AKADEMISI Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Akademisi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang Ary Bakhtiar menyarankan petani cabai menerapkan sistem irigasi drip dan opsi tunda tanam di Malang, Jumat (25/9/2026), untuk mengantisipasi ancaman gagal panen akibat keterbatasan pasokan air di tengah mundurnya musim hujan menurut laporan BMKG.
Ancaman gagal panen membayangi para petani cabai di tengah kondisi cuaca kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Keterbatasan pasokan air membuat produktivitas tanaman menurun drastis, bahkan berisiko menyebabkan tanaman gagal tumbuh yang berujung pada berkurangnya pasokan cabai di pasaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam konferensi persnya pada 22 September lalu menyampaikan bahwa awal musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat. Puncak musim hujan bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia, yakni mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Kondisi tersebut menuntut para petani hortikultura, khususnya komoditas cabai, untuk menyiapkan langkah mitigasi terukur agar tanaman dapat bertahan di tengah keterbatasan air.
Hal ini menjadi perhatian khusus akademisi Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng.
Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah mitigasi teknis yang dapat diterapkan petani adalah memanfaatkan sistem irigasi drip atau irigasi tetes. Sistem tersebut memungkinkan pemberian air dan nutrisi secara presisi dan terukur langsung ke area perakaran tanaman.
“Cabai memiliki karakter tidak menyukai volume air berlebih, namun akan mati jika kekurangan air. Oleh karena itu, irigasi drip dapat menjadi solusi efektif agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air dan nutrisi secara berkesinambungan,” jelasnya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Ary, penerapan sistem irigasi drip membutuhkan investasi awal sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per hektar untuk pemasangan instalasi selang dan pipa. Meskipun membutuhkan tambahan biaya modal, sistem tersebut sangat membantu petani dalam menghemat dan mengatur penggunaan air secara efisien selama musim kering.
Pria yang juga berprofesi sebagai praktisi petani cabai di Banyuwangi ini mengaku telah menerapkan sistem irigasi drip pada lahan pertaniannya sebagai langkah mitigasi konkret. Ia juga mendorong para petani untuk menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur bor dan sistem pompanisasi, sehingga tidak semata-mata bergantung pada irigasi persawahan konvensional.
“Bagi petani yang sudah terlanjur menanam, instalasi irigasi drip adalah solusinya agar nutrisi dan air tetap terserap sempurna. Perawatan berkala tetap harus dilakukan, minimal dua hari sekali, meliputi pemberian perangsang bunga, insektisida, dan nutrisi cair,” paparnya.
Di sisi lain, melonjaknya harga cabai di pasaran saat ini erat kaitannya dengan penurunan produktivitas selama musim kemarau. Per 23 September, harga cabai rawit varietas ori kecil di tingkat petani berada di kisaran Rp58.000 per kilogram, sedangkan cabai merah besar sekitar Rp16.000 per kilogram.
Ia menambahkan, harga di tingkat konsumen jauh lebih tinggi akibat adanya margin di sepanjang rantai distribusi. Harga cabai rawit di tingkat eceran konsumen diperkirakan menembus kisaran Rp80.000–Rp90.000 per kilogram, sedangkan cabai merah besar berada di kisaran Rp30.000–Rp42.000 per kilogram.
Bagi petani yang belum memulai masa tanam, Ary menyarankan agar tidak terburu-buru melakukan budidaya. Menurutnya, dinamika cuaca perlu dipantau secara cermat sambil menyiapkan keandalan sumber air dan sarana mitigasi lainnya.
“Mitigasi utama bagi petani hortikultura saat ini adalah menyiapkan alternatif sumber air dari sumur bor. Kedua, mengambil opsi tunda tanam. Mengingat intensitas gelombang panas saat ini, memaksakan menanam bisa berujung pada tingginya risiko gagal tanam,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tunda tanam bukan berarti menghentikan aktivitas pertanian, melainkan menanti momen cuaca yang lebih kondusif. Petani dapat mengambil sikap memantau situasi (wait and see) hingga curah hujan mulai stabil, misalnya sekitar pertengahan November.
“Jika belum menanam, sebaiknya wait and see dulu terhadap perkembangan cuaca. Sambil menunggu hujan turun, petani dapat menyiapkan prasarana mitigasi, terutama sumber air dan instalasi irigasi, sehingga ketika kondisi sudah memungkinkan, bibit dapat segera ditanam,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




