Oleh: Dahlan Iskan
Mungkin akan khas Yogyakarta: alon-alon. Pelan-pelan. Tapi pelaksanaan Malioboro sebagai bagian Sumbu Filosofi Yogyakarta sudah mulai bergerak. Memang kendaraan mobil masih belum bisa dicegah masuk ke Jalan Malioboro.
Tapi dua program sudah selesai dilaksanakan: pemindahan parkir sepeda motor di dekat Stasiun Tugu dan pemindahan pangkalan bus wisata di dua lokasi lainnya.
Saya mampir ke Wali Kota Hasto Wardoyo usai acara Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Jumat lalu (Lihat Disway 12 Oktober 2026: Hati Ngadirejo). Saya ingin mendengar perkembangan cerita soal warisan budaya yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2023 lalu itu.
“Kesulitan terbesar nanti adalah mengatasi banyaknya jalan-jalan kecil yang memotong Malioboro,” ujar Hasto.
Kalau saja perlintasan tidak sebanyak itu, tentu lebih mudah mengatasinya. Kalau saja jalan-jalan melintang itu sedikit lebih lebar, juga lebih mudah.
“Masih ada kesulitan lain, yakni sekolah di situ,” ujar Hasto. Rasanya ada empat sekolah di sekitar Malioboro—yang Anda pasti sudah tahu sekolah apa saja itu.
Sumbu Filosofi Yogyakarta, termasuk Malioboro di dalamnya, ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dengan banyak konsekuensi. Salah satunya: inilah tata kota yang dirancang menggunakan budaya dan filsafat kehidupan.
Sumbu itu panjangnya 6 km. Selatan-utara. Lurus. Seperti sumbu. Itu dimulai dari Krapyak di selatan sampai Tugu di utara. Persis di tengahnya didirikan Keraton Yogya. Lengkap dengan alun-alun dan Masjid Kauman.

Sumbu itu melambangkan perjalanan hidup manusia: lahir, hidup, mati. Bahwa keraton ditafsirkan sebagai lambang “hidup” memang kenyataan. Banyak kehidupan di keraton. Mulai dari perebutan kekuasaan sampai melimpahnya harta. Termasuk berkembangnya perseliran.
Lalu, bahwa Tugu diterjemahkan sebagai lambang akhir kehidupan juga bisa diterima. Mirip batu nisan di kuburan. Tapi bagaimana bisa, panggung di Krapyak melambangkan kelahiran manusia?
Yang disebut Panggung Krapyak itu wujudnya bangunan mirip benteng. Orang bisa masuk ke dalam panggung lewat empat pintu dari segala arah. Bisa juga naik tangga untuk ke lantai atas. Lantai atas itu berpagar tapi tidak beratap. Setinggi sekitar 10 meter. Dari lantai atasnya terlihat apa saja yang terjadi di sekitarnya.
Sekitar panggung itu dulu hutan. Memang di awal pembangunannya, panggung itu dimaksudkan untuk mengawasi perburuan kijang di hutan sekitarnya. Anda masih ingat: di zaman itu Krapyak masih berupa hutan. Tempat pejabat keraton berburu rusa. Kata “krapyak” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang artinya perburuan. Di Magetan perburuan seperti itu disebut gropyok. Tapi di bagian mana dari gropyok itu yang bisa ditafsirkan sebagai lambang kelahiran manusia?
Sumbu selatan-utara Yogya itu dibangun tahun 1755—sekitar 20 tahun sebelum kemerdekaan Amerika. Yang membangunnya Anda sudah tahu: Sultan Hamengkubuwono I. Yakni sebagai ibu kota baru Kerajaan Mataram Islam setelah Mataram pecah menjadi Solo dan Yogyakarta.
Sebelum itu ibu kota Mataram adalah Kartasura. Yogyakarta belum ada apa-apa. Pangeran Mangkubumi—nama sebelum menjadi Hamengkubuwono I—tergolong sayap antipenjajahan di Istana Mataram. Bertahun-tahun melawan Belanda. Akhirnya ia mau diajak berunding. Itulah yang disebut Perjanjian Giyanti.
Hasil perundingan: wilayah Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi mendapat wilayah di sebelah barat. Jadi rajanya yang pertama. Gelarnya menjadi Hamengkubuwono I.
Yang tertinggal di Kartasura pun memindahkan ibu kota ke Desa Sala—sekarang di pusat Kota Solo. Yakni setelah terjadinya Geger Pacitan atau Geger Kuning—gerakan perlawanan yang banyak diikuti orang Tionghoa. Orang Tionghoa memang lagi marah kepada Belanda di mana-mana. Yakni sejak Belanda melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga Tionghoa di Batavia dan Tangerang.

Setelah menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota pasca-Perjanjian Giyanti, Hamengkubuwono I membuat perencanaan kota Yogyakarta. Bukan pakai sistem kotak-kotak seperti Washington DC. Bukan cul-de-sac seperti Paris. Bukan lingkar-lingkar seperti Italia. Tapi berdasar sumbu selatan-utara. Itu dikaitkan dengan filsafat perjalanan kehidupan manusia—meski soal Panggung Krapyak masih menyisakan tanya.
Yang membuat itu jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO: rancangan yang sudah berumur 300 tahun itu masih hidup sampai sekarang dan masih jadi pembicaraan. Memang Malioboro masih belum bisa dipulihkan sepenuhnya. UNESCO dan Pemkot Yogyakarta terus berkoordinasi. Mereka sudah punya jadwal tahapan-tahapan program pembenahannya. Saling monitor. Tapi bola ada di Pemkot Yogyakarta.
Di Shanghai, problem jalan melintas seperti itu juga ada di Nanjing Dong Lu. Itulah “Malioboro”-nya Shanghai. Mobil tidak boleh melintas. Tapi jalan yang memotongnya tidak sebanyak di Malioboro. Jalan yang melintas itu juga cukup lebar. Pejalan kaki di Jalan Nanjing Dong Lu sesekali di-stop untuk memberi kesempatan lalu lintas di jalan yang memotong tetap berfungsi.
Wali Kota Hasto sudah berhasil mengayunkan dua langkah di Malioboro. Ia masih perlu banyak melangkah di depan. Ia wali kota pertama dari PDI Perjuangan di Yogyakarta. Juga wali kota pertama yang bukan berdarah pendiri Muhammadiyah.
Hasto sukses besar saat jadi bupati Kulon Progo. Juga sukses ketika jadi kepala BKKBN—jabatan setara menteri. Hasto pun sukses sebagai dokter—sampai jadi ahli bayi tabung dan punya rumah sakit sendiri di Yogyakarta. Ia juga sukses sebagai suami dari seorang istri yang juga dokter spesialis anak.
Tugasnya sebagai wali kota Yogyakarta tinggal tiga tahun lagi. Ia sulit menjabat dua periode karena sudah dihitung satu periode saat jadi bupati Kulon Progo.
“Masih berpraktik sebagai dokter?” tanya saya.
“Masih, meskipun tinggal seminggu sekali,” katanya. “Itu pun saya batasi 50 pasien saja,” tambahnya.
“Kenapa masih berpraktik?”
“Itu untuk memenuhi pesan ibu. Tidak boleh berhenti menolong pasien,” jawabnya.
Kini pasiennya tidak hanya manusia. Ia juga harus menolong merawat warisan dunia lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) berupa: Sumbu Filosofi Malioboro.
Saya pun pamit, besoknya harus ke Nagoya. (Dahlan Iskan)




