MALANG POST – Dampingi warga Desa Wonoagung atasi limbah susu cair dan kembangkan keripik gadung, mahasiswa KKN MAs Kelompok 24 UMM olah susu murni jadi yoghurt dan pupuk fermentasi.
Susu segar yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah kini diolah menjadi yoghurt. Sementara itu, susu yang rusak dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Di sisi lain, keripik gadung yang menjadi salah satu sumber penghasilan warga mulai diperkuat melalui branding dan pemasaran digital.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah–’Aisyiyah (KKN MAs) di Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang sepanjang Agustus 2026.
Pengolahan susu menjadi produk bernilai tambah menjadi langkah strategis. Mengingat sekitar 60 persen produksi susu Indonesia berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Malang menjadi salah satu sentra produksi utama dengan produksi susu sapi mencapai 150.660 ton pada 2025, atau sekitar 31 persen dari total produksi Jawa Timur yang mencapai 475.394 ton berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur.
KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat berskala nasional yang melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Pada pelaksanaan kali ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak sebagai tuan rumah.

Ketua KKN MAs Kelompok 24 Oktafiyan Hilal Akmal mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari pemetaan potensi sekaligus persoalan masyarakat. Wonoagung memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan peternakan yang masih dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Ia bersama kelompoknya mendampingi warga mengolah susu segar menjadi yoghurt. Susu terlebih dahulu dipanaskan, kemudian didinginkan hingga suhu yang sesuai sebelum ditambahkan starter bakteri baik. Setelah tercampur, susu difermentasi hingga mengental dan menghasilkan cita rasa khas yoghurt.
Sementara itu, susu yang rusak tidak langsung dibuang. Mahasiswa memanfaatkannya sebagai bahan pupuk dengan menambahkan Effective Microorganisms 4 (EM4) sebagai aktivator, kemudian mencampurkannya secara merata serta melakukan proses fermentasi hingga siap dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
“Jadi susu itu tidak hanya dijual dalam bentuk susu cair murni saja, melainkan bisa diolah menjadi yoghurt. Sedangkan susu yang basi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian mereka,” jelasnya.
Inovasi tersebut sekaligus menjawab persoalan penanganan limbah susu. Berdasarkan penuturan masyarakat kepada Oktafiyan, sebelumnya pernah terdapat sekitar 25.000 liter susu rusak yang terbuang ke sungai.

Selain pengolahan susu, mahasiswa juga mengembangkan potensi ubi gadung yang melimpah di Dusun Sempu Kidul dan Sempu Lor. Keripik gadung menjadi salah satu sumber penghasilan warga, namun masih menghadapi kendala pemasaran karena sebagian besar produsennya merupakan orang tua yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital.
“Para pembuat keripik mayoritas orang tua dan mereka masih awam dengan teknologi. Karena itu, kami bantu perkuat pemasarannya melalui pembuatan poster, pamflet, kartu, serta stiker branding produk,” ungkapnya.
Selain inovasi ekonomi, KKN MAs di Wonoagung juga menjalankan program pendidikan. Mahasiswa terlibat dalam kegiatan mengajar di SD Negeri 1 Wonoagung serta TPQ di wilayah Dusun Sepukul dan Toyomerto. Mereka juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, termasuk cek gula darah bagi ibu-ibu dan lansia, serta pendataan kondisi gizi anak terkait pencegahan stunting.
Di sisi lain, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN MAs Kelompok 24 Sofa Amalia, S.Psi., M.Si. mengapresiasi kejelian mahasiswa yang mampu memetakan potensi sekaligus persoalan masyarakat. Menurutnya, program tersebut menunjukkan mahasiswa tidak sekadar menjalankan rutinitas kegiatan, melainkan berupaya menghadirkan solusi konkret sesuai kebutuhan warga.
“KKN MAs menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkolaborasi langsung dengan masyarakat. Harapannya, apa yang sudah dirintis mahasiswa bisa dilanjutkan oleh masyarakat dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




