MALANG POST – Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) kembali meneror kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Akibat kobaran api yang terus meluas di area Kaldera Bromo, Balai Besar TNBTS, resmi menutup total akses kunjungan wisatawan dari seluruh jalur terhitung sejak Sabtu (8/8/2026) lalu.
Penutupan darurat ini diambil demi menjamin keselamatan para pengunjung sekaligus memberi ruang gerak bagi tim gabungan dalam menjinakkan titik api.
Sengkarut pemadaman di tengah cuaca ekstrem, pembatasan radius aman, hingga lonjakan angka wisatawan dibedah tuntas dalam talk show Idjen Talk di Radio City Guide 911 FM pada Senin (10/8/2026) hari ini.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, memaparkan bahwa sosialisasi penutupan sudah disebar sejak tiga hari sebelum eksekusi (H-3) melalui jaringan komunitas driver jip Bromo.
“Saat ini wisatawan dari jalur Poncokusumo-Kabupaten Malang hanya dibolehkan berkunjung maksimal sampai area Bromo Hillside. Akses turun menuju lautan pasir dan kawah ditutup rapat. Tantangan terbesar pemadaman saat ini adalah embusan angin kencang yang bertiup dari arah Curah Banteng menuju area kaldera,” jelas Firmando.
Tren Kunjungan Melonjak Sebelum Musibah
Penutupan ini terbilang sangat ironis mengingat tren kunjungan ke destinasi kelas dunia ini sedang berada di puncak performa. Disparbud mencatat, total kunjungan wisatawan ke Kabupaten Malang tahun ini sudah menembus 5 juta orang. Dari angka tersebut, sebanyak 272 ribu turis masuk ke Bromo via pintu Jemplang, Poncokusumo.
“Kunjungan via Jemplang naik signifikan. Pada Juli 2025 lalu tercatat 30 ribu wisatawan, sedangkan pada Juli 2026 melonjak menjadi 39 ribu orang. Bromo adalah ikon internasional kita bersama Coban Sewu,” tambah Firmando.
Pentingnya Narasi Positif dan Kesiapan Fasilitas
Merespons musibah tahunan ini, Tourismologist Universitas Brawijaya, Faidlal Rahman, mengimbau seluruh pelaku industri jasa wisata untuk menyampaikan informasi secara utuh, jujur, dan tidak menyebarkan kepanikan (fearmongering).
Faid menekankan bahwa narasi optimis perlu terus dibangun agar daya tarik Bromo tidak redup setelah musibah kebakaran berhasil diatasi.
“Pelaku wisata harus mengedukasi publik secara utuh selama proses pemadaman berlangsung. Langkah krusial berikutnya pasca-pemadaman adalah inventarisasi dan pemulihan fasilitas yang rusak. Sebelum kawasan Bromo dibuka kembali secara komersial, pastikan standar keamanan, keselamatan, dan kenyamanan pengunjung sudah benar-benar siap 100 persen,” tegas Faid.
Kebakaran Bromo adalah ujian berat bagi ekosistem pariwisata Jawa Timur. Kolaborasi ketat antara petugas pemadam di lapangan, ketegasan pembatasan radius aman, serta narasi edukatif dari para pelaku usaha menjadi kunci penting agar Bromo bisa segera pulih dan kembali menyapa dunia. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




