MALANG POST – Perhelatan DIPA MediArt Festival 2026 mengulas tantangan industri animasi nasional di Immersive Gallery Universitas Brawijaya, Malang, Rabu (28/10/2026), menghadirkan praktisi Astu Prasidya dan Ali Mahrus guna membedah narasi karya, seni kolaborasi, serta pemanfaatan etis kecerdasan buatan.
Gelaran DIPA MediArt Festival 2026 kembali menghadirkan ruang diskusi inspiratif bagi para pegiat seni digital dan visual. Bertempat di Immersive Gallery Universitas Brawijaya (UB), sesi bertajuk “Talkshow: Animation Day” mempertemukan dua praktisi animasi tanah air, yakni Astu Prasidya (Sutradara dan Pendiri Tooliq Animation) serta Ali Mahrus (Pendiri Roundbox Animation) dengan dipandu oleh Ibad (Hello Motion Malang).
Diskusi berdurasi sekitar satu jam ini membedah berbagai realitas industri animasi Indonesia, mulai dari seni bercerita (storytelling), pembentukan reputasi studio, penyelarasan idealisme dengan pasar, hingga penyikapan atas pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Animasi sebagai Medium Bertutur, Bukan Sekadar Teknik Gerak
Membuka perbincangan, Astu Prasidya menekankan bahwa animasi pada hakikatnya merupakan teknik sekaligus medium untuk menyampaikan narasi, bukan sekadar genre visual semata. Menurutnya, sebagus apa pun visual yang dirancang, daya pikat utama karya animasi terletak pada kekuatan cerita dan artikulasi emosi.
“Animasi itu teknik untuk menyampaikan cerita. Cerita yang sederhana sekalipun, jika dibawakan dengan pendekatan emosional dan struktur narasi yang presisi, akan mampu menggerakkan empati penonton,” ujar Astu, Rabu (28/10/2026).
Ia menambahkan pengalamannya saat memimpin Tooliq Animation menggarap proyek modernisasi sastra dan cerita rakyat Nusantara bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, yang mana puluhan siswa SMK dilibatkan secara kolaboratif dalam proses produksi film pendek animasi.
Membangun Studio dari Keresahan: Komitmen di Atas Janji Manis
Sementara itu, Ali Mahrus membagikan perjalanan berdirinya Roundbox Animation di Malang pada 2017. Berawal dari keresahan melihat banyaknya talenta animator lokal yang merantau ke luar daerah, Ali bersama rekan-rekannya memutuskan mendirikan studio di tanah kelahiran. Studio yang awalnya hanya beranggotakan 3–4 orang kini telah berkembang menaungi hampir 100 seniman dan membuka studio satelit di Depok hingga Tasikmalaya.
Terkait kunci meraih kepercayaan klien skala nasional maupun internasional, Ali menekankan integritas dan ketepatan waktu.
“Klien luar negeri tidak selalu mencari harga paling murah, tetapi mitra yang bisa dipercaya. Jangan sampai berjanji berlebihan (overpromise). Sekali reputasi tercoreng, dampaknya sangat panjang,” tegas Ali.
Menyelaraskan Idealisme Kreatif dan Kebutuhan Industri
Isu klasik antara idealisme seniman dan tuntutan komersial turut menjadi fokus pembahasan. Ali Mahrus menjelaskan bahwa pelaku industri harus memisahkan secara tegas antara proyek jasa (service project) dan pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) mandiri.
Senada dengan Ali, Astu mengingatkan pentingnya mengenali batasan kapasitas (know your limits) serta menjalin komunikasi yang transparan. Keduanya menyayangkan minimnya kultur komunikasi terbuka di kalangan kreator pemula yang sering kali dipicu oleh rasa takut disalahkan.
Sikap terhadap AI: Alat Bantu, Bukan Pengganti Jiwa Seni
Menanggapi kekhawatiran maraknya peranti AI di industri kreatif, kedua narasumber sepakat memandang AI sebatas alat bantu kerja (tool). Ali menilai AI efektif memangkas waktu pada tahapan teknis eksplorasi awal (scratch ideas) maupun pemrosesan efek visual. Kendati demikian, kendali artistik utama tetap berada di tangan manusia.
Di sisi lain, Astu menyoroti pentingnya etika penggunaan dan kontrol kreatif. Menurutnya, karya seni yang dihasilkan manusia memiliki nilai empati, proses pemikiran, dan jiwa yang tidak dapat diimitasi oleh mesin.
Konsistensi dan Integritas sebagai Kunci Bertahan
Menutup sesi diskusi, kedua pembicara menitipkan pesan bagi para kreator muda agar tidak terjebak pada hasrat hasil instan. Konsistensi, kemauan belajar secara berkelanjutan, serta komitmen menjaga keandalan kerja merupakan modal utama untuk bertahan di industri kreatif. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




