MALANG POST – Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, memaparkan fondasi strategis integrasi potensi desa dan kota menuju konsep Malang Raya Megapolitan saat menjadi dosen praktisi bagi mahasiswa Program Doktor Universitas Brawijaya di Malang, Selasa (13/10/2026), guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi kawasan berkelanjutan.
Membangun Malang Raya menuju kawasan megapolitan masa depan bukan sekadar urusan memperluas bentang perkotaan, mengonstruksi infrastruktur fisik, maupun menyambungkan keterhubungan antardaerah. Lebih jauh dari itu, transformasi aglomerasi kawasan membutuhkan integrasi simbiotik antara potensi desa dan kota agar laju pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Perspektif strategis tersebut ditegaskan oleh Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, saat hadir sebagai dosen praktisi guest lecture, Selasa (13/10/2026).
Di hadapan jajaran mahasiswa Program Doktor (S-3) Departemen Ilmu Pertanian, Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya (UB), Asep menguraikan fondasi dan pilar utama menuju Malang Raya Megapolitan. Ia menggarisbawahi krusialnya membangun keterhubungan organik antara pusat ekonomi perkotaan dan kekuatan produksi perdesaan.
Menurut Asep, kawasan Malang Raya dianugerahi karakter kewilayahan komplementer yang saling melengkapi. Kota Malang bertindak sebagai pusat keunggulan pendidikan tinggi, jasa, perdagangan, dan ekosistem ekonomi kreatif. Kota Batu memegang kekuatan pada sektor pariwisata terpadu dan hortikultura, sedangkan Kabupaten Malang membentang luas dengan potensi agribisnis, perkebunan, manufaktur industri, kehutanan, kelautan, dan pariwisata alam.
Kekayaan dan keberagaman tersebut menjadi keunggulan komparatif pembangunan apabila dirajut dalam satu kesatuan ekosistem ekonomi dan tata ruang yang terintegrasi.
“Konsep megapolitan tidak boleh secara sempit dimaknai sebagai sekadar ekspansi kota. Kita wajib membangun keterkaitan saling menguatkan antara desa dan kota. Kota bertindak sebagai pusat inovasi, perdagangan, jasa, dan transfer teknologi; sementara desa menguasai ketahanan pangan, sumber daya alam, dan ekonomi berbasis kearifan lokal. Keduanya harus saling terhubung dan tumbuh sejahtera bersama,” terang Asep, Selasa (13/10/2026).
Arah pembangunan wilayah Pulau Jawa dalam kerangka pembangunan nasional mengarahkan terwujudnya megalopolis yang unggul, inovatif, inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dalam konteks Malang Raya, visi besar tersebut menuntut pendekatan yang tidak berhenti pada konektivitas fisik jalan Tol Pandaan–Malang atau Jalur Lintas Selatan (JLS), melainkan integrasi rantai pasok ekonomi, modal manusia (human capital), adopsi teknologi, dan kepastian pasar.

Di sinilah kawasan pedesaan memegang posisi strategis. Desa tidak boleh lagi ditempatkan secara pasif sebagai wilayah penyangga (buffer zone) penyedia bahan mentah bagi perkotaan. Desa wajib diperkuat sebagai pusat produksi modern, inovasi lokal, kewirausahaan warga, serta penciptaan nilai tambah (value added).
Sektor unggulan pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan perlu disambungkan secara presisi dengan teknologi tepat guna, akses pembiayaan perbankan, jaringan distribusi efisien, industri pengolahan downstreaming, serta pasar nasional maupun ekspor. Dengan demikian, komoditas desa tidak lagi dijual dalam bentuk mentah (raw material), melainkan menjelma sebagai produk Olahan bernilai ekonomi tinggi.
Dukungan keberadaan 67 perguruan tinggi di Malang Raya membuka ruang kolaborasi luas dalam riset terapan, digitalisasi UMKM, serta komersialisasi produk lokal. Hasil penelitian kampus harus hadir sebagai instrumen pendorong produktivitas warga desa.
Asep menambahkan, transformasi ini akan merajut hubungan yang lebih setara (equal) antara desa dan kota, menjadikan desa sebagai mitra sejajar dalam ekosistem megapolitan.
Optimalisasi Green Economy dan Blue Economy
Karakter geografis Malang Raya yang mencakup lanskap pegunungan, dataran tinggi, hingga garis pantai pesisir selatan memberikan peluang emas pengembangan ekonomi berbasis kelestarian lingkungan.
Pada pilar ekonomi hijau (green economy), penguatan pertanian organik berkelanjutan, komoditas kopi robusta, hortikultura, konservasi mata air, dan pengelolaan ekologis menjadi fondasi utama. Komoditas unggulan seperti apel, jeruk siam, alpukat, pisang, durian, serta tebu berpotensi dikembangkan melalui pengolahan hilirisasi dan pemanduan jenama (branding).
Sementara pada pilar ekonomi biru (blue economy), kawasan pesisir selatan Jawa Timur memegang potensi besar lewat perikanan tangkap modern, industri pengolahan hasil laut, budi daya bahari, dan pariwisata pesisir yang menjunjung keberlanjutan ekosistem laut.
“Potensi lokal desa harus dikonversi menjadi kekuatan ekonomi riil. Pertanian terhubung dengan industri, perkebunan menghasilkan nilai tambah, dan sektor kelautan dikelola secara lestari. Dengan begitu, warga desa bertindak sebagai pelaku utama pembangunan,” tegas Asep.
Pembangunan sarana infrastruktur seperti JLS dan jaringan tol menjadi pemantik aksesibilitas. Namun, manfaatnya baru akan maksimal apabila diselaraskan dengan kesiapan desa dalam mengemas produk unggulan, menguatkan kapasitas UMKM lokal, dan membangun jaringan kemitraan antardaerah.
Oleh karena itu, pembangunan Malang Raya Megapolitan memerlukan orkestrasi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi perguruan tinggi, pelaku usaha (pentahelix), dan masyarakat.
“Aglomerasi megapolitan yang kita ciptakan bukan sebatas menghubungkan peta wilayah, melainkan merajut keterkaitan potensi agar desa dan kota maju secara berkelanjutan,” pungkas Asep. (Sugeng Irawan)




