Wali Kota Batu, Nurochman. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Pemerintah Kota Batu menegaskan komitmennya, untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan pertanian berjalan secara harmonis, tanpa saling mengorbankan (trade-off). Wali Kota Batu Nurochman menyampaikan, penguatan program Smart Agriculture dan penerapan smart and integrated farming, disiapkan sebagai langkah strategis untuk mempercepat regenerasi petani milenial. Sekaligus menjaga keberlanjutan produk pertanian lokal di tengah pesatnya industri pariwisata daerah.
Geliat industri pariwisata di Kota Batu terus menunjukkan perkembangan pesat. Meski demikian, akselerasi sektor pelesiran ini diminta tidak mengorbankan sektor pertanian yang selama ini menjadi fondasi utama penopang kehidupan masyarakat lokal.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa kemajuan pariwisata dan pertanian harus berjalan secara harmonis dan beriringan. Jangan sampai ekspansi bisnis pariwisata justru membuat komoditas produk pertanian lokal semakin terpinggirkan di tanah sendiri.
“Jangan sampai terjadi di tengah tumbuhnya pariwisata di Kota Batu terjadi trade-off terhadap produk-produk pertanian. Sebab, mayoritas masyarakat Kota Batu masih menggantungkan kehidupannya dari dunia pertanian,” tegas Nurochman, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi penyumbang PDRB semata, melainkan bagian dari identitas kehidupan sosial masyarakat Kota Batu. Oleh karena itu, setiap arah kebijakan pengembangan pariwisata wajib memperhatikan keberlanjutan daya dukung usaha pertanian.
Di sisi lain, Pemkot Batu juga dihadapkan pada tantangan krusial berupa regenerasi petani. Banyak petani saat ini telah memasuki usia lanjut, sementara generasi penerus dari kelompok milenial dan Gen Z belum tentu tertarik meneruskan pekerjaan orang tua mereka di kebun maupun sawah.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk memformulasi pola pertanian modern yang sesuai dengan karakter generasi muda, salah satunya melalui penerapan smart and integrated farming serta penguatan program Smart Agriculture.
“Petani yang usianya hari ini tua, anak-anaknya yang milenial dan Gen Z tentu tidak mudah masuk ke kebun maupun sawah-sawah. Maka smart and integrated farming menjadi bagian penting dari proses regenerasi, agar mereka bisa meneruskan perjuangan orang tuanya yang konsisten di dunia pertanian,” terangnya.
Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi Petani Milenial
Konsep pertanian cerdas berbasis teknologi ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan volume hasil panen. Teknologi modern juga diintegrasikan dari ranah produksi hingga skema pemasaran digital (agritech).
Harapannya, efisiensi aktivitas pertanian meningkat sekaligus mampu melipatgandakan Nilai Tukar Petani (NTP) dan daya saing komoditas lokal.
Regenerasi tenaga kerja agraris ini turut diperkuat melalui program gerakan Petani Muda Berjaya. Wali Kota Batu yang akrab disapa Cak Nur menilai keterlibatan anak muda dengan inovasi teknologi menjadi kunci utama untuk memodernisasi pola tanam maupun rantai pasok hasil pertanian.
“Kehadiran petani milenial diharapkan mampu memutus tren negatif stagnasi lahan yang sempat terjadi beberapa tahun terakhir,” kata Cak Nur.
Dengan pendekatan tersebut, Pemkot Batu ingin sektor pertanian tetap memiliki porsi strategis di tengah pesatnya perkembangan pariwisata. Generasi muda tidak hanya didorong menjadi konsumen teknologi semata, melainkan mampu memanfaatkannya untuk menghidupkan kembali sektor agraris lokal.
Menurut Cak Nur, pertanian dan pariwisata bukanlah dua sektor yang harus saling membenturkan. Keduanya justru saling melengkapi (agrotourism) sehingga geliat arus wisatawan dapat membuka ruang pasar yang luas bagi produk pertanian lokal dan keberlanjutan kesejahteraan petani. (Ananto Wibowo)




