KOMPAK: Hari Santri Nasional 2026, MWCNU Sumbermanjing Wetan, upacara Hari Santri, Sumawe, PGRI Sumbermanjing Wetan, guru lintas agama, Kabupaten Malang. (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
MALANG POST – Semangat Hari Santri Nasional (HSN), tidak hanya bergema di lingkungan pesantren. Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, hampir 1.000 siswa, guru, dan kepala sekolah dasar mengikuti upacara peringatan HSN 2026 di Lapangan Olahraga Desa Druju, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumbermanjing Wetan itu, menjadi ruang untuk meneguhkan nilai perjuangan santri. Sekaligus mempererat kebersamaan lintas agama di lingkungan pendidikan.
Peringatan HSN ke-12 tersebut mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Sejumlah unsur organisasi Nahdlatul Ulama (NU) turut hadir, di antaranya Fatayat NU, Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dan badan otonom NU lainnya.
Kehadiran guru dari berbagai latar belakang agama menjadi salah satu sisi penting kegiatan tersebut. Momentum Hari Santri dinilai dapat menjadi sarana memperkuat toleransi, persatuan, dan semangat kebangsaan, bukan hanya bagi warga pesantren, tetapi juga masyarakat luas.
Pengawas Dinas Pendidikan Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Pamuji, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti perwakilan guru dan kepala sekolah dari 51 lembaga pendidikan. Peserta juga mencakup perwakilan guru lintas agama.
“Untuk peserta upacara dari kalangan siswa yang terbanyak dari Pool Sumbermanjing Wetan dan Pool Klepu yang jumlahnya hingga mencapai sekitar 610 siswa,” jelas Pamuji.
Ia merinci, terdapat 34 kepala sekolah dan sekitar 310 guru yang mengikuti kegiatan. Jika digabungkan dengan jumlah siswa, total peserta dari kalangan sekolah dasar mencapai 954 orang.
“Untuk kepala sekolah yang hadir sebanyak 34 orang. Kemudian ditambah guru sekitar 310 orang. Jumlah total khusus peserta upacara dari Sekolah Dasar sebanyak 954 orang,” ungkapnya.
Perkuat Silaturahmi Sekolah dan NU
Bagi Pamuji, keterlibatan sekolah dasar dalam peringatan Hari Santri merupakan kesempatan untuk mempererat hubungan antara lembaga pendidikan dan jajaran MWCNU Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat kebersamaan, gotong royong, serta penghargaan terhadap perjuangan para santri dan ulama dalam sejarah Indonesia.
“Semoga semangat perjuangan, akhlak mulia, dan keteguhan para santri senantiasa menginspirasi generasi muda kita untuk terus belajar dan mengabdi demi kemajuan NKRI,” ujarnya.

Pamuji juga berharap partisipasi sekolah pada peringatan berikutnya semakin meningkat. Dengan begitu, hubungan antara sekolah dasar dan organisasi keagamaan di tingkat kecamatan dapat terus terjalin melalui kegiatan yang memperkuat karakter dan nilai kebangsaan.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Ketua PGRI setempat, H. Ahmad Sa’id, S.Pd., mengatakan Hari Santri bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga momentum untuk meneruskan perjuangan tokoh-tokoh yang menggagas peringatan tersebut.
“Berkat perjuangan dua tokoh penting di Kabupaten Malang ini terwujud peringatan upacara HSN seperti yang kita laksanakan hari ini,” katanya, merujuk pada H. Abdul Rahman dan KH. Thoriq Ziyad.
Sa’id berharap kegiatan serupa terus berlanjut di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Menurutnya, Hari Santri memiliki nilai penting bagi dunia pendidikan karena perjuangan santri dan ulama turut membentuk perjalanan bangsa.
“Upacara peringatan HSN ini sudah masuk skala nasional. Khusus untuk di Kecamatan Sumbermanjing Wetan jangan sampai kegiatan seperti ini tidak berlanjut,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, PGRI Cabang Sumbermanjing Wetan memberikan bantuan sebesar Rp1 juta dan menghadirkan dua grup drumband untuk memeriahkan acara.
Santri dan Sejarah Perjuangan Bangsa
Sa’id menegaskan, santri memiliki peran dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik melalui perjuangan fisik maupun pemikiran.
Ia mencontohkan Resolusi Jihad yang menjadi salah satu bagian penting dari konteks sejarah perlawanan rakyat terhadap upaya kembalinya kekuasaan kolonial, termasuk menjelang peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah dan guru yang telah berpartisipasi, termasuk perwakilan dari lintas agama.
“Atas nama keluarga besar PGRI Cabang Kecamatan Sumbermanjing Wetan mengucapkan banyak terima kasih. Semoga amal ibadah panjenengan semua nantinya menjadikan ilmu yang barokah,” pungkasnya.
Sementara itu, Drs. H. Abdul Rahman, salah satu penggagas peringatan Hari Santri pada 2015, menegaskan bahwa HSN seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
“HSN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan peran santri sebagai benteng moral, penjaga nilai agama, dan penggerak peradaban bangsa,” tegas pria yang akrab disapa Abah Dur tersebut.
Melalui keterlibatan sekolah, guru lintas agama, organisasi NU, dan PGRI, peringatan Hari Santri di Sumbermanjing Wetan diharapkan terus menjadi ruang untuk menanamkan nilai perjuangan, memperkuat toleransi, serta membangun semangat kebersamaan di kalangan generasi muda. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




