Oleh: Dahlan Iskan
Bandara “dibuang sayang” Kertajati akhirnya ada gunanya. Pesawat Garuda Indonesia dari Jeddah akan mendarat di Kertajati lantaran Bandara Soekarno-Hatta ditutup akibat abu letusan Gunung Anak Krakatau kemarin.
“Bandara Jakarta tutup” adalah bencana tersendiri. Indonesia terlalu bergantung pada Jakarta. Lebih dari 300 penerbangan batal mendarat di Jakarta (Cengkareng dan Halim Perdanakusuma). Itu adalah berita duka yang mendalam, utamanya jika dilihat secara ekonomi.
Bertubi-tubi bencana datang: kebakaran hutan, gempa bumi, dan kini debu vulkanik. Nilai kerugian ekonomi dari semua itu mencapai ratusan triliun rupiah.
Debu vulkanik memang sangat dihindari dalam dunia penerbangan, berbeda dengan asap. Debu vulkanik dapat membuat mesin pesawat mati secara tiba-tiba.
Anda sudah tahu: debu vulkanik sangat halus dan keras seperti batu. Begitu masuk ke dalam mesin pesawat, benda keras itu mencair terkena suhu yang sangat panas, lalu mengganggu sistem udara hingga mesin mati. Hal itu pernah dialami oleh pesawat Boeing 747 British Airways saat Gunung Galunggung di Jawa Barat meletus. Pesawat rute Sydney–London yang melintas di atas Jawa Barat itu terbang sangat tinggi, yakni pada ketinggian 47.000 kaki.
Tentu arah angin juga menentukan bandara mana saja yang terimbas kali ini: Lampung, Cengkareng, Halim, Pondok Cabe, dan Bandung.
Semoga Kertajati benar-benar aman. Namun, karena penerbangan Garuda dari Jeddah itu datang dari arah barat, jangan sampai lokasi tersebut tidak aman. Mungkin saja jalur terbangnya diubah sedikit dengan melengkung ke utara terlebih dahulu tanpa melintas di utara Jakarta.
Tentu banyak orang Jakarta yang ingin mendarat di Kertajati daripada tidak bisa pulang. Dari Kertajati hanya diperlukan waktu dua jam perjalanan menggunakan mobil menuju Jakarta. Maka, bisa jadi Kertajati menjadi tujuan darurat bagi seluruh penerbangan domestik menuju Jakarta.

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka disiapkan sebagai salah satu bandara alternatif untuk menampung penerbangan yang terdampak gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa)
Saya sendiri langsung membatalkan rencana menuju Bandara Cengkareng. Begitu selesai berolahraga, saya memutuskan untuk pergi ke Surabaya melalui jalur darat. Kemarin saya berolahraga senam bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Saya pun berpamitan kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Ketua Umum PSMTI, Willianto Tanta, yang menjadi sosok sentral dalam kegiatan kemarin pagi. PSMTI memang sedang menggelar Munas di Jakarta.
Tim sepak bola Persebaya juga harus meninggalkan Lampung melalui jalur darat: naik feri, lalu menyambung perjalanan dengan bus.
Salah satu daya tarik jalur darat adalah melintasi Tegal. Artinya, saya bisa mampir menikmati sate kambing muda ‘Cempe Lemu’. Tempatnya mudah dijangkau dan praktis karena tidak jauh dari mulut pintu keluar (exit) tol.
Setiap kali mampir ke Cempe Lemu, saya selalu melihat kemajuannya. Awalnya tempat itu kecil dan tidak ber-AC. Kemudian, dibuka cabang baru yang berjarak tidak sampai 100 meter di sebelah timurnya. Bangunannya bagus, ber-AC, dan terdiri atas dua lantai.
Saat mampir lagi kemarin, tempat yang baru itu sudah memiliki lahan parkir yang luas. Kelihatannya Cempe Lemu baru saja membeli tanah parkir tersebut. “Cabangnya yang berada di tengah Kota Tegal bahkan lebih mewah lagi,” ujar Mas Syukron, pimpinan Radar Tegal yang menemani saya menikmati sate, sup, dan krengsengan serbakambing.
Cempe Lemu adalah kisah sukses dari Tegal.
Usai makan, kami harus memutuskan tempat untuk mengisi ulang daya listrik. Sisa baterai mobil Denza tinggal 31 persen. Kang Sahidin ingin aman dengan mengisi daya di rest area Pemalang yang berjarak tinggal 30 kilometer lagi. Kang Sahidin tahu persis ada stasiun pengisian listrik bertipe pengisian cepat (fast charging) berkapasitas 100 kW di Pemalang.
Saya memilih mengisi daya di rest area yang lebih jauh, yaitu Pekalongan, yang berjarak 62 kilometer dari Cempe Lemu. Sekalian untuk menguji apakah dengan sisa daya 31 persen mobil masih bisa mencapai Pekalongan.
Setibanya di rest area Pekalongan, daya baterai tinggal 19 persen. Ups… SPKLU PLN di lokasi tersebut ternyata tidak berfungsi. Masuk ke aplikasinya pun gagal terus. Lalu, datang mobil Wuling yang juga ingin mengisi daya dan pengemudinya turut frustrasi karena gagal.
Padahal, daya listrik Denza tinggal 19 persen. Informasi di internet menyebutkan bahwa terdapat SPKLU lain yang berjarak tidak jauh di sebelah timur, yakni hanya 5 kilometer.
Benar saja, meski bukan di rest area, di sana terdapat stasiun pengisian daya. Dari kejauhan terlihat mobil Ioniq yang sedang melakukan pengisian daya. Berarti kami pun tidak akan gagal.
Awalnya agak sulit untuk masuk ke aplikasinya. Saya mengetok kaca mobil Ioniq tersebut. Keluar seorang wanita muda yang modis, mengenakan celana pendek (shorts), dan bepergian sendirian. Saya meminta diajari cara masuk ke aplikasinya dan berhasil.
Tentu saya bertanya dari mana dan akan ke mana ia pergi. Ia menjawab baru saja dari Gunung Merbabu dan hendak pulang ke Pekalongan. Ternyata ia baru saja selesai berlari sejauh 50 kilometer di kaki Gunung Merbabu. Ia mengaku sudah sering mengikuti ajang lari yang melebihi jarak maraton seperti itu dan masih akan berlari lagi bulan depan.
Ternyata ia adalah seorang dokter gigi alumnus UGM, berasal dari Yogyakarta, dan menempuh pendidikan spesialisnya juga di UGM. Kini ia bertugas di RSU Pekalongan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter gigi yang modis itu.
Kami melanjutkan perjalanan, yang artinya harus mengisi daya listrik sekali lagi. Kami memilih rest area Sragen sekaligus untuk ke toilet.
Namun, di SPKLU Sragen kami kembali menemui kendala. Setiap kali masuk ke aplikasi, selalu muncul notifikasi “tunggu antrean”. Meski diulangi beberapa kali, jawabannya tetap “tunggu antrean”. Semua stasiun pengisian di situ sudah dicoba dan jawabannya sama: tunggu antrean.
Tidak masalah, daya listrik masih tersisa 50 persen sehingga masih bisa mencapai Saradan.
Benar saja, sampai di Saradan daya listrik masih 27 persen. Masuklah kami ke rest area-nya: sudah ada tiga mobil listrik yang sedang mengisi daya dan masih ada dua stasiun yang kosong. Keduanya juga bertipe pengisian cepat.
Stasiun yang kami pilih ternyata memiliki masalah yang sama: setiap kali masuk aplikasi selalu dijawab “tunggu antrean”. Lalu kami berpindah ke stasiun sebelah dan berhasil.
Dengan sisa daya 27 persen, sebenarnya saya ingin berspekulasi: toh sudah sampai Saradan, apakah cukup untuk sampai ke Surabaya?
Kang Sahidin memilih lebih berhati-hati: lebih baik sedia payung sebelum ada debu vulkanik. (Dahlan Iskan)




