MALANG POST — Tradisi bukan sekadar ritual yang berulang setiap tahun. Di pesisir Sendangbiru, tradisi juga menjadi cara nelayan mengingat asal-usul, mensyukuri rezeki, sekaligus mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.
Semangat itulah yang kembali terasa, dalam Petik Laut Sendangbiru ke-56 yang digelar di Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, Minggu (27/9/2026) pagi.
Tahun ini, tradisi syukuran nelayan tersebut mengusung tema: “Nelayan Merawat Tradisi Untuk Generasi”.
Selain menjadi ungkapan syukur atas limpahan hasil laut, Petik Laut juga menjadi bagian dari upaya masyarakat pesisir, mempertahankan tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Suasana acara berlangsung khidmat sekaligus meriah. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Malang dan stakeholder kelautan, turut hadir bersama ratusan warga masyarakat pesisir Sendangbiru.
Hadir di antaranya anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Partai Gerindra, H. Rahmat Kartala; Kapolres Malang, AKBP Rulian Syauri, S.H., S.I.K.; Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang Nurcahyo, S.H., M.Hum.
Juga hadir Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, Muspika Sumawe, Kepala Desa Tambakrejo Agus Harianto, Kepala UPT PPP Pondok Dadap, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, serta Ketua Panitia Petik Laut 2026, Suriansyah.
Panitia Buka Transparansi Keuangan

LENGKAP: Jajaran Forkopimda, Muspika Sumawe, dan stakeholder kelautan, saat mengikuti prosesi pembukaan tradisi tahunan nelayan di Sendangbiru. (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Petik Laut 2026, Suriansyah, menyampaikan laporan keuangan kegiatan secara terbuka di hadapan tamu undangan dan masyarakat.
Ia menyebut, total pemasukan dari seluruh stakeholder mencapai Rp540.825.000. Sementara total pengeluaran tercatat Rp548.275.000.
Dengan demikian, terdapat selisih atau kekurangan anggaran sebesar Rp7.450.000.
“Rincian pemasukan dari seluruh stakeholder sebesar Rp540.825.000, pengeluaran Rp548.275.000, sehingga minus Rp7.450.000,” jelas Suriansyah.
Ia berharap seluruh rangkaian Petik Laut Sendangbiru dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga selesai.
Menjaga Warisan Leluhur
Kepala Desa Tambakrejo, Agus Harianto, menegaskan pentingnya menjaga keberadaan Petik Laut, sebagai tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Sendangbiru.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diterima dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Ini adalah agenda tahunan dalam mensyukuri atas limpahan rezeki dari Tuhan YME kepada kita dan sepatutnya tradisi ini dapat dipelihara, dilestarikan juga dijaga agar dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya,” ujar Agus.
Ia juga mengapresiasi kebersamaan masyarakat pesisir, bersama seluruh stakeholder, yang terlibat dalam pelaksanaan Petik Laut tahun ini.
“Saya apresiasi kebersamaan masyarakat pesisir dan stakeholder lainnya. Kami Pemerintah Desa Tambakrejo berharap, semoga gelaran acara ini berjalan sesuai harapan,” tambahnya.
Tumpeng dan Larung Sesaji

Puncak Petik Laut Sendangbiru, ditandai dengan pemotongan tumpeng. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Larung Sesaji ke tengah laut sebagai simbol rasa syukur masyarakat nelayan.
Sebelum prosesi larung sesaji, doa bersama dipimpin Ustad Hanafi.
Rangkaian tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi Petik Laut Sendangbiru, yang setiap tahun mempertemukan masyarakat nelayan, tokoh masyarakat, pemerintah, serta berbagai stakeholder dalam satu kegiatan budaya pesisir.
Setelah prosesi larung sesaji selesai, Kapolsek Sumawe, Iptu Cahyo Wiyono, S.H., bersama Danramil Sumawe Kapten Cpl Buwasid menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, panitia, dan para nelayan yang telah menjaga keamanan serta ketertiban selama kegiatan.
“Alhamdulillah semuanya dapat menjaga kamtibmas selama gelaran acara, hingga berjalan sesuai harapan. Terima kasih. Salam hormat, salam presisi,” pungkas Cahyo Wiyono.
Petik Laut ke-56 pun kembali menjadi penanda bahwa tradisi masyarakat pesisir Sendangbiru masih hidup. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteruskan kepada generasi yang akan datang. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




