MALANG POST – Antisipasi puncak kemarau 2026, BPBD Kota Batu petakan tiga kawasan rawan karhutla, aktifkan Pusdalops 24 jam, dan susun Rencana Kontingensi Arjuno-Welirang.
Puncak musim kemarau 2026 membuat kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Batu ditingkatkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memetakan tiga kawasan yang dinilai memiliki potensi kerawanan tinggi.
Ketiga wilayah tersebut meliputi kawasan Gunung Arjuno-Welirang, lereng Gunung Panderman, serta kawasan lereng di Desa Oro-Oro Ombo. Kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat potensi munculnya titik api (hotspot) perlu diantisipasi lebih dini.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, tiga kawasan tersebut menjadi perhatian khusus karena memiliki karakteristik wilayah yang rentan memicu karhutla.
“Titik-titik potensial kebakaran hutan dan lahan di Kota Batu berada pada wilayah-wilayah tertentu yang memang memiliki kerawanan tinggi,” ujar Gatot, Kamis (13/8/2026).
Gunung Arjuno-Welirang menjadi salah satu kawasan prioritas. Selain memiliki tutupan vegetasi yang luas, kondisi kontur wilayah pegunungan yang curam juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman apabila api terlanjur membesar.

PEMADAMAN: Personel BPBD Kota Batu saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kota Batu beberapa tahun kemarin. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sementara itu, lereng Gunung Panderman dan wilayah lereng Desa Oro-Oro Ombo turut mendapat perhatian serius. Kedua kawasan tersebut berbatasan langsung dengan pemukiman warga, sehingga kebakaran berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas apabila tidak segera ditangani.
Guna memperkuat langkah antisipasi, Pemkot Batu sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan, lahan, dan kekeringan melalui Surat Keputusan Nomor 188.45/120/35.9.112/2026 tertanggal 25 Mei 2026.
Status tersebut menjadi pijakan utama penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana selama musim kemarau. “Sebagai tindak lanjut, BPBD mengaktifkan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dengan sistem piket 24 jam penuh,” jelas Gatot.
Tidak hanya mengandalkan kesiapan personel, BPBD juga menyusun dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) Karhutla khusus kawasan Arjuno-Welirang. Dokumen ini menjadi pedoman operasional dalam koordinasi dan penanganan darurat apabila terjadi kebakaran di kawasan tersebut.
Dari sisi pencegahan, pengawasan terhadap kawasan rawan terus ditingkatkan secara berkala. Edukasi kepada masyarakat juga digencarkan untuk menekan potensi kebakaran yang dipicu oleh kelalaian aktivitas manusia (human error).
Upaya pencegahan tersebut dilakukan melalui sinergi lintas sektor. BPBD memperkuat koordinasi dengan Perhutani, Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, TNI, Polri, Manggala Agni, hingga Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat desa.
“BPBD Kota Batu telah melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan melalui pemetaan kawasan berpotensi karhutla, peningkatan pengawasan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat,” terang Gatot.
Kolaborasi antarinstansi dinilai sangat krusial karena penanganan karhutla membutuhkan respons cepat (early detection and quick response). Semakin cepat titik api terdeteksi, semakin besar peluang api dipadamkan sebelum meluas.
Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan kemunculan asap maupun titik api di sekitar kawasan hutan. Warga diminta segera melapor apabila menemukan indikasi awal kebakaran.
“Apabila masyarakat melihat titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada instansi terkait. Laporan dapat disampaikan melalui pemerintah desa, kecamatan, atau langsung ke Pusdalops BPBD Kota Batu,” tegasnya.
Melalui pengawasan berlapis dan deteksi dini tersebut, BPBD berharap potensi karhutla selama puncak kemarau dapat ditekan secara optimal. Peran aktif masyarakat menjadi kunci penting dalam memutus rantai potensi bencana karhutla di Kota Batu. (*/Ananto Wibowo/Ra Indrata)




