PIMPINAN: Kepala SD Anak Sholeh Full Day, Adelianne Kirana, S.Pd., Gr., berfoto di depan Masjid Pendidikan Anak Sholeh, School Religious Culture, Desa Sitiarjo, Selasa (29/9/2026). (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
MALANG POST – Pendidikan tidak selalu dimulai dari target besar. Di SD Anak Sholeh Full Day, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, pembentukan karakter justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Sekolah swasta berbasis agama di bawah naungan Yayasan Pesantren Cinta Al-Qur’an itu terus berkembang dengan membawa satu misi: memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus harapan masyarakat.
Yayasan tersebut menaungi jenjang pendidikan mulai Kelompok Bermain (KB), TK, SD hingga SMP. Di tingkat SD, saat ini terdapat 213 siswa yang didampingi 16 tenaga pendidik.
Untuk mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, SD Anak Sholeh menerapkan empat program unggulan. Seluruhnya dikemas melalui metode pembelajaran yang menyenangkan agar siswa berkembang secara seimbang, baik dari sisi spiritual, akademik, sosial maupun minat dan bakat.
Kepala SD Anak Sholeh, Adelianne Kirana, S.Pd., Gr., mengatakan program tersebut disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang mampu membentuk anak berprestasi sekaligus memiliki karakter.
“Saya jadikan lembaga ini sesuai impian dan kebutuhan masyarakat. Kami akan selalu memberikan pendidikan terbaik untuk putra-putri mereka dalam berbagai bidang, terutama bidang spiritual,” ujar Adelianne, Selasa (29/9/2026).
Membangun Karakter dari Pendidikan Spiritual
Program pertama adalah Program Spiritual. Fokusnya pada pembinaan ibadah sekaligus kepedulian sosial.
Salah satu bentuk kegiatannya adalah Sedekah Jumat. Melalui kegiatan tersebut, siswa dibiasakan menyisihkan sebagian yang dimiliki untuk membantu teman yang sedang sakit maupun masyarakat yang terdampak bencana.

Menurut sekolah, pembiasaan tersebut penting untuk menanamkan pendidikan karakter sejak usia dini. Anak tidak hanya diajak memahami nilai agama secara teori, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Program kedua adalah Sukses Akademik. Pembelajaran dirancang secara interaktif dan terpadu, mulai dari aktivitas keseharian siswa hingga persiapan menghadapi evaluasi nasional.
Tujuannya meningkatkan kemampuan akademik sekaligus nonakademik secara optimal. Dengan metode pembelajaran yang dibuat lebih menyenangkan, siswa diharapkan tidak melihat belajar sebagai beban.
Prestasi Sosial Dimulai dari Hal Sederhana
Program ketiga adalah Sukses Prestasi Sosial (Humanistik). Program ini menitikberatkan pada nilai kemanusiaan, kasih sayang, serta kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.
Penerapannya tidak selalu dalam bentuk kegiatan besar. Siswa dibiasakan melakukan tindakan sederhana, seperti memberi makan kucing dan menyiram tanaman.
Dari kebiasaan kecil tersebut, sekolah berupaya menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab. Anak diajak memahami bahwa lingkungan sekitar juga membutuhkan perhatian.
Menariknya, pembentukan karakter ketertiban dan kejujuran juga dilakukan melalui hal yang sangat dekat dengan kehidupan siswa, yakni sandal.
Adelianne mencontohkan, sandal para siswa di salah satu kelas tidak pernah tertukar meskipun memiliki warna yang sama. Bagi sekolah, hal itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana anak belajar mengenali barang miliknya sekaligus menghargai kepunyaan orang lain.
“Hal besar dalam kehidupan bermasyarakat selalu dimulai dari kebiasaan kecil,” terang Adelianne.
Minat dan Bakat Dikembangkan Setiap Pekan
Program keempat adalah Pengembangan Minat dan Bakat. Sekolah menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis dan Sabtu.
Seluruh siswa kelas 1 hingga 6 wajib mengikuti kegiatan tersebut. Khusus Pramuka, kegiatan wajib dilaksanakan pada Sabtu bagi siswa kelas penggalang, yakni kelas 4, 5 dan 6.
Sementara siswa kelas 1, 2 dan 3 mengikuti kegiatan Pramuka pada Jumat.
Melalui rangkaian program tersebut, SD Anak Sholeh berupaya membangun pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik. Sekolah ingin siswa memiliki fondasi spiritual, kemampuan belajar, kepedulian sosial serta ruang untuk mengembangkan potensi masing-masing.
Bagi sekolah, prestasi bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh. Prestasi juga terlihat dari bagaimana seorang anak mampu menjalani keseharian dengan tertib, jujur, peduli dan bertanggung jawab.
Dari Sitiarjo, pola pendidikan itu terus dibangun melalui kebiasaan sederhana. Sebab, karakter besar yang diharapkan tumbuh ketika anak dewasa, sering kali berawal dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten sejak bangku sekolah dasar. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




