MALANG POST – Pemerintah Kota Batu beraudiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, di Kantor Kemenekraf, Jakarta, kemarin, guna memperkuat ekosistem Ekraf Kota Batu dan mematangkan konsep Batu Agrocreative, demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta penyerapan tenaga kerja.
Pemerintah Kota Batu tidak ingin pengembangan ekonomi kreatif berjalan sendirian. Dukungan pemerintah pusat terus dikejar untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) sekaligus mengembangkan potensi gastronomi yang menjadi bagian dari konsep Batu Agrocreative.
Upaya tersebut dilakukan oleh Wali Kota Batu, Nurochman, dengan membawa jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif ke Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Barekraf) di Thamrin Nine, Jakarta, kemarin.
Rombongan diterima langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, bersama jajaran deputi dan direktur. Audiensi yang berlangsung sekitar satu jam itu membahas penguatan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, memaparkan karakter Kota Batu sebagai kota pariwisata yang memiliki basis ekonomi kreatif dan pertanian. Sepanjang tahun 2025, sekitar 9,7 juta wisatawan berkunjung ke Kota Batu. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi pasar sekaligus penggerak bagi produk kreatif dan gastronomi lokal.

AUDIENSI: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan audiensi ke Kementerian Ekonomi Kreatif, rombongan Kota Batu diterima langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. (Foto: Istimewa)
“Kami tidak hanya ingin menonjolkan wisata buatan, melainkan juga terus mendorong perkembangan green tourism. Terkait gastronomi, hal yang kami kedepankan adalah penguatan ekosistemnya,” ujar Cak Nur.
Konsep tersebut menempatkan pertanian, produk pangan, kreativitas masyarakat, dan pariwisata dalam satu rantai nilai. Produk lokal tidak hanya dijual sebagai komoditas, melainkan juga didorong agar memiliki nilai tambah melalui kreativitas dan pengalaman wisata.
Salah satu hal yang disodorkan adalah pengembangan Desa Beji sebagai Kampung Tempe. Kawasan tersebut menaungi sekitar 250 perajin. Potensinya tidak hanya diarahkan pada produksi tempe, melainkan juga dikembangkan melalui inovasi gastronomi, batik tempe, hingga paket wisata ngopi pagi di kebun apel.
Dari desa, pembahasan berlanjut pada penguatan ruang kreatif. Pemkot Batu mendorong penyelarasan regulasi agar ruang-ruang kreatif di daerah dapat memperoleh pendampingan dan sertifikasi nasional.
Agenda lainnya menyangkut Creative by Indonesia, khususnya perlindungan kekayaan intelektual serta peningkatan kapasitas produk lokal agar mampu menembus pasar ekspor.
Tidak kalah penting, Pemkot Batu juga mendorong percepatan pembentukan struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) khusus ekonomi kreatif. Kelembagaan tersebut dipandang penting agar program pemerintah pusat dan daerah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Penguatan kelembagaan menjadi pijakan agar kolaborasi dengan pemerintah pusat dapat berjalan lebih panjang. Terlebih lagi, pengembangan ekonomi kreatif diarahkan tidak hanya untuk memperkuat sektor pariwisata, melainkan juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Dalam audiensi tersebut, Nurochman didampingi oleh Plt. Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Dian Fachroni; Koordinator Batu Creative Hub Alan W. Hafiluddin; Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu Muhammad Anwar; Kepala SLB Eka Mandiri Adi Indra; serta Kepala PLUT UMKM Yosi.
Sementara itu, Menekraf Teuku Riefky Harsya turut mendorong penguatan desa kreatif dan aktivasi creative hub di Kota Batu. Dukungan pendanaan dan kelembagaan juga akan terus diupayakan, terutama untuk desa serta ruang kreatif yang menjadi prioritas.
Menekraf didampingi oleh Deputi I dan Staf Khusus Bidang Pemasaran dan Infrastruktur Kementerian Ekraf, Septriana Tangkary. Dalam pertemuan itu, pihak kementerian juga mendorong Kota Batu agar segera memperkuat kelembagaan ekraf melalui pembentukan SOTK.
Pertemuan kemudian ditutup dengan peninjauan ruang kerja Kementerian Ekraf yang mengusung konsep co-working space. Dari Jakarta, Pemkot Batu membawa satu pekerjaan rumah, yakni memperkuat ekosistem ekraf dari tingkat desa hingga kelembagaan agar potensi pertanian, gastronomi, dan pariwisata dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (Ananto Wibowo)




