SEREMONI: Prosesi potong tumpeng dalam Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII FEB UB di Auditorium Lantai 2 Gedung Pandhita Majapahit UB, Senin (19/10/2026). (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
MALANG POST – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya menggelar Peringatan Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII di Malang, Senin (19/10/2026), menghadirkan orasi ilmiah Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, Ph.D., mengenai integrasi kecerdasan manusia dan teknologi.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) merayakan Dies Natalis ke-65 sekaligus Lustrum XIII, Senin (19/10/2026). Perayaan ini menegaskan komitmen institusi dalam mencetak pimpinan masa depan di bidang ekonomi dan bisnis yang berdaya saing global.
Dekan FEB UB, Prof. Abdul Ghofar, S.E., M.Si., M.Acc., DBA., Ak., CA., menyampaikan bahwa FEB UB resmi memperbarui misinya menjadi “To Educate Future Leaders in Business and Economics”.
Momentum peringatan ini diisi dengan orasi ilmiah oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., bertajuk “Creating the Future, Leading Leaders: Integrating Human Intelligence, Technology, and Sustainable Development“.
Dalam sambutannya, Prof. Ghofar memaparkan deretan capaian strategis FEB UB. “Hasil tracer study tahun 2025 menunjukkan tingkat serapan kerja lulusan kami menembus 100 persen dalam rentang waktu maksimal satu tahun setelah kelulusan. Angka ini meningkat signifikan dari capaian 65 persen pada tahun 2024,” jelasnya, Senin (19/10/2026).

Prof. Stella Christie, Ph.D. menjadi narasumber utama dalam Dies Natalis ke-65 FEB UB (Foto: M. Abd. Rachman Rozzi/Malang Post)
Capaian ini disokong oleh program strategis seperti magang industri minimal satu semester, kelas three-in-one yang melibatkan praktisi, serta perluasan kemitraan dengan korporasi nasional maupun multinasional.
Di bidang akademik internasional, FEB UB berhasil menembus pemeringkatan QS World University Rankings by Subject 2024 untuk subjek Economics and Econometrics (peringkat 451–500), Finance and Accounting (peringkat 301–375), serta Business and Management (peringkat 451–500).
Selain itu, publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi Scopus Q1 dan Q2 melonjak 97 persen dalam tiga tahun terakhir, diiringi produktivitas mahasiswa yang menghasilkan 275 karya terdaftar Hak Cipta.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Stella Christie, Ph.D., pakar ilmu kognitif (cognitive science), menyoroti urgensi integrasi antara kecerdasan manusia, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak dapat sepenuhnya menggeser peran fundamental manusia, terutama dalam hal penalaran kritis dan pengambilan keputusan (judgment).
”Manusia memiliki keunggulan kognitif untuk belajar dari data terbatas (small data), sedangkan AI mengandalkan data besar (big data). Oleh karena itu, eskalasi teknologi harus diimbangi dengan penguatan berpikir kritis dan kemandirian intelektual di perguruan tinggi,” urai Prof. Stella.

Prof. Stella juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk bertransformasi dari teaching university menjadi research university guna memperkuat kemandirian inovasi nasional dan menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).
Ia menggarisbawahi tiga pilar utama pengembangan pengetahuan di perguruan tinggi, yaitu penciptaan pengetahuan (creation of knowledge), penyebaran pengetahuan (transmission of knowledge), dan kurasi pengetahuan (curation of knowledge).
”Masa depan yang berkelanjutan membutuhkan ekosistem riset yang kokoh, didukung sinergi antara kompetisi sehat dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Integrasi riset dengan kebutuhan industri, kebijakan pemerintah, serta hilirisasi produk sains menjadi kunci dalam mendorong inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wamendiktisaintek menekankan tiga fondasi mendasar dalam menyikapi pesatnya perkembangan AI di dunia pendidikan:
- Memahami Keunggulan Kognitif Manusia: Kapasitas berpikir kritis dan daya naluriah harus terus diasah.
- Memperkuat Research Mindset: Perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada hasil instan instrumen AI, melainkan wajib membekali mahasiswa dengan kemampuan merumuskan pertanyaan riset, membangun argumentasi, serta mengevaluasi luaran AI.
- Menempatkan AI sebagai Alat Bantu: Teknologi berfungsi sebagai instrumen pembantu (assistive tool), bukan penentu arah penalaran manusia.
Perayaan Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII FEB UB ini menjadi pijakan refleksi atas pencapaian akademik sekaligus penguatan peran perguruan tinggi dalam merespons tantangan masa depan melalui peningkatan mutu pendidikan, riset terapan, dan pemanfaatan teknologi secara kritis. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




