Oleh: Dahlan Iskan
Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.
Dari situ saya melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang berasal dari Pati, Jawa Tengah itu. Ia teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset segera disahkan oleh DPR. Tidak mau ada tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai, ia mengajak massa dari Pati untuk bubar dan pulang.
Mas Botok tidak peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati. Lebih-lebih lagi oleh para “sutradara” yang ingin demo berlanjut sampai matahari tenggelam: setelah gelap, para sutradara itu bisa memainkan para stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah mereka: ending-nya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar istana—atau samping-samping istana.
DPR sebenarnya sudah mencoba meredam tuntutan warga Pati itu dua hari sebelum jadwal demo, yakni dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru membuat marah publik. Itu karena publik tahu Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok, bahkan dianggap berada di seberang mereka.
Cara lain untuk mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat “pembekuan” rekening Mas Botok di Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung perjalanan para pendemo ke Jakarta. Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya untuk ke Jakarta. Bahkan, siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke kelompok Mas Botok karena dicari-cari unsur pidananya.
Hasilnya?
Anda sudah tahu: justru menjadi blunder besar. Justru kian besar simpati untuk rombongan Pati, kian besar pula dukungan untuk aksi tersebut, dan kian terbakar hati mereka yang sudah membara.

Suasana audiensi Pimpinan DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama perwakilan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Gedung DPR RI. (Foto: Anisha Aprilia/Disway)
Yang terbakar paling nyata adalah Bank Mandiri. Kemarahan publik kepada bank itu sudah sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan—terutama bagi bank milik negara itu sendiri. Ia menjadi korban dari keputusan yang tidak dirancang secara matang.
Publik justru emosi ketika pemblokiran itu ditutupi dengan alasan “untuk melindungi pengirim uang maupun pemilik rekening”. Alasan seperti itu dengan mudah bisa dibaca: alasan yang dicari-cari secara tergopoh-gopoh.
Akhirnya disadari: sendi-sendi Bank Mandiri bisa goyah. Lalu keluarlah keputusan bahwa pemblokiran itu dicabut. Namun, goresan sudah telanjur melukai Bank Mandiri.
Sampailah datang waktu senja tanggal 26 Agustus 2026. Matahari tenggelam seperti lebih bergegas. Bulan purnama pun mulai menampakkan menornya di langit timur Jakarta. Kian gelap, media sosial kian riuh: demo Pati di Jakarta pasti terjadi. Kian malam, situasi kian panas.
Puncak ketegangan terjadi ketika Mas Botok diajak masuk ke mobil polisi—atau sengaja dimasukkan. Mobil itu dihadang massa, dikepung, dan dipepet. Mas Botok harus dikeluarkan dari mobil. Massa sangat mengkhawatirkan akan dibawa ke mana tokoh demo mereka. Polisi akhirnya memenuhi permintaan itu. Selesai.
Pukul 02.30 WIB—sudah tanggal 27 Agustus—saya bangun. Biasa, langsung buka HP. Muncul notifikasi: live channel. Kamera mengarah ke jalan raya depan gedung DPR di Senayan. Beberapa orang terlihat duduk menunggu pagi, seperti juga menunggu siapa lagi yang akan datang ke lokasi demo.
Narasi live itu tidak provokatif. Narasinya sangat simpatik, pun terhadap komentar yang nadanya anti-demo. Tidak reaktif, tetap dingin, dan tetap simpatik.
Ternyata sedini itu sudah banyak yang melakukan live lewat channel masing-masing. Saya berpindah-pindah tayangan. Ketegangan sedikit muncul ketika narasi di situ menyebut mulai kesulitan sinyal. “Kami sudah tidak bisa menggunakan Indosat sama sekali,” ujar salah satu narator. Kesannya: pihak keamanan mulai membatasi gerak media sosial. Mungkin agar tidak terjadi seperti di Nepal: pemerintah terguling akibat demo yang digerakkan oleh medsos. Padahal rasanya Indosat tidak ada kepentingan apa-apa—Indosat sudah milik Ooredoo, Qatar.
Narasi lainnya memberi peringatan: “Kalau nanti kami tidak bisa live di channel ini, Anda bisa pindah ke FB,” katanya. Seolah semua jaringan seluler terancam akan ditutup. Lalu bermunculan pertanyaan di layar HP: akun FB mana yang dimaksud.
Sampai pukul 05.00 WIB saya terus mengikuti live dari sarang demo di Jakarta. Untung ada Dismorning tiap jam lima pagi. Saya tinggalkan live itu untuk live sendiri di Dismorning.
Saya bilang ke Sasa, host Dismorning: “Mungkin pagi ini tidak ada orang yang menyaksikan kita di Dismorning. Semua orang akan memilih menyaksikan live situasi Jakarta menjelang demo,” ujar saya kepada Sasa. “Orang ingin mengukur suhu politik Jakarta, aman atau tidak aman,” kata saya lagi.
Selesai Dismorning, saya harus berangkat olahraga. Di jalan, saya ikuti lagi live. Belum banyak perkembangan. Setelah itu, kesibukan lain susul-menyusul. Siangnya baru live lagi: begitu banyak yang mendukung demo, terutama dari pengemudi ojek online.
Tengah hari saya balik ke live: demo tidak seberapa besar, setidaknya tidak sebesar yang dikhawatirkan—sekitar 3.000 orang.
Tapi jumlah itu juga sudah besar, dan akan benar-benar menjadi besar kalau tidak segera ada jalan keluar. Mereka bisa bermalam di jalan raya depan gedung DPR. Simpati publik bisa kian besar, meluas, ditunggangi, dan berujung rusuh. Apalagi kalau sampai senja digantikan oleh kegelapan.
Bahaya itulah yang dibaca para politisi di DPR, khususnya oleh Wakil Ketua DPR Don Dasco. Maka, Mas Botok dan tim intinya diajak masuk ke ruang sidang DPR untuk berdialog. Lalu keluarlah jaminan dari Don Dasco yang sangat terkenal itu: Jika sampai 15 Desember UU Perampasan Aset tidak disahkan, ia akan mengundurkan diri. Pun para wakil ketua DPR lainnya: Cucun Ahmad Syamsurijal, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati. Tidak jelas mengapa Ketua DPR Puan Maharani tidak melibatkan diri dalam penjaminan itu.
Demo pun berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Letupan kecil tetap terjadi di sana-sini, tetapi bisa diatasi. Rupanya skenario “rusuh malam” kehilangan momentum. Kelihatannya tetap ada yang ingin memaksakannya, di mana sejumlah peristiwa terjadi dalam kegelapan. Namun, timing-nya sudah layu sebelum berkembang.
Don Dasco pantas mendapat Piala Citra untuk kategori penyutradaraan terbaik di festival film mendatang. (Dahlan Iskan)


