Rumah singgah pak Harto (sumber cuplikan YouTube)
MALANG POST – Rumah sederhana berdinding anyaman bambu di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, menyimpan cerita besar. Bangunan yang pernah menjadi tempat singgah Presiden RI ke-2 Soeharto saat Perkemahan Wirakarya Asia Pasifik (PW ASPAC) 1978 itu kini hendak dipertahankan warga dengan cara dibeli secara swadaya.
Rumah singgah pribadi Presiden RI ke-2 Soeharto di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, kembali menjadi perhatian. Warga setempat berencana membeli bangunan tersebut secara swadaya agar tetap terjaga dan menjadi bagian dari jejak sejarah Desa Lebakharjo yang dikenal sebagai Desa Pramuka.
Aspirasi itu disampaikan warga kepada Anggota DPRD Kabupaten Malang Amarta Faza saat berkunjung ke Desa Lebakharjo. Warga ingin mempertahankan rumah yang pernah digunakan Soeharto untuk beristirahat atau singgah ketika mengikuti rangkaian Perkemahan Wirakarya Asia Pasifik (PW ASPAC) pada 1978.
Amarta mengatakan, rencana pembelian tersebut menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap peninggalan sejarah di desanya.
“Warga menyampaikan kepada saya bahwa mereka berencana membeli rumah singgah Pak Harto dengan swadaya masyarakat. Ini merupakan bentuk kepedulian warga untuk menjaga peninggalan sejarah yang ada di Lebakharjo,” kata Amarta di Gedung DPRD Kabupaten Malang, Senin (21/9/2026).
Aspirasi warga itu, lanjut dia, sebelumnya juga telah disampaikan kepada Bupati Malang. Pemkab Malang disebut akan mempertimbangkan langkah terhadap keberadaan bangunan tersebut setelah nilai bangunan dihitung oleh tim appraisal.
“Saya juga pernah menyampaikan rencana warga ini kepada Bupati Malang. Informasinya, Pemkab Malang akan melihat dan menghitung terlebih dahulu nilai bangunan tersebut melalui tim appraisal,” ujarnya.
Bukan Sekadar Bangunan Tua
Amarta menilai rumah tersebut tidak semata-mata memiliki nilai dari sisi fisik. Keberadaannya berkaitan dengan perjalanan sejarah kepramukaan di Kabupaten Malang, khususnya Desa Lebakharjo yang pernah menjadi lokasi kegiatan kepramukaan berskala internasional.
Rumah tersebut merupakan bangunan pribadi milik warga setempat bernama Sunarto. Bentuknya sederhana, dengan dinding dari anyaman bambu atau gedek. Lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Monumen Patung Pramuka Penegak dan Pandega.
Kedekatan lokasi tersebut membuat rumah singgah memiliki keterkaitan kuat dengan kawasan sejarah kepramukaan di Lebakharjo.
Desa tersebut tercatat pernah menjadi tuan rumah dua kegiatan perkemahan internasional. Pertama, Perkemahan Wirakarya Asia Pasifik (PW ASPAC) 1978. Kedua, Community Development Camp (COMDECA) 1993.
Jejak kegiatan tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari identitas Lebakharjo. Karena itu, keberadaan rumah singgah Soeharto dinilai dapat melengkapi cerita sejarah kawasan tersebut.
Menunggu Penghitungan Nilai
Bagi masyarakat setempat, rumah sederhana itu menjadi salah satu jejak sejarah yang masih tersisa. Bangunannya mungkin tidak mewah, tetapi menyimpan cerita tentang ketika Lebakharjo menjadi salah satu lokasi penting dalam kegiatan kepramukaan tingkat Asia Pasifik.
“Harapannya, keberadaan rumah singgah ini tetap dipertahankan. Jangan sampai bangunan yang memiliki nilai sejarah justru hilang karena tidak ada upaya untuk merawat dan melestarikannya,” tutur Amarta.
Rencana pembelian oleh masyarakat secara swadaya maupun kemungkinan keterlibatan Pemkab Malang kini masih dalam proses. Jika Pemkab Malang melanjutkan rencana tersebut, nilai bangunan akan terlebih dahulu dihitung oleh tim appraisal.
Ke depan, rumah singgah tersebut berpotensi menjadi bagian dari kawasan sejarah dan edukasi kepramukaan di Desa Lebakharjo. Apalagi lokasinya berdekatan dengan monumen pramuka yang menjadi salah satu penanda sejarah desa.
Bagi Lebakharjo, mempertahankan bangunan itu bukan sekadar menjaga sebuah rumah lama. Lebih jauh, upaya tersebut menjadi cara merawat ingatan tentang perjalanan desa yang pernah menjadi tuan rumah perkemahan internasional sekaligus memiliki catatan penting dalam perkembangan kepramukaan di Kabupaten Malang. (Suseno/Ra Indrata)




