MALANG POST – Pemerintah Kota Batu meninjau proses penyelesaian akhir Museum Mega Science Center dan Budaya di kawasan Jawa Timur Park 1, Kota Batu, Senin (7/9/2026), guna memastikan kesiapan wahana edukasi sains dan budaya interaktif tersebut menjelang peresmian resminya bagi pelajar dan wisatawan.
Liburan ke Kota Batu tidak lagi melulu soal bermain dan menikmati wahana rekreasi. Wisata edukasi kini ikut mengambil panggung, salah satunya melalui Museum Mega Science Center dan Budaya di kawasan Jawa Timur Park 1.
Wahana seluas sekitar 5 hektare itu diproyeksikan menjadi ruang belajar interaktif yang memadukan sains, budaya, dan antariksa. Konsep tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemkot Batu yang ingin potensi pariwisata sekaligus pendidikan di Kota Batu terus berkembang.
Dukungan itu terlihat saat jajaran Pemkot Batu melakukan kunjungan langsung ke Museum Mega Science Center dan Budaya pada Senin (7/9/2026). Wali Kota Batu, Nurochman, hadir bersama Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, Sekda Kota Batu, Alfi Nurhidayat, serta sejumlah kepala OPD.
Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, mengaku senang dapat melihat langsung proses penyelesaian (finishing) museum tersebut. Menurutnya, konsep yang ditawarkan mampu menggabungkan rekreasi dengan pembelajaran.
“Saya sangat mengapresiasi, ini media rekreasi yang sangat kuat unsur edukasinya,” ujar Cak Nur.

WISATA EDUKASI: Wali Kota Batu Nurochman bersa Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat mengunjungi Museum Mega Science Center dan Budaya, ia disambut langsung oleh Founder Jatim Park Group, Paul Sastro Sendjojo. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Dalam kunjungan tersebut, Cak Nur juga memberikan sejumlah masukan kepada pengelola, mulai dari penguatan zona edukasi, materi pembelajaran, hingga penyajian benda-benda bersejarah agar lebih menarik secara visual.
Salah satunya terkait dengan rak kaca yang digunakan untuk menempatkan benda bersejarah. Menurutnya, aspek estetika masih bisa diperkuat sehingga pengalaman pengunjung semakin menarik. Kendati demikian, ia menilai aspek keselamatan (safety) wahana sudah cukup baik.
“Secara keseluruhan semuanya sudah oke, mungkin tinggal sentuhan akhir. Seperti rak kaca yang menempatkan benda bersejarah, secara estetika bisa dibuat lebih bagus. Namun, kalau soal keselamatan (safety), saya lihat sudah bagus,” katanya.
Tidak hanya melihat-lihat, Cak Nur juga menjajal sejumlah wahana interaktif, di antaranya simulasi gempa bumi, wahana berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga bioskop imersif (immersive cinema).
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi alternatif pembelajaran bagi pelajar. Materi yang selama ini hanya dipahami melalui buku dan teori di kelas dapat diperlihatkan dalam bentuk simulasi maupun peragaan langsung. “Pembelajaran tidak lagi sebatas teori di kelas, melainkan bisa disimulasikan langsung melalui peragaan interaktif di sini,” tegasnya.
Ia berharap keberadaan museum tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh para pelajar di Kota Batu. Bahkan, sekolah-sekolah didorong untuk menjadikan Museum Mega Science Center dan Budaya sebagai salah satu tujuan studi tur (study tour) sekaligus sarana pembelajaran sains dan sejarah.

Pemkot Batu juga tengah menyiapkan skema kerja sama dengan manajemen Jawa Timur Park Group. Tujuannya agar akses terhadap wahana edukasi tersebut dapat dirasakan oleh seluruh pelajar di Kota Batu.
“Saya berharap ada dukungan (support) dari Jatim Park Group untuk memberikan diskon kepada pelajar Kota Batu,” harapnya.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menilai kehadiran museum tersebut menjadi sebuah capaian positif bagi perkembangan wisata edukasi di Kota Batu. Ia mengapresiasi Jawa Timur Park Group yang menghadirkan destinasi dengan konsep pembelajaran tersebut.
“Ini sangat bagus. Ini sebuah prestasi bagi Jatim Park Group yang telah mempersembahkan museum ini untuk Kota Batu,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri (Founder) Jawa Timur Park Group, Paul Sastro Sendjojo, mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan destinasi yang tidak hanya menarik secara rekreatif, melainkan juga memberikan pengalaman edukatif kepada wisatawan.
Menurutnya, pengembangan destinasi edukasi menjadi bagian dari upaya Jatim Park Group dalam menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus menunjang kunjungan wisatawan.

Staf Ahli Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sendjojo, menambahkan bahwa kunjungan dan masukan dari Pemkot Batu menjadi perspektif penting dalam proses penyempurnaan Museum Mega Science Center dan Budaya, terutama terkait dengan cara konsep dan teori sains diterjemahkan menjadi pengalaman yang bisa dicoba langsung oleh pengunjung.
“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dan masukan yang diberikan oleh Bapak Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Masukan mengenai bagaimana teori dan konsep sains dapat diterjemahkan menjadi pengalaman interaktif menjadi hal yang sangat relevan dengan konsep yang sedang kami kembangkan,” jelasnya.
Masukan tersebut, lanjut Rio, akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan zona maupun alat peraga. Harapannya, pengunjung tidak sekadar memperoleh informasi, melainkan juga dapat mencoba dan memahami konsep sains secara langsung.
Jawa Timur Park Group memandang wisata edukasi sebagai ruang belajar alternatif yang dapat melengkapi pendidikan formal. Perpaduan rekreasi, eksplorasi, dan pengalaman langsung diharapkan dapat membuat proses belajar menjadi lebih kontekstual.
“Komitmen Jatim Park Group adalah terus memberikan pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan guna menunjang angka kunjungan wisata,” tegasnya.
Dengan konsep yang memadukan sains, budaya, dan antariksa, Museum Mega Science Center dan Budaya pun dipersiapkan menjadi salah satu wajah baru wisata edukasi di Kota Batu. Tempat ini bukan hanya lokasi untuk berkunjung, melainkan juga ruang untuk melihat, mencoba, dan memahami ilmu pengetahuan secara lebih dekat. Dalam waktu dekat, museum tersebut juga akan segera diresmikan. (Ananto Wibowo)




