WAKIL RAKYAT: Anggota DPRD kabupaten Malang dari Fraksi PKB, Abdulloh Satar (baju Abi Abi memakai topi) berbincang dengan Plt Kepala Dinas PU Sumber Daya Air, Yudi Hindharto dan Forkopimcam Singosari di lokasi normalisasi Sungai Klampok. (Foto: Suseno/Malang Post)
MALANG POST – Ruang aliran air yang tersisa hanya sekitar 30–40 sentimeter. Sedimentasi bertahun-tahun menyumbat Saluran Irigasi Klampok III di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dampaknya, pasokan air untuk sekitar 180 hektare sawah di Desa Watugede dan Desa Tamanharjo terancam terganggu.
Kondisi tersebut mendorong percepatan normalisasi saluran pada Selasa (13/10/2026). Pembersihan dilakukan di kawasan selatan Pasar Singosari, tepatnya di bawah jalur utama Surabaya–Malang, dengan melibatkan petani, Dinas PU Sumber Daya Air (SDA), dan Pemerintah Kecamatan Singosari.
Anggota DPRD Kabupaten Malang sekaligus Ketua Fraksi PKB, Abdulloh Satar, mengatakan normalisasi dilakukan untuk memulihkan aliran irigasi yang selama ini dikeluhkan petani. Warga dari dua desa bahkan terlibat langsung dalam proses pembersihan endapan yang menghambat aliran air.
“Pagi ini saya bersama Plt Kepala Dinas SDA dan Camat Singosari memimpin langsung pelaksanaan normalisasi sungai yang sudah lama dikeluhkan warga. Ini untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah petani di dua desa yang mencapai sekitar 180 hektare,” ujar Abdulloh Satar.
Menurut Satar, sedimentasi di bawah jembatan jalur Surabaya–Malang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Proses pembersihan tidak mudah karena bagian saluran tersebut sebelumnya tertutup konstruksi beton dan deretan 24 kios.
Ruang Aliran Menyusut Drastis
Pembersihan dilakukan secara manual dan menggunakan alat berat. Petani membantu menarik endapan dari bagian bawah jembatan, kemudian material diangkat menggunakan alat berat dan dimasukkan ke truk jungkit untuk dibawa keluar dari lokasi.
Endapan yang telah lama menumpuk menjadi tantangan tersendiri. Material pasir dan tanah mengeras serta bercampur dengan berbagai jenis sampah.
“Sedimentasinya sudah menggumpal dan memadat. Dulu ketinggian aliran mencapai lebih dari satu meter, sekarang ruang alirnya tinggal sekitar 30 sentimeter. Kondisi ini jelas mengganggu suplai air ke sawah,” tegas Satar.

ALL OUT: Alat berat dikerahkan untuk menormalisasi aliran air di Sungai Klampok Singosari. (Foto: Suseno/Malang Post)
Pelaksana Tugas Kepala Dinas PU Sumber Daya Air Kabupaten Malang, Yudi Hindharto, menjelaskan Saluran Irigasi Klampok III berada di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, dengan lebar sekitar lima meter.
Namun, lebar saluran tidak serta-merta menjamin kelancaran aliran. Pada bagian yang berada di bawah jalan raya Singosari, tumpukan sedimentasi membuat ruang aliran air menyempit.
“Karena banyaknya sedimen di Saluran Klampok III di bawah jalan raya Singosari, dari tinggi gorong-gorong yang seharusnya mampu mengalirkan air, sekarang tinggal sekitar 40 sentimeter,” jelas Yudi.
Sampah Bercampur dengan Endapan
Selain pasir dan tanah, petugas menemukan sampah yang ikut menumpuk di dalam saluran. Material yang ditemukan antara lain plastik dan kain bekas, termasuk kain dari kasur serta bantal.
“Sampah plastik juga ada, termasuk kain-kain bekas kasur dan bantal. Semuanya tercampur dengan pasir dan tanah sehingga menyulitkan proses pembersihan saluran di bawah jalan raya,” ungkapnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan saluran irigasi bukan hanya sedimentasi, tetapi juga sampah yang masuk dan menumpuk di jalur aliran air. Kondisi ini memperberat pekerjaan normalisasi, terutama pada bagian saluran yang sulit dijangkau.
Yudi menegaskan, normalisasi Klampok III merupakan bagian dari upaya Dinas PU SDA untuk memenuhi kebutuhan air irigasi bagi lahan pertanian di Desa Watugede dan Desa Tamanharjo.
Permintaan penanganan sebelumnya disampaikan petani dari kedua desa bersama Abdulloh Satar. Pasokan air menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan kegiatan pertanian di lahan seluas sekitar 180 hektare tersebut.
Melalui normalisasi, kapasitas aliran diharapkan kembali meningkat sehingga distribusi air menuju lahan pertanian lebih lancar. Langkah ini menjadi penting untuk mengurangi risiko terganggunya pasokan air dan ancaman kekeringan bagi petani di wilayah Singosari. (Suseno/Ra Indrata)




