MALANG POST – Peringati HUT ke-81 RI dan resmikan revitalisasi Gelora Ganesha bernilai Rp1 miliar, Pemdes Torongrejo bersama Wali Kota Batu Nurochman gelar Liga Desa 2026 bagi warga usia 35–40 tahun ke atas.
Lapangan Gelora Ganesha di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo kini kembali ramai oleh aktivitas olahraga warga. Bukan sekadar mengejar gelar juara, Liga Desa Torongrejo 2026 menjadi ruang bagi warga lintas Rukun Warga (RW) untuk mempererat persaudaraan sekaligus mengisi momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan kegiatan positif.
Kompetisi sepak bola tersebut diikuti tujuh tim perwakilan dari tujuh RW di Desa Torongrejo. Menariknya, para pemain didominasi oleh warga berusia minimal 40 tahun. Setiap tim juga diperbolehkan menurunkan maksimal lima pemain berusia 35 tahun.
Wali Kota Batu Nurochman menilai format kompetisi tersebut menjadi salah satu cara sederhana, namun efektif untuk menjaga semangat olahraga sekaligus membangun kebersamaan masyarakat di tingkat desa. Menurutnya, peringatan kemerdekaan tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni, melainkan perlu diwujudkan melalui kegiatan yang memperkuat persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong.
“Liga Desa ini bukan semata-mata pertandingan untuk mencari juara. Lebih dari itu, ini adalah ruang untuk mempertemukan warga, mempererat hubungan antar-rukun warga, sekaligus menjaga semangat olahraga di tengah masyarakat,” kata Wali Kota Batu yang akrab disapa Cak Nur ini, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan, olahraga sepak bola mengajarkan banyak nilai kehidupan, mulai dari kerja sama tim, menghargai peran orang lain, mematuhi aturan, hingga belajar menerima kemenangan maupun kekalahan secara lapang dada.

LIGA DESA: Wali Kota Batu Nurochman saat menghadiri pembukaan Liga Desa Torongrejo. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Oleh karena itu, Cak Nur berpesan agar seluruh peserta tetap mengedepankan sportivitas selama kompetisi berlangsung. Menurutnya, semangat memenangkan pertandingan tidak boleh mengikis persaudaraan antarwarga.
“Bertandinglah dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap junjung tinggi sportivitas. Jangan sampai semangat memenangkan pertandingan mengalahkan semangat persaudaraan,” tuturnya.
Keberadaan kompetisi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali Lapangan Gelora Ganesha sebagai ruang publik olahraga masyarakat. Lapangan tersebut awalnya dibangun secara mandiri oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Torongrejo sebelum akhirnya mendapat bantuan dari pemerintah daerah untuk tahap renovasi lanjutan.
“Lapangan desa ini awalnya dibangun secara mandiri oleh Desa Torongrejo tanpa APBD. Setelah berdiri, baru mengajukan bantuan untuk meneruskan renovasi stadion,” ujarnya.
Pemkot Batu kemudian menggelontorkan dukungan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk melanjutkan perbaikan dan renovasi fasilitas tersebut. Kehadiran lapangan yang lebih representatif diharapkan tidak hanya menjadi arena pertandingan, melainkan juga ruang aktivitas masyarakat secara berkelanjutan.
“Jadikan lapangan ini sebagai tempat bertemu, bersilaturahmi, dan merayakan kemerdekaan bersama,” tambah Cak Nur.
Kehadiran fasilitas olahraga yang memadai tersebut mulai memberikan dampak positif bagi masyarakat. Warga, terutama kalangan anak muda, semakin terdorong untuk memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan olahraga yang sehat.
Cak Nur berharap Liga Desa Torongrejo 2026 tidak berhenti sebagai agenda tahunan pemeriah peringatan kemerdekaan saja. Lebih dari itu, kompetisi tersebut diharapkan berkembang menjadi tradisi positif yang mampu menjaga kebugaran warga serta memperkuat hubungan sosial di lingkungan desa.
Semangat kebersamaan tersebut dinilai sejalan dengan visi mBatu SAE, Sedoyo SAE. Pembangunan Kota Batu, menurut Cak Nur, tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, melainkan juga menciptakan masyarakat yang sehat, guyub, aktif, dan peduli terhadap lingkungan sebagai bagian penting dalam mewujudkan kemajuan daerah. (*/Ananto Wibowo/Ra Indrata)




