PENGANTAR: Salah seorang ojol, saat mengantarkan makanan ke DPRD, jam 14.20, Rabu (23/09/2026). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Rapat koordinasi (rakor) tertutup yang digelar Tim Koordinasi, Supervisi, dan Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (Korsupgah KPK RI) di gedung DPRD Kota Malang, tidak hanya memicu ketegangan di lingkungan pejabat, tetapi juga mendatangkan berkah lonjakan orderan makanan dan minuman (mamin) bagi para pengemudi ojek online (ojol), Rabu (23/9/2026).
Di balik pintu rapat yang terkunci rapat dan pengawasan sterilisasi nan ketat, ada cerita unik yang tertangkap kamera di lobi luar gedung wakil rakyat. Ketika para pejabat publik mengeringkan tenggorokan menahan emosi tegang, akibat ‘kuliah’ pencegahan rasuah, roda rezeki para pengantar makanan online justru berputar jauh lebih kencang dari hari biasa.
Pemandangan kontras itulah yang mewarnai gedung DPRD Kota Malang.
Kehadiran tim Korsupgah KPK RI, untuk membendung potensi korupsi anggaran mengumpulkan 45 anggota DPRD Kota Malang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Wakil Wali Kota Ali Muthohirin, serta seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Pertemuan digelar eksklusif di ruang rapat paripurna lantai tiga gedung dewan pada Rabu (23/9/2026).
Ketatnya agenda rakor tebal, memancarkan raut wajah tegang dari para peserta yang hadir.
Bahkan hingga siang hari, jajaran pejabat Pemkot maupun anggota dewan, belum berkenan memberikan wawancara resmi kepada awak media.
Di tengah suasana tegang dan pintu rapat yang dikunci rapat, intensitas pemesanan makanan dan minuman secara daring (online) ke gedung DPRD melonjak drastis.
Jika pada hari biasa pos penjagaan gedung dewan hanya didatangi tiga hingga lima pengemudi ojol, siang itu antrean armada ojol meningkat pesat.

BERKAH: Salah satu ojol mengantarkan makanan ke DPRD. Hingga 15.25 sore hari masih terus berlangsung jam 15.25. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Tercatat hingga pukul 14.20 WIB, sedikitnya 15 kurir ojol bergantian mengantarkan pesanan mamin ke pintu masuk gedung dewan, baik pesanan untuk internal DPRD, peserta rakor, maupun insan pers yang tertahan meliput.
”Saya sedikit heran melihat intensitas kurir yang mengantar makanan dan minuman hari ini. Kalau dihitung-hitung ada 15 ojol, biasanya paling cuma tiga atau lima saja,” beber seorang petugas keamanan internal DPRD Malang.
Salah satu pengemudi ojol Shopee, Rizal (21), warga asal Mergosono, mengaku kaget saat mengantarkan pesanan ke gedung dewan yang dijagani ketat.
Ia tak menyangka gedung dewan tengah disatroni tim KPK lantaran awalnya menduga ada kegiatan biasa.
”Saya kurang paham terkait agenda KPK di DPRD hari ini, apakah sedang menyelidiki perkara atau hal lain. Sebab di media massa kan lagi marak berita Operasi Tangkap Tangan (OTT),” kata Rizal terheran-heran.
Sisi ketatnya sterilisasi rakor juga terlihat tatkala salah satu anggota DPRD Kota Malang dari Fraksi Partai Nasdem, Suyadi, keluar sejenak dari ruang rapat lantai tiga.
Ia turun ke lantai satu selama beberapa menit untuk suatu keperluan, namun buru-buru kembali melangkah menuju lift lantai satu untuk naik ke ruang rapat.
”Maaf ya, rakornya masih belum selesai. Saya mesti segera kembali ke ruangan rapat,” jawab Suyadi singkat sambil bergegas masuk lift.
Hingga sore hari, pembatasan akses ketat yang diterapkan pengamanan internal DPRD masih dirasakan oleh puluhan wartawan.
Insan pers hanya diizinkan mengakses area toilet dan musala lantai satu.
Sebagian wartawan memilih keluar mencari udara segar di halaman gedung dewan sembari sibuk menghubungi narasumber demi mendapatkan konfirmasi terkait pergerakan tim KPK di Kota Malang. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




