MALANG POST – Skuad Arema FC mencatatkan fenomena anomali statistik unik, di panggung Super League 2026/2027, di mana volume tembakan Singo Edan berada di urutan ke-12, namun memimpin daftar tim paling produktif dengan torehan delapan gol dari tiga laga awal, Jumat (25/9/2026).
Statistik sepak bola, sering kali menghadirkan teka-teki yang paradoksal. Sebuah tim bisa saja membombardir pertahanan lawan dengan puluhan tembakan spekulasi tanpa hasil. Sementara tim lain hanya membutuhkan sedikit kesempatan emas, untuk mengoyak jala gawang lawan dengan tingkat presisi yang dingin.
Anomali efektivitas itulah yang kini melekat pada skuad Singo Edan.
Hingga Pekan 3 Super League 2026/2027, volume tembakan Arema FC tercatat hanya berada di peringkat ke-12 dari 18 kontestan liga.
Singo Edan baru melesakkan total 27 tembakan dalam tiga pertempuran awal.
Angka tersebut terpaut jauh di bawah Borneo FC, yang memimpin volume tembakan kompetisi dengan 41 kali percobaan.
Bahkan posisi Arema hanya berjarak tipis dari Garudayaksa, yang menghuni dasar statistik dengan 15 tembakan.
Namun, kejutan besar muncul sewaktu melihat papan efektivitas gol.
Meski miskin volume tembakan, Arema FC justru memimpin panggung produktivitas gol liga, bersama Dewa United Banten FC dengan koleksi delapan gol.
Dari total 27 percobaan tembakan, anak asuh Marcos Santos mencatatkan 14 tembakan tepat sasaran (on target).
Artinya, sekitar 29,6 persen dari total tembakan Arema sukses terkonversi menjadi gol.
Tingkat efisiensi penyelesaian peluang ini jauh mengungguli klub-klub agresif lainnya.
Sebagai pembanding, Madura United melesakkan 40 tembakan namun baru mendulang tujuh gol. Borneo FC memproduksi 41 tembakan untuk tujuh gol.
Sementara Persija Jakarta memberondong 33 tembakan, namun baru sanggup mengemas empat gol saja.
Arema terbukti sanggup mencetak delapan gol meski memiliki volume tembakan tujuh kali lebih sedikit ketimbang Persija dan 13 kali lebih sedikit dari Madura United.
Kendati lini depan tampil sangat klinis, lini tengah Singo Edan menyimpan celah evaluasi yang cukup serius.
Gelandang muda Arema FC, Arkhan Fikri, menyuarakan keresahannya, usai timnya ditahan imbang 1-1 oleh Persik Kediri pada laga derbi di Stadion Kanjuruhan.
Dalam laga tersebut, Persik mendominasi alur aliran bola dengan 67 persen penguasaan bola (ball possession) serta mengemas 448 umpan sukses.
Sebaliknya, Arema terkurung dan hanya menguasai 33 persen aliran bola serta membukukan 222 umpan sukses.
Arkhan menilai situasi tersebut memaksa Arema terlalu banyak bermain tanpa bola dan tertekan di area sendiri.
Pemilik nomor punggung 8 ini mendesak rekan-rekannya, untuk tampil lebih berani menguasai bola pada laga-laga berikutnya, agar tidak melulu mengandalkan skema bertahan pasif.
“Saya berharap ke depannya kita bisa lebih berani buat bermain. Jadi tidak takut buat pegang bola. Kita di dalam lapangan tidak cuma bertahan saja,” tegas Arkhan Fikri, Jumat (25/9/2026).
Pemain asal Serdang Bedagai ini tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya, lantaran gagal mempersembahkan tiga poin penuh di markas sendiri.
Meski tetap bersyukur atas raihan satu poin yang menjaga rekor tak terkalahkan Arema, Arkhan menegaskan bahwa permainan tim di lapangan belum berjalan sesuai rencana taktis yang disiapkan.
”Jujur cukup kecewa karena kami tidak bisa menjalankan permainan yang bagus di dalam lapangan. Kami harus melakoni evaluasi besar agar bisa tampil lebih mengontrol di pertandingan mendatang,” pangkas Arkhan. (Ra Indrata)




