MALANG POST – Penyerang muda berpaspor Nigeria, Oluwasegun Samuel Otusanya, membuktikan kualitasnya sebagai juru gedor masa depan Arema FC, setelah mencetak gol perdana penyeimbang kedudukan 2-2, lewat tandukan tajam saat menjamu Bhayangkara FC pada laga pekan ke-4 Super League 2026/2027 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Sabtu (10/10/2026) sore.
Nama lengkapnya Oluwasegun Samuel Otusanya.
Pemuda 22 tahun kelahiran Nigeria ini, baru didatangkan manajemen Arema FC pada pertengahan bulan, tepatnya 17 Agustus 2026 lalu.
Namun, adaptasi penyerang jangkung ini berjalan sangat kilat, di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Otusanya mencatatkan debut perdananya pada pekan ke-3 Super League 2026/2027, saat Arema FC ditahan imbang 1-1 oleh Persik Kediri.
Kala itu, ia masuk dari bangku cadangan pada menit ke-57 menggantikan Gabriel Silva.
Panggung pembuktian sesungguhnya, baru meledak pada penampilan keduanya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (10/10/2026) sore.
Masuk sebagai pilihan di lini depan, Otusanya sukses mencetak gol perdana bagi Singo Edan pada menit ke-61.
Memanfaatkan umpan lambung presisi Marcos Vinicius dari skema bola mati, tandukan kepala keras Otusanya menghujam deras ke gawang Bhayangkara FC.
Gol tersebut menyamakan kedudukan menjadi 2-2, sekaligus menghindarkan Arema FC dari kekalahan di kandang sendiri.
Posisinya kemudian digantikan oleh juru gedor anyar Mauro Nils Zijlstra pada menit ke-80.
Resep Perubahan di Ruang Ganti
Ditemui usai pertandingan, Otusanya membeberkan dinamika ruang ganti saat Arema FC harus tertinggal dua gol terlebih dahulu pada babak pertama.
Menurutnya, tim memulai pertandingan dengan sangat kuat pada 15 menit awal, sebelum akhirnya kehilangan fokus, akibat rapuhnya lini tengah pasca-absennya Alfreandra Dewangga dan Betinho Filho.
Namun, instruksi keras dari pelatih kepala Marcos Santos saat jeda babak pertama, menjadi titik balik kebangkitan tim.
“Di ruang ganti, pelatih melakukan penyesuaian. Tetapi yang terpenting bukan cuma soal siapa pemain yang diganti, melainkan perubahan sikap dan perilaku seluruh tim. Sikap kami di babak kedua benar-benar berbeda,” ungkap Otusanya.
Penyerang Nigeria ini menegaskan, hasil imbang 2-2 tersebut memamerkan karakter asli Arema FC yang pantang menyerah.
Bangkit dari ketertinggalan dua gol melawan tim bertabur bintang sekelas Bhayangkara FC, merupakan bukti tingginya kegigihan seluruh pilar Singo Edan.
“Tentu kami menginginkan kemenangan penuh. Tetapi tambahan satu poin ini sangat berharga untuk posisi kami di klasemen. Kami membuktikan kepada semua orang bahwa Arema tidak pernah menyerah,” tegasnya.
Rasakan Magis Kanjuruhan dan Kerja Kolektif
Menghadapi barisan pertahanan Bhayangkara FC, yang diisi bek-bek berpostur jangkung dan kukuh diakuinya bukan pekerjaan mudah.
Sebagai juru gedor, tugas utamanya adalah terus bergerak mencari celah terkecil di jantung pertahanan lawan.
Keberhasilannya mencetak gol perdana di hadapan belasan ribu Aremania yang memenuhi tribun Kanjuruhan memberikan kesan emosional yang amat mendalam.
Meski demikian, Otusanya enggan jemawa dan menolak disebut sebagai pahlawan tunggal.
“Mencetak gol pertama di stadion ini, di hadapan para pendukung adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Namun di tim ini tidak ada istilah individu. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim Arema FC,” urai sang penyerang.
Menatap laga-laga berikutnya di Super League 2026/2027, Otusanya menolak berspekulasi terlalu jauh mengenai target pribadi jumlah gol.
Fokus utamanya saat ini adalah terus mengasah ketajaman di sesi latihan agar mampu kembali menyumbang kemenangan bagi Arema FC. (Ra Indrata)




