KEPALA Badan Gizi Nasional, Sudaryono. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengungkapkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil mendongkrak harga jeruk lokal Kota Batu dari Rp5.000 menjadi Rp14.000 per kilogram dalam acara Rembug KTNA di Kota Batu, Sabtu (19/9/2026), akibat tingginya penyerapan dapur SPPG.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut mulai memberikan efek positif terhadap penyerapan komoditas pangan lokal. Keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ikut membuka permintaan baru bagi hasil pertanian dan peternakan di daerah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mencontohkan komoditas jeruk lokal Kota Batu. Ia menyebut harga jeruk yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp5.000 per kilogram kini melesat mencapai Rp14.000 per kilogram. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah terserapnya jeruk sebagai bahan baku kebutuhan SPPG.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat menghadiri Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Kota Batu, Sabtu (19/9/2026). Menurutnya, pelaksanaan MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan asupan gizi penerima manfaat, melainkan juga menciptakan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar yang dapat dipenuhi dari produksi petani dan peternak lokal.
“Contohnya, harga jeruk lokal yang sebelumnya sempat anjlok di kisaran Rp5.000 per kilogram, kini melesat naik hingga mencapai Rp14.000 per kilogram karena terserap sebagai penyuplai bahan baku gizi harian,” kata Sudaryono.

DAPUR SPPG: Aktivitas di salah satu dapur SPPG di Kota Batu, yang katanya sudah mendongkrak harga hasil pertanian Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan bahan baku untuk dapur SPPG menjadi pasar baru bagi komoditas pangan. Ketika kebutuhan tersebut dipenuhi dari daerah sekitar, hasil produksi petani dan peternak memiliki peluang lebih besar untuk terserap secara rutin.
Kota Batu, lanjutnya, memiliki potensi komoditas yang dapat mendukung kebutuhan tersebut, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga produk peternakan.
Namun, angka kenaikan harga jeruk yang disampaikan Sudaryono tersebut masih berupa contoh kondisi di lapangan. Besaran kontribusi program MBG terhadap perubahan harga komoditas belum disertai pengukuran secara keseluruhan.
Di sisi lain, Sudaryono meminta petani, peternak, maupun pengurus KTNA ikut menyebarluaskan dampak positif yang mereka rasakan selama pelaksanaan MBG, terutama jika terdapat peningkatan permintaan atau penyerapan produk pertanian dan peternakan lokal.
Menurutnya, informasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai dampak program MBG. Tidak hanya dari sisi persoalan yang muncul dalam pelaksanaan, melainkan juga manfaat ekonomi yang dirasakan oleh pelaku usaha pangan di daerah.
“Ini harusnya dipublikasikan. Dampak (impact) positif ini harusnya juga disebarluaskan, jangan hanya berita negatif saja,” tegasnya.
Dengan kebutuhan bahan pangan yang berjalan melalui SPPG, MBG berpotensi menjadi salah satu pasar utama bagi produk lokal. Namun, keberlanjutan serapan tersebut tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing SPPG, mekanisme pengadaan, harga, kualitas bahan baku, serta kemampuan produksi petani dan peternak dalam memenuhi permintaan.
Bagi Kota Batu yang memiliki basis pertanian cukup kuat, pola pengadaan tersebut menjadi peluang untuk mempertemukan kebutuhan pangan MBG dengan produksi komoditas lokal. Tantangannya adalah memastikan rantai pasok berjalan konsisten sehingga peningkatan permintaan tidak hanya terjadi sesaat. (Ananto Wibowo)




