Oleh: Dahlan Iskan
Apa saja prestasi terbesar dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang jatuh pada hari ini?
Lihat saja infografis yang beredar di media sosial sejak kemarin. Memang tidak ada identitas resminya: siapa yang membuat dan mengedarkannya. Namun, kelihatannya ada kaitan erat dengan tim Badan Komunikasi (Bakom) Istana.
Ada delapan prestasi yang dipaparkan di infografis itu. Prestasi di urutan pertama adalah produksi beras. Tahun lalu mencapai 34,7 juta ton. Dari tahun sebelumnya saja naik hampir 15 persen.
Presiden memang selalu membanggakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Rasanya, ketua alumni Universitas Hasanuddin itu memang tergolong sedikit menteri yang berprestasi. Angka produksi itu jauh lebih tinggi dibanding di zaman Presiden Soeharto sekalipun.
Amran akan diuji oleh El Nino. Apakah di kala cuaca abnormal produksi beras masih bisa setinggi itu? Sudah tiga tahun terakhir musim hujan sangat panjang. Sampai-sampai ada istilah “kemarau basah”. Petani bisa menanam padi tiga kali setahun. Itu sama dengan penambahan musim tanam 30 persen sendiri.
Prestasi kedua adalah keberhasilan menerapkan B-40—yakni mencampur minyak solar dengan biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit. Kebijakan ini diklaim bisa menghemat keuangan negara hingga Rp130 triliun per tahun. Ini prestasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang juga salah seorang menteri yang sakti.
Prestasi nomor tiga dan empat ada di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam dua tahun, pemerintah telah merehabilitasi lebih dari 51.000 sekolah. Namun, di infografis itu tidak dimasukkan keberhasilan membangun Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Menurut saya, sekolah khusus untuk anak-anak miskin itu prestasi besar. Sekolah Rakyat juga termasuk program yang orisinal. Mungkin karena Sekolah Rakyat tidak berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, maka tidak terbaca di laporan unjuk prestasi kementerian itu.
Sedangkan di bidang kesehatan, prestasinya adalah cek kesehatan gratis yang menjangkau 106 juta orang. Juga soal BPJS Kesehatan yang disuntik dana baru Rp20 triliun.
Urutan prestasi nomor lima adalah di bidang hilirisasi: berhasil mengundang investasi sebesar Rp225 triliun. Diikuti prestasi nomor tujuh di bidang kebanggaan Anda: Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)—yakni sudah berhasil mengoperasikan 10.000 KDMP dari target rencana 80.000 KDMP.
Prestasi nomor enam adalah program pengadaan tiga juta rumah rakyat: sudah terbangun 320.000 rumah. Tinggal sedikit lagi tuntas: sisa 2.680.000 rumah.
Sementara prestasi urutan delapan adalah simbol terkuat ideologi pemerintahan saat ini: sosialisme—yakni keberhasilan menyita 6,2 juta hektare kebun sawit milik swasta yang aslinya adalah kawasan hutan milik negara. Enam juta hektare bukan angka main-main. Sebagian besar sudah berwujud kebun kelapa sawit. Meski begitu, hebatnya keberhasilan ini justru hanya ditempatkan sebagai prestasi nomor delapan.
Tentu Anda bisa menambah sendiri daftar prestasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Yang saya tunggu sebenarnya adalah daftar delapan kegagalan yang dibuat oleh pemerintah bayangan.
Layakkah keberhasilan itu dirayakan? Terserah Anda. Yang jelas di Jember, Jawa Timur, ada yang menandai dua tahun pemerintahan Prabowo dengan bakti sosial sehari penuh. Dua tokoh berkeliling kabupaten menyerahkan bantuan sosial, khususnya ke rumah-rumah warga lansia dan miskin. Temanya: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo.
Dua tokoh itu Anda sudah kenal: Kawendra Lukistian dan Gus Fawaid. Yang pertama anggota DPR dari Dapil Jember-Lumajang. Yang kedua: Bupati Jember.
Nama Kawendra kemarin menjadi bisik-bisik keras di seantero warga Nahdlatul Ulama: siapa Kawendra? Kok tiba-tiba menjadi pengurus besar (pimpinan pusat) Nahdlatul Ulama, yakni sebagai salah satu bendahara PBNU.
Ada yang bilang itu titipan Istana. Ada yang bilang ia memang pantas mendapatkan posisi itu.
Umurnya baru 38 tahun. Baru kali ini jadi anggota DPR RI—di Komisi VI yang antara lain membawahi BUMN.
Kawendra awalnya aktif di tim pemenangan Jokowi-Ahok pada Pilgub Jakarta, lalu masuk tim pemenangan Capres Jokowi. Namun, ketika Jokowi menggandeng Jusuf Kalla, Kawendra memisahkan diri. Ia berpindah menjadi pendukung Prabowo-Sandiaga Uno, lalu aktif di Partai Gerindra sampai sekarang.
Yang tidak banyak orang tahu: Kawendra adalah pencipta lagu yang produktif. Puluhan penyanyi terkemuka pernah menyanyikan lagu ciptaannya. Sebut acak saja salah satu nama penyanyi: hampir pasti pernah menyanyikan lagu ciptaan Kawendra.
Dea Mirella, Dina Mariana, Fahira Malaysia, Ayu Soraya, Ellena (Bexxa), Chintami Atmanagara, Selena Maria, Bugi Satrio, Icha Suny, EG Reyna (penyanyi Meksiko), Ita Purnamasari. Juga Edo Kondologit, Afgan, Endang S. Taurina, Ismi Azis, dan Iis Sugianto.
Belum lagi yang memakai lagu iklannya (jingle): Prabowo, Sandiaga Uno, Mooryati Soedibyo, hingga Yenny Wahid. Begitulah publikasi resmi yang beredar. Saya menghubungi beberapa nama itu, sayangnya mereka tidak ingin dikutip keterangannya.
Pokoknya nama Kawendra akan menjadi bintang baru dalam kancah perpolitikan Indonesia. Tidak akan kalah bersinar dari tokoh seperti Raffi Ahmad dan Kepala BGN Dadan Hindayana. Apalagi jika Presiden Prabowo dianggap sukses sebagai presiden hebat, bintang politik mereka pasti kian cemerlang.
Kawendra sendiri adalah alumnus Universitas Pancasila dengan gelar S-2 dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kiprah awalnya lebih banyak di dunia cipta lagu sebelum menjadi aktivis.
Dua tahun pemerintahan Prabowo bagi orang seperti Kawendra memang penting. Bagi Anda, terserah Anda.
Dua tahun terakhir banyak yang terdengar menjerit, tetapi banyak juga yang bersorak. Lebih banyak lagi yang mengamati dengan waswas. (Dahlan Iskan)




