MALANG POST – Siswa bisa memilih makanan yang disukai dan mengambil sesuai kebutuhan. Pola penyajian ini menjadi pembeda dalam uji coba program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SMP Negeri 1 Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (16/10/2026).
Model tersebut diuji sebagai salah satu upaya mengurangi makanan terbuang sekaligus meningkatkan penerimaan siswa terhadap menu yang disajikan. Berbeda dengan pembagian makanan dalam porsi yang sudah ditentukan, sistem prasmanan memberi kesempatan kepada siswa melihat menu sebelum mengambilnya.
SMPN 1 Kepanjen menjadi salah satu dari 60 lokasi di Indonesia yang menjalankan uji coba tersebut. Program percontohan ini direncanakan berlangsung selama dua pekan untuk mengevaluasi efektivitas pelayanan MBG, mulai dari kualitas makanan hingga respons siswa.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Chusni Mubarok, mengatakan pengujian dilakukan untuk melihat kelebihan dan kekurangan sistem prasmanan sebelum menentukan langkah berikutnya.
“Selama dua minggu, rencana pilot project pelayanan MBG dengan prasmanan dilakukan. Di SMP Negeri 1 Kepanjen ini menjadi salah satu titik uji coba dari 60 titik yang diselenggarakan di Indonesia,” kata Chusni.
Menurutnya, sistem serupa juga diterapkan pada sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bekerja sama dengan mitra Polri.
Suhu Makanan dan Variasi Menu Jadi Evaluasi
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam uji coba adalah kondisi makanan ketika sampai di sekolah dan disajikan kepada siswa. Chusni menyebut proses pengolahan hingga penyajian dirancang untuk menjaga suhu makanan tetap hangat.
“Hasil evaluasinya yang pertama, dengan proses ini, banyak siswa yang merasa makanan lebih fresh. Makanan lebih enak, ya karena memang dari pengolahan dipertahankan rantai panasnya, food chain, terus kemudian dibawa ke dapur sekolah, di sini juga disiapkan, sehingga suhunya tetap terjaga,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Chusni Mubarok saat diwawancara awak media. (Foto: Suseno/Malang Post)
Ia menyebut suhu makanan dijaga sekitar 60 derajat Celsius. Pengendalian suhu menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung keamanan pangan, meski penerapannya tetap perlu disertai prosedur penanganan dan penyajian yang sesuai.
Selain suhu, Chusni mengingatkan pentingnya memperhatikan kandungan gizi dan variasi menu. Menurutnya, sistem penyajian yang lebih fleksibel harus tetap memenuhi tujuan utama MBG, yakni mendukung pemenuhan gizi penerima manfaat.
“Nah, jadi lebih ke menu, variasi menu, inovasi menu, dan juga gizi harus tetap diperhatikan,” tegasnya.
Siswa Bisa Mengambil Sesuai Kebutuhan
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Alayk Mubarrok, menilai sistem prasmanan memberi pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka dapat melihat makanan yang tersedia dan menentukan pilihan sebelum mengambilnya.
“MBG yang diberikan dengan prasmanan, makanannya tentu lebih fresh, hangat, dan juga anak-anak bisa mengambil langsung dari wadah penyajian,” kata Alayk.
Ia mengatakan kesempatan memilih makanan membuat siswa lebih mengenali menu yang diminati. Cara tersebut diharapkan meningkatkan ketertarikan mereka untuk mengonsumsi makanan yang tersedia.
“Jadi, mereka tadi suka. Terutama adalah makanannya fresh dan bisa tahu yang mereka minati,” lanjutnya.
Dari sisi sekolah, mekanisme ini juga dinilai berpotensi mengurangi makanan yang tidak dikonsumsi. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Nurul Sri Utami, mengatakan berdasarkan pengamatannya selama uji coba, siswa menghabiskan makanan yang diambil.
“Kami tentu berterima kasih pelaksanaan MBG prasmanan ini. Karena apa? Ini bisa mencegah pemborosan, dan anak-anak tadi semua makannya habis, tidak ada yang tersisa. Itu yang kami lihat. Dan, anak-anak menyukainya,” ungkap Nurul.
Ia berharap sistem tersebut dapat dipertimbangkan untuk diterapkan lebih luas apabila hasil evaluasi menunjukkan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan pelaksanaan program.
Menurut Nurul, keleluasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan menjadi salah satu keunggulan prasmanan. Siswa yang tidak menyukai menu tertentu dapat memilih makanan lain yang tersedia, sehingga potensi makanan terbuang diharapkan berkurang.
“Harus (siap), ya. Anak-anak lebih suka, disampaikan mereka tadi lebih enak dalam prasmanan, karena hangat. Terus anak-anak bisa mengambil secukupnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pilihan tersebut berbeda dari mekanisme pembagian porsi yang sudah ditentukan, ketika siswa bisa saja tidak mengonsumsi sebagian makanan yang diterima.
“Kalau biasanya anak-anak yang nggak suka kan dibuang. Di sini tadi anak-anak misalnya enggak suka, kan bisa milah yang dia suka saja. Menurut saya, mereka lebih suka prasmanan,” pungkasnya.
Dievaluasi Selama Dua Pekan
Dalam uji coba di SMPN 1 Kepanjen, makanan disiapkan SPPG Jatirejoyo 3 Kepanjen, kemudian disajikan agar siswa dapat mengambilnya secara langsung.
Pelaksanaan kegiatan turut dipantau anggota DPR RI Fraksi Gerindra H. Ma’ruf Mubarok atau Gus Mamak, Chusni Mubarok, Alayk Mubarrok, Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Zia Ulhaq, serta jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.
Uji coba selama dua pekan ini menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas sistem prasmanan dalam pelaksanaan MBG. Aspek yang perlu dicermati meliputi kualitas dan keamanan makanan, pemenuhan gizi, variasi menu, penerimaan siswa, serta jumlah makanan yang tersisa.
Hasil evaluasi diharapkan memberikan gambaran lebih utuh mengenai kelebihan dan tantangan sistem prasmanan, sehingga perbaikan program MBG dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kondisi pelaksanaan di sekolah. (Suseno/Ra Indrata)




