Founder Lawang Netizen, Bastian Nova Pratama yang juga inisiator program podcast (paling kiri), Wulan guru BK SMK dan Yuri Maula perwakilan Komunitas Maiyah Lawang (paling kanan). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Komunitas Lawang Netizen menggelar rekaman Podcast Warung Revolusi di Warung Geprek Cak Yur Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (25/9/2026), untuk membedah tantangan pendidikan karakter siswa, realitas dunia sekolah, dan pemberdayaan ekonomi lokal melalui media digital kekinian.
Program Podcast Warung Revolusi yang diselenggarakan di Warung Geprek Cak Yur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, menjadi salah satu wujud nyata upaya pemberdayaan masyarakat yang multidimensional. Kegiatan ini tidak hanya membedah realitas dunia pendidikan masa kini, melainkan juga mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu sosial, ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan warga dengan kemasan yang ringan, komunikatif, dan populer di era digital.
Pemilihan media podcast dinilai sangat relevan karena sifatnya yang mudah diakses, komunikatif, serta dekat dengan dinamika generasi muda. Melalui format bincang-bincang santai, berbagai persoalan krusial di lingkungan sekitar dapat dibahas secara terbuka sekaligus memberikan pengetahuan serta inspirasi baru.
Edisi podcast kali ini menghadirkan Wulan (guru Bimbingan Konseling SMK di Kota Malang asal Lawang), Yuri Maula (perwakilan Komunitas Maiyah Lawang), serta Bastian Nova Pratama (pendiri Lawang Netizen sekaligus inisiator program). Bastian menyampaikan keterangan mengenai dua episode podcast tersebut kepada media, Jumat (25/9/2026).
Menurut Bastian, manfaat kegiatan ini sangat luas. Selain menambah wawasan masyarakat, program ini membuka ruang diskusi kritis terhadap isu lingkungan lokal, mengangkat kisah inspiratif warga, hingga mendorong kepedulian sosial. Di samping itu, forum ini membuka peluang kolaborasi antara masyarakat, komunitas, sekolah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan.
Tidak hanya itu, podcast juga memberikan dampak ekonomi secara tidak langsung dengan membantu mempromosikan UMKM, usaha kuliner lokal, serta potensi desa melalui saluran konten digital.
” Podcast dipilih karena merupakan media yang inklusif, komunikatif, dan dekat dengan keseharian generasi muda. Melalui obrolan santai, berbagai persoalan pendidikan, sosial, dan ekonomi dapat diulas secara transparan sekaligus memberikan pengetahuan baru,” ujar Bastian Nova Pratama, Jumat (25/9/2026).
Sorotan utama dalam diskusi podcast tersebut adalah kejujuran mengenai kondisi nyata para siswa di lapangan. Pembahasan melingkupi metode pemetaan karakter siswa, fenomena pergeseran motivasi belajar yang berorientasi sekadar mengejar ijazah, hingga fakta lapangan mengenai siswa tingkat menengah kejuruan yang belum menguasai operasi perkalian dasar.
Pada segmen awal, Yuri membuka diskusi mengenai keberagaman karakter peserta didik. Wulan menjelaskan bahwa pendekatan sekolah dilakukan melalui konseling menyeluruh hingga pendampingan personal.
”Biasanya kami ajak berdialog satu per satu melalui sesi konseling. Kami lakukan pemetaan secara umum terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke pendekatan personal,” jelas Wulan.
Diskusi berlanjut pada topik motivasi belajar. Yuri menilai banyak siswa saat ini cenderung berorientasi pada pencapaian administratif berupa ijazah dibandingkan dengan esensi menuntut ilmu.
”Mencari ilmu sering kali hanya sebatas wacana. Mayoritas berfokus mendapatkan ijazah. Lantas bagaimana cara menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu itu jauh lebih penting?” cetus Yuri Maula.
Isu hangat lain yang diangkat adalah sistem kenaikan kelas otomatis serta fenomena di media sosial mengenai siswa SMA/SMK yang belum menguasai perkalian sederhana. Bastian mempertanyakan efektivitas kebijakan kenaikan kelas secara menyeluruh tersebut.
”Apakah benar saat ini seluruh siswa wajib dinaikkan kelasnya? Dulu ada siswa yang tidak naik kelas, tetapi sekarang kesannya semua harus naik kelas. Apakah pola ini betul-betul efektif?” tanya Bastian.
Wulan mengungkapkan fakta bahwa di sekolah, kebijakan tidak naik kelas memang hampir tidak pernah diterapkan. Jika kondisi akademik atau perilaku siswa tergolong berat, pihak sekolah umumnya mengarahkan orang tua agar anak dipindahkan ke sekolah lain. Ia juga membenarkan bahwa masih ditemui siswa SMK yang belum lancar berhitung dasar, padahal kemampuan numerasi fundamental sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Melalui Podcast Warung Revolusi ini, proses pendidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada kelulusan formalitas, melainkan lebih menekankan pada pendampingan karakter dan pemetaan kemampuan dasar siswa. Guru, orang tua, dan sekolah perlu berkolaborasi menemukan akar masalah dan kebutuhan belajar anak.
Pada akhirnya, podcast hadir sebagai jembatan edukasi yang relevan dengan perkembangan zaman, mudah dicerna, serta mampu membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Pendidikan diharapkan tidak sekadar menaikkan jenjang kelas anak, melainkan benar-benar meningkatkan kompetensi, karakter, dan kepercayaan diri mereka dalam menata masa depan. (Januar Triwahyudi)




