Kepala Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Ariv Iskandar Fatoni. (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
MALANG POST – Gotong royong warga, menjadi modal utama Karnaval Budaya Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Untuk menggelar pesta rakyat pada Sabtu (17/10/2026), perputaran dana kegiatan tersebut diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
Angka itu mencakup berbagai kebutuhan karnaval, mulai dari pembuatan miniatur berukuran besar, penyewaan kostum adat, hingga penggunaan perangkat tata suara atau sound system berdaya besar yang dikenal sebagai sound horeg.
Kepala Desa Kedungbanteng, Ariv Iskandar Fatoni, yang juga menjadi penanggung jawab kegiatan, mengatakan perkiraan perputaran dana tersebut berasal dari partisipasi masyarakat dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan karnaval budaya.
“Persewaan sound di salah satu dusun ada yang senilai hingga Rp50 juta per kelompok peserta,” terang Ariv, Jumat (16/10/2026).
Besarnya anggaran yang beredar menunjukkan skala penyelenggaraan karnaval yang melibatkan banyak kelompok masyarakat. Namun, angka Rp1 miliar tersebut merupakan perkiraan perputaran dana kegiatan, bukan semata-mata biaya yang dikeluarkan panitia desa.
39 Klub Siap Tampil
Karnaval mengusung tema Enjoy Carnival Kedungbanteng dengan motto Kedungbanteng Bangkit dan Berdaya. Sebanyak 39 klub dijadwalkan ambil bagian, mewakili warga dari seluruh pedukuhan serta lembaga yang ada di desa berpenduduk sekitar 7.400 jiwa tersebut.
Persiapan dilakukan secara bersama-sama. Pembiayaan kepanitiaan di tingkat desa juga mengandalkan iuran warga yang telah disepakati melalui musyawarah.
Menurut Ariv, pelaksanaan karnaval setiap dua tahun sekali merupakan hasil kesepakatan bersama para ketua RT, ketua RW, dan tokoh masyarakat. Kesepakatan tersebut menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan partisipasi warga dalam jumlah besar.
“Semua itu sudah tertuang dalam kesepakatan musyawarah bersama para ketua RT, ketua RW, dan tokoh masyarakat, bahwasanya karnaval di Desa Kedungbanteng ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali,” tegasnya.
Pemerintah Desa Kedungbanteng juga akan ikut memeriahkan acara dengan mengenakan busana budaya. Ariv mengatakan, keterlibatan perangkat desa diharapkan membuat mereka lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari perayaan kebudayaan setempat.
Bebas Berkreasi, Tetap Tertib
Ariv menyebut karnaval ini sebagai ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan potensi yang dimiliki. Karena berorientasi pada budaya, peserta diberi keleluasaan untuk mengekspresikan diri tanpa terlalu banyak pembatasan, selama tetap menjaga ketertiban.
Ia mengimbau seluruh peserta mengikuti arahan panitia dan menjaga suasana agar kegiatan berlangsung aman serta tidak mengganggu kebersamaan warga.
“Mari bersama-sama kita wujudkan Desa Kedungbanteng ini bangkit, berdaya, dan mengekspresikan segala yang dimiliki masyarakat. Kita ingin membaur, bersatu dalam budaya agar masyarakat tetap guyub, rukun, dan tertib sampai ke depan,” sebutnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari tingkat dusun. Kepala Dusun Pondok Klabang, Sukarmin, mengatakan warganya telah bersiap mengikuti karnaval dengan melibatkan masyarakat dari 10 RT.
“Peserta karnaval dari Dusun Pondok Klabang terdiri dari 10 RT atau sekitar 490 KK. Dalam pelaksanaan nanti, kita mengikuti arahan dari ketua panitia. Kami bersama seluruh warga Dusun Pondok Klabang sangat mendukung kegiatan ini,” ujar Ariv.
Karnaval Kedungbanteng pun menjadi agenda yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan kreativitas, partisipasi, dan semangat gotong royong masyarakat.
Melalui kegiatan yang digelar dua tahun sekali tersebut, warga diharapkan dapat merawat kebersamaan sekaligus menampilkan kekayaan budaya desa. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




