MALANG POST – Pemerintah Kota Batu bersama akademisi dan pegiat seni, merancang langkah taktis penanganan aksi vandalisme, yang dinilai merusak keindahan visual serta mengancam branding Kota Batu, sebagai destinasi wisata utama, Kamis (3/9/2026).
Coretan liar di sudut-sudut jalan bukan sekadar persoalan cat semprot yang melumer di atas dinding. Bagi kota yang hidup dari sektor pariwisata, aksi vandalisme adalah polusi visual yang menggerogoti kenyamanan wisatawan.
Ancaman itu menjadi pokok bahasan dalam Talkshow di program Idjen Talk di Radio City Guide FM, Kamis (3/9/2026).
Kepala Dinas Sosial Kota Batu, Lilik Fariha, membeberkan bahwa maraknya coretan liar di beberapa titik dapat menurunkan citra Kota Batu.
Lilik menyebut penindakan di lapangan berawal dari patroli Satpol PP Kota Batu. Apabila pelaku membutuhkan bimbingan perilaku, Satpol PP akan melimpahkannya ke Dinsos.
“Sebagai kota wisata, aksi vandalisme ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat dan wisatawan,” kata Lilik, Kamis (3/9/2026).
Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aan Sugiharto, menilai pola aksi di Kota Batu didominasi motif iseng dan penunjukan identitas komunitas, bukan ekspresi kritik terhadap lembaga pemerintah.
“Coretannya bersifat abstrak dan merujuk pada identitas kelompok. Tidak ada tujuan ekspresi ketidakpuasan terhadap OPD atau lembaga tertentu,” jelas Aan.
Perbedaan mendasar antara vandalisme dan seni jalanan (street art) dipaparkan oleh Pegiat Street Art Kota Batu, Akhmad Kholili.
Kholili menegaskan vandalisme dilakukan sembunyi-sembunyi tanpa perencanaan dengan menyasar fasilitas vital atau cagar budaya. Sementara grafiti mengutamakan nilai estetika dan dikerjakan terencana.
“Vandalisme itu polusi visual. Sedangkan grafiti punya nilai tambah dan estetika,” tutur Kholili.
Merespons persoalan tersebut, Pemkot Batu bergerak menyiapkan solusi konkret. Sekda Kota Batu merancang ruang khusus agar anak muda dapat berekspresi tanpa merusak fasilitas umum.
Dinsos Batu bakal berkolaborasi dengan OPD terkait, komunitas street art, serta mengerahkan tim Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang diperkuat psikolog dan pekerja sosial.
Guna menyalurkan bakat menggambar para remaja, Dinsos juga menggandeng Disnaker Kota Batu melalui program pelatihan desain grafis.
Kholili berharap Pemkot Batu segera memetakan area dinding publik untuk legalitas pembuatan mural dan grafiti. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




