MALANG POST – Pakar Manajemen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) bersama Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengupas tuntas fenomena downgrade karier dan pergeseran prioritas kerja Generasi Z dalam diskusi Idjen Talk di Radio City Guide FM, Sabtu (10/10/2026).
Fenomena downgrade karier dan penurunan gaya hidup pekerja perkotaan kini bukan lagi cerita aneh.
Dalam dialog Idjen Talk di Radio City Guide FM pada Sabtu (10/10/2026), Dosen Pascasarjana Manajemen Unikama, Dianawati Suryaningtyas, membeberkan dua pemicu utamanya: tekanan ekonomi atau pilihan sadar meraih keseimbangan hidup (work-life balance).
Sebagian pekerja terpaksa menerima posisi dan gaji lebih rendah demi bertahan hidup pasca-PHK.
Namun sebagian lainnya sengaja memilih melipir turun jabatan agar memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.
“Perubahan ini harus dilihat dari alasan di baliknya. Ada yang terpaksa beradaptasi, ada pula yang menjadikannya strategi hidup,” jelas Dianawati.
Penjelasan tersebut dikuatkan oleh Dosen Psikologi UMM, Djudiyah.
Menurut Djudiyah, Generasi Z kini tidak lagi mengukur kesuksesan semata-mata dari tingginya jabatan atau tebalnya kantong.
Anak-anak muda butuh ruang untuk berkembang dan mengejar minat di luar jam kantor.
Beban kerja berlebih akibat perusahaan tidak mengganti karyawan keluar menjadi pemicu utama stres dan pengunduran diri.
“Pekerjaan bagi banyak orang adalah identitas dan harga diri. Kehilangan pekerjaan secara paksa bisa memicu depresi. Sebaliknya, turun jabatan atas keinginan sendiri tidak memicu dampak psikologis serupa,” urai Djudiyah.
Fenomena pekerja beralih menjadi wirausaha juga dipandang Dianawati bukan sebagai bentuk penurunan kelas.
Keputusan membuka usaha sendiri merupakan pilihan strategi hidup mandiri meski menuntut mental yang tangguh.
Merespons pergeseran ini, dunia industri dituntut membuang struktur birokrasi kaku yang terlampau panjang.
Perusahaan perlu beradaptasi menerapkan organisasi yang lebih datar (flat organization) agar mampu merangkul karakter tenaga kerja masa kini. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




