Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan Universitas Negeri Malang (BPK3 UM) berkolaborasi dengan Peer Counseling Corner (PCC) UM menggelar Pelatihan Psychological First Aid (PFA) secara daring melalui Zoom Meetings. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan Universitas Negeri Malang bersama Peer Counseling Corner menggelar Pelatihan Psychological First Aid bagi 323 peserta via Zoom Meetings, Sabtu (19/9/2026), untuk membekali sivitas akademika dan masyarakat dengan kemampuan pertolongan awal kesehatan mental.
Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan Universitas Negeri Malang (BPK3 UM) berkolaborasi dengan Peer Counseling Corner (PCC) UM menggelar Pelatihan Psychological First Aid (PFA) secara daring melalui Zoom Meetings, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk membekali sivitas akademika dan masyarakat dengan pemahaman dasar dalam mengenali serta memberikan pertolongan awal terhadap masalah kesehatan mental.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 323 peserta yang terdiri atas tenaga kependidikan, mahasiswa UM, dan masyarakat umum. Acara ini dihadiri oleh Kepala Pusat BPK3 UM, Dr. Hetti Rahmawati, S.Psi., M.Si., serta menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UM, Dwi Nikmah Puspitasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari komitmen UM dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat, aman, dan peduli terhadap kesehatan mental. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan kehidupan sosial, kepedulian terhadap kondisi psikologis perlu dibangun bersama agar sivitas akademika mampu mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental dan memberikan dukungan yang tepat.
Depresi dan kecemasan menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup. Oleh karena itu, kepedulian untuk membangun lingkungan yang mendukung pemulihan kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui Psychological First Aid atau pertolongan pertama psikologis, yakni pendekatan awal yang bersifat suportif, praktis, dan tidak menghakimi untuk membantu mengurangi tekanan psikologis (distress) setelah seseorang mengalami situasi yang berat.
Melalui pelatihan PFA, UM mendorong peserta untuk memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama dalam hal kemampuan mendengarkan, memberikan dukungan awal, serta menghubungkan individu yang membutuhkan dengan tenaga profesional.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar dalam menciptakan ruang aman demi mengurangi dampak negatif dari tekanan psikologis (distress). Melalui PFA, kami berusaha menumbuhkan kesadaran (awareness) kepada masyarakat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” ujar Dwi Nikmah Puspitasari dalam pemaparannya.
Pada sesi materi, peserta diperkenalkan dengan tiga prinsip utama PFA, yaitu Look, Listen, dan Link. Look merupakan tahap awal untuk mengamati kondisi, perilaku, dan perubahan yang dialami seseorang.
Listen dilakukan dengan menjadi pendengar yang fokus terhadap cerita seseorang tanpa menghakimi. Sementara itu, Link merupakan upaya menghubungkan individu yang membutuhkan bantuan lebih lanjut dengan sumber dukungan atau tenaga profesional, seperti psikolog dan psikiater.
Dwi menjelaskan bahwa perubahan perilaku yang terjadi secara berulang dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan oleh orang-orang di sekitar. Menurutnya, indikasi masalah kesehatan mental tidak selalu terlihat dari kondisi emosional, melainkan dapat muncul pula melalui perubahan kognitif, fisik, dan perilaku.
“Jika kalian melihat teman yang awalnya berpakaian rapi dan wangi lalu tiba-tiba menjadi tidak terawat, bajunya lusuh, serta berantakan, dan fenomena tersebut terjadi berulang, kalian harus bertanya apakah dia baik-baik saja. Tanda-tanda adanya indikasi masalah kesehatan mental bukan hanya dapat dilihat melalui kondisi emosional, melainkan juga dari kondisi kognitif, fisik, dan perilaku,” jelas Dwi.
Ketiga prinsip tersebut dapat diterapkan oleh masyarakat nonprofesional dengan tetap memperhatikan etika dalam memberikan pertolongan awal. Melalui penerapan Look, Listen, dan Link secara tepat, sivitas akademika UM dan masyarakat umum diharapkan mampu membangun lingkungan yang saling mendukung, aman, dan peduli terhadap kesehatan mental.
Pelatihan tidak hanya berisi penyampaian materi secara teoretis, melainkan dilengkapi pula dengan sesi simulasi peran (role-play) yang didampingi oleh anggota PCC UM. Sesi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami penerapan prinsip Look, Listen, dan Link melalui simulasi dengan peran sebagai penerima bantuan (helpee) maupun penolong (first aider).
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara kognitif, melainkan belajar mengembangkan empati dan kesiapan dalam menghadapi situasi yang membutuhkan dukungan psikologis. Peserta juga dapat memahami batasan peran penolong (first aider) sehingga bantuan profesional tetap menjadi rujukan utama ketika kondisi membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Pada akhir pelatihan, peserta menyampaikan kesan dan pengalaman selama mengikuti sesi simulasi peran (role-play). Salah satu peserta mengungkapkan bahwa tantangan utama sebagai penolong (first aider) adalah memahami kondisi emosional penerima bantuan (helpee), terutama ketika orang yang dibantu belum terbuka atau menolak bantuan.
“Menurut saya, tantangan saat sesi role-play tadi ketika menjadi first aider adalah belum bisa masuk secara emosional dengan apa yang dirasakan helpee. Apalagi helpee bersikukuh merasa baik-baik saja dan tidak ingin ditolong. Jadi, first aider bingung ingin menanggapi atau berperilaku seperti apa,” ungkap salah satu peserta.
Pelaksanaan Pelatihan PFA menjadi salah satu bentuk kepedulian UM dalam mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan sejahtera.
Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Poin 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan mental, serta SDGs Poin 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam memberikan dukungan awal terhadap persoalan kesehatan mental.
Melalui kegiatan tersebut, UM tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, melainkan juga mendorong kesadaran terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Penguatan kapasitas sivitas akademika dan masyarakat dalam memberikan dukungan psikologis secara tepat diharapkan dapat turut membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan peduli terhadap sesama. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




