MALANG POST – Ratusan warga di kawasan Malang Selatan mengantre panjang di SPBU 54.651.84 Sumakul, Desa Sumakul, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Rabu (14/10/2026), akibat kelangkaan pasokan BBM jenis Pertalite serta kekosongan stok Pertamax 92 selama tiga hari berturut-turut.
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite bersubsidi dan kekosongan pasokan Pertamax 92, kembali melumpuhkan aktivitas warga di wilayah Malang Selatan.
Sejak tiga hari terakhir, SPBU 54.651.84 Sumakul yang berlokasi di Desa Sumakul, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, terpantau dipadati antrean panjang kendaraan bermotor sejak pagi hingga sore hari.
Berdasarkan pemantauan Malang Post di lokasi, Rabu (14/10/2026), antrean kendaraan roda dua dan roda empat telah mengular sejak pukul 06.00 WIB. Warga rela mengantre berjam-jam hanya demi mendapatkan Pertalite, yang pasokannya kini dibatasi (dijatah) sebanyak 8.000 liter per hari oleh pihak pengelola.
Manajer SPBU 54.651.84 Sumakul, Lilis Wulandari, membenarkan, stok Pertamax 92 telah mengalami kekosongan total selama tiga hari terakhir, akibat ketiadaan pengiriman armada tangki dari pihak PT Pertamina Patra Niaga.
“Sudah tiga hari pasokan Pertamax 92 kosong. Kami masih terus menunggu pengiriman armada tangki, namun hingga kini pasokan belum juga turun,” ujar Lilis, Rabu (14/10/2026).

LANGKA?: Suasana antrean panjang di SPBU 54.651.84 Sumakul, Desa Sumakul, Kecamatan Pagak, Malang Selatan, Rabu (14/10/2026). (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
Sementara untuk komoditas Pertalite, pengelola terpaksa memberlakukan pembatasan nominal pembelian. Pembelian untuk kendaraan roda dua dibatasi maksimal Rp50.000 per unit, sedangkan kendaraan roda empat dibatasi maksimal Rp200.000 per unit.
“Langkah pembatasan kuota ini kami ambil sebagai upaya darurat agar ketersediaan Pertalite dapat terdistribusi secara merata kepada seluruh masyarakat,” jelas Lilis.
Pemilik SPBU 54.651.84 Sumakul, Rudi Efendi, menambahkan bahwa hanya BBM jenis Biosolar yang distribusinya masih berjalan lancar tanpa hambatan.
“Pasokan Biosolar relatif aman, stok normal dan tidak diberlakukan pembatasan. Kendala teknis keterlambatan pengiriman murni terjadi pada Pertalite dan Pertamax 92,” terangnya.
Salah seorang warga setempat, Isa (42), mengaku sangat terbebani oleh situasi krisis energi di wilayahnya. Ia mengeluhkan ketiadaan Pertalite yang memaksanya harus mengeluarkan pengeluaran ekstra.
“Kami sangat membutuhkan Pertalite karena harganya terjangkau subsidi. Kalau Pertalite kosong terus, kami terpaksa membeli Pertamax 92, padahal harganya mahal dan ekonomi kami tidak sanggup,” keluhnya di tengah antrean.
Keluhan serupa dilontarkan oleh seorang siswi, Dian (17), yang terpaksa terlambat tiba di sekolah lantaran tertahan dalam antrean panjang BBM. “Saya sudah ikut antre dari jam enam pagi, tetapi sampai jam delapan belum dapat giliran isi. Akibatnya saya terlambat masuk sekolah,” tuturnya.
Masyarakat Malang Selatan kini mendesak PT Pertamina Patra Niaga untuk memulihkan dan memperlancar skema distribusi BBM ke wilayah pinggiran agar mobilitas dan aktivitas perekonomian warga tidak lumpuh secara berkelanjutan. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




