkan agar tidak ada lagi praktik manipulasi pasar dan insider trading yang dibiarkan,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




