MALANG POST – Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang, resmi membuka The 5th International Conference on Innovation and Teacher Professionalism (ICITEP) 2026 di kampus setempat, Selasa (1/9/2026). Konferensi internasional dua hari ini membahas integrasi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dan etika dalam meningkatkan kualitas serta profesionalisme guru.
Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang (SPs UM) menyelenggarakan The 5th International Conference on Innovation and Teacher Professionalism (ICITEP) 2026 pada 1–2 September 2026. Konferensi internasional ini mengusung tema strategis “Emerging Technologies in Education: Implications for Teaching Quality, Professional Development, and Ethical Practice”.
Forum akademik ini berfokus membedah perkembangan pesat teknologi serta implikasinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan, hingga praktik pendidikan yang beretika.
ICITEP 2026 menjadi ruang temu ilmiah yang mempertemukan para pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan dari Indonesia maupun berbagai belahan dunia. Agenda ini sekaligus melanjutkan komitmen internasional Sekolah Pascasarjana UM dalam mengakselerasi inovasi pendidikan modern.
Pembukaan konferensi dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Direktur SPs, Wakil Direktur SPs, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (Kaprodi PPG), jajaran pimpinan universitas, serta tamu undangan. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa PPG, guru pamong, dosen, dan peserta dari institusi eksternal.
Pembicara Utama dari Dalam dan Luar Negeri
ICITEP 2026 menghadirkan deretan pakar pendidikan ternama sebagai keynote speaker. Dari Indonesia, hadir:
- Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI)
- Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. (Direktur Sekolah Pascasarjana UM)
- Dr. Ferry Maulana Putra, S.Pd. (Direktur Pendidikan Profesi Guru UM)
Sementara itu, jajaran pembicara internasional terdiri atas:
- Dr. Joel G. Tubera (Institute of Creative Expressions and Human Movement Education, Philippine Normal University, Filipina)
- Tommy Tanu Wijaya, Ph.D. (Beijing Normal University, Tiongkok)
- Prof. Susan Ledger (University of Newcastle, Australia)
Ketua Program Studi PPG SPs UM, Dr. Muhammad Alfan, dalam laporan pelaksanaannya menyampaikan bahwa ICITEP 2026 dirancang sebagai sarana pertukaran gagasan inklusif bagi para praktisi dan akademisi.

Wakil Rektor I UM Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal menekankan bahwa inovasi pendidikan tidak cukup hanya ditandai dengan penggunaan teknologi baru. (Foto: Istimewa)
“ICITEP 2026 telah mempertemukan pendidik, peneliti, dan praktisi dari seluruh Indonesia dan berbagai penjuru dunia,” ujar Alfan.
Alfan memaparkan, ICITEP 2026 diikuti oleh 109 pemakalah (presenter) dari unsur dosen dan mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini dihadiri secara langsung oleh 150 mahasiswa PPG, 47 guru pamong (mentor teachers), serta peserta eksternal. Peserta daring mencakup mahasiswa PPG, para Kaprodi PPG dari berbagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), serta perwakilan dari lima perguruan tinggi mitra luar negeri.
Keterlibatan aktif para guru pamong menjadi poin penting dalam konferensi ini untuk menghadirkan perspektif praktis pengalaman mengajar di lapangan guna melengkapi kajian akademis.
Teknologi untuk Memperkuat Dimensi Kemanusiaan
Wakil Rektor I UM, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd., menekankan bahwa inovasi pendidikan tidak boleh hanya dinilai dari seberapa canggih teknologi baru yang diadopsi.
Teknologi seperti kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), deep learning, serta bermacam platform digital harus ditempatkan untuk memperkuat pembelajaran yang bermakna, memperluas akses pendidikan, serta menjaga dimensi kemanusiaan.
“Teknologi tidak seharusnya diadopsi hanya untuk kepentingan penggunaan teknologi itu sendiri, tetapi untuk memperkuat pembelajaran yang bermakna dan meningkatkan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan,” tegas Prof. Ibrahim sebelum membuka acara secara resmi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, inklusif, dan efektif menjadi tantangan utama pendidik saat ini. Transformasi digital tidak sekadar menuntut kecakapan teknis mengoperasikan platform digital, melainkan juga keberanian guru dalam mengambil keputusan pedagogis dan etis secara tepat.
Penyelenggaraan ICITEP 2026 ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam menjamin pendidikan yang inklusif, merata, serta mendukung kesempatan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) bagi semua. (M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




