MALANG POST – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau masyarakat wilayah Malang Raya untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem pancaroba di Malang, Selasa (13/10/2026), guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi serta lonjakan penderita penyakit infeksi saluran pernapasan hingga demam berdarah.
Memasuki pertengahan Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami masa peralihan (pancaroba) dari musim kemarau menuju musim hujan. Kondisi perubahan cuaca fluktuatif ini wajib diwaspadai oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya di kawasan Malang Raya, seiring dengan potensi perubahan iklim ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dinamika atmosfer selama periode transisi. Kendati intensitas hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah secara sporadis, potensi paparan suhu panas terik masih berpeluang terjadi di beberapa daerah.
Perubahan cuaca mendadak selama masa pancaroba tidak hanya mengganggu kelancaran aktivitas harian masyarakat, melainkan berisiko menurunkan imunitas tubuh sehingga memicu berbagai gangguan kesehatan.
Perubahan suhu udara yang kontras, kelembapan udara tinggi, serta lingkungan yang cenderung basah menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis agen penyakit.
Berikut beberapa poin krusial yang wajib diperhatikan masyarakat selama masa peralihan musim:
1. Suhu Panas Masih Berpotensi Terjadi
Meski telah memasuki masa transisi menuju musim hujan, suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia pada siang hari masih terasa cukup tinggi. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih cermat menjaga kebugaran fisik, terutama saat beraktivitas di luar ruangan (outdoor).

Paparan sinar matahari dan suhu panas berlebih berisiko memicu dehidrasi, kelelahan (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke). Masyarakat dianjurkan mencukupi asupan cairan tubuh, mengenakan pakaian berbahan longgar dan menyerap keringat, serta menguraikan durasi aktivitas berat di bawah terik matahari.
2. Hujan Mulai Muncul di Sejumlah Wilayah
Curah hujan mulai menunjukkan peningkatan bertahap di beberapa wilayah Jawa Timur. Kondisi tersebut menjadi indikator awal dimulainya fase peralihan musim, kendati durasi dan intensitas curah hujan beragam di tiap daerah.
Dinamika cuaca yang cepat berubah dari panas terik ke hujan deras menuntut masyarakat untuk selalu menyiagakan perlengkapan pelindung diri, seperti membawa payung atau jas hujan saat bepergian. Selain itu, kebersihan lingkungan rumah dan kelancaran saluran drainase wajib dijaga agar tidak menimbulkan genangan air.
3. Waspadai Cuaca Ekstrem saat Pancaroba
Masa pancaroba sangat rentan memicu fenomena cuaca ekstrem secara tiba-tiba. Masyarakat diminta mewaspadai potensi hujan lebat berdurasi singkat yang disertai angin kencang (puting beliung), kilat, dan petir, yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir genangan dan pohon tumbang.
Saat hujan lebat disertai petir dan angin kencang melanda, masyarakat diimbau tidak berteduh di bawah pohon rindang, menjauhi papan reklame (baliho), serta menunda aktivitas di ruang terbuka hingga kondisi atmosfer kembali kondusif.
4. Sejumlah Penyakit Rentan Muncul saat Pancaroba
Selain ancaman fisik cuaca, risiko penularan gangguan kesehatan dilaporkan meningkat pesat selama masa peralihan musim. Beberapa penyakit yang patut diwaspadai antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, serta infeksi jamur kulit.
ISPA dan influenza ditandai oleh gejala klinis seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, demam, dan lemas. Perubahan suhu mendadak memicu penurunan daya tahan tubuh sehingga tubuh lebih rentan terpapar infeksi virus maupun bakteri.
Sementara itu, ancaman DBD meningkat seiring bermunculannya genangan air bersih yang menjadi sarang berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mentransmisikan virus dengue melalui gigitannya.
Masyarakat diimbau rutin menerapkan gerakan Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang (3M Plus) penampungan air dan barang bekas di sekitar hunian.
Adapun penyakit diare dapat diantisipasi dengan menjaga higienitas sanitasi tangan, mengonsumsi makanan matang, serta memastikan air minum steril. Sementara gangguan kulit akibat kelembapan tinggi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan pakaian dan kulit.
Masyarakat dianjurkan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat cukup, serta mengonsumsi vitamin penunjang imunitas. Apabila mengalami demam tinggi mendadak, sesak napas, atau gejala klinis yang memburuk, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
5. Pantau Informasi Cuaca dan Jaga Keselamatan
Masyarakat diimbau untuk memantau pembaruan (update) peringatan dini cuaca secara berkala dari kanal resmi BMKG. Kesadaran mandiri menjadi pilar utama keselamatan saat beraktivitas di luar ruangan.
BMKG Jawa Timur menegaskan bahwa antisipasi dini adalah kunci utama dalam meminimalkan dampak kerugian materiil maupun korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi. Melalui sinergi kewaspadaan cuaca, pola hidup sehat, dan kebersihan lingkungan, warga Malang Raya diharapkan dapat menjalankan aktivitas harian secara aman dan produktif. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




