Oleh: Dahlan Iskan
Di Yogyakarta saya ingin tahu: seberapa banyak para perajin sudah memanfaatkan AI untuk perusahaan mereka. Hari itu, Jumat sore lalu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Yogyakarta mengadakan acara Temu Responden 2026. Mereka rata-rata adalah pengusaha.
Sri Darmadi Sudibyo, Kepala BI KPw Yogyakarta, meminta saya berdialog dengan mereka. Temanya: Stay Relevant, Stay Resilient: Strategi Bertumbuh di Era Perubahan.
Tempat acara itu di Hotel Grand De Djokja—ternyata itu hotel lama Garuda (sempat bernama Natour Garuda, Inna Garuda, dan Grand Inna Malioboro). Letaknya tetap di ujung Jalan Malioboro. Dekat Stasiun Tugu—stasiun kereta api utama kota itu.
Lobi hotel ini ternyata sudah pindah ke samping, tidak lagi menghadap ke Jalan Malioboro. Itu sebagai antisipasi dilaksanakannya pembenahan Malioboro sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Yakni ketika kendaraan bermotor tidak boleh lagi melintas di jalan utama itu.
Ballroom hotel itu penuh. Tiga eksportir berani saya ajak naik ke panggung. Tiga-tiganya ekspor hasil kerajinan tangan. Khas Yogyakarta. Mereka adalah Johni Sahlan (Tashinda), Deddy Effendy (Palem Craft), dan Riris Simanjuntak (Indo Risakti).

Eksporter kerajinan tangan asal Yogyakarta Riris Simanjuntak (dua dari kiri/Indo Risakti) dan Deddy Effendy (tiga dari kiri/Palem Craft) berdialog dengan Dahlan Iskan di panggung Temu Responden 2026 di Hotel De Djokdja, Yogyakarta, 9 Oktober 2026. (Foto: Disway)
Mereka semua yakin, di zaman AI pun, hab (hub) ekspornya masih akan meningkat. Seorang wanita, Riris Simanjuntak, pemilik (owner) Indo Risakti, ingin memperluas pasar ke Australia. Sudah lebih dari 15 tahun dia ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa.
Di bagian mana dia memanfaatkan AI?
“Saya minta AI mendata jaringan pasar di sana,” ujarnyi. Dia mendapatkan-nyi. Kini tahapnya masih korespondensi. Belum mengarah ke penjualan.
“Kenapa hanya sebatas itu? Tidak langsung mengarah ke penjualan?”
“Kami kan bukan pedagang eceran (retail). Tidak jualan eceran,” jawabnyi.
Saya pun tahu: pengusaha itu rupanya belum mau berubah. Dia masih berpegang pada doktrin lama: membedakan antara grosir dan eceran. Dia masih berpegang pada ajaran: ekspor itu untuk perusahaan pengimpor (importer) di negara tujuan.
Maka saya diskusikan perlunya perubahan caranyi melangkah. Kebetulan saya punya contoh baru. Contoh itu baru saya dapat dua minggu lalu. Yakni saat saya mesong di rumah kematian Adi Jasa, Surabaya.

Dahlan Iskan (dua dari kanan) berfoto bersama dengan (dari kiri) Direktur Pemasaran dan Jasa Syariah BPD DIY Raden Agus Trimurjanto, Kepala OJK DIY Eko Yunianto, Kepala BI KPw DIY Sri Sumardi Sudibyo, dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y. Sri Susilo. (Foto: Bank Indonesia Kantor Perwakilan DIY).
Mesong adalah istilah di kalangan warga Tionghoa untuk melayat. Yang meninggal: ibunda teman baik saya—saya sedang di luar negeri saat ayahnya meninggal dua tahun lalu. Sang ayah juga sahabat yang saya kagumi: 10 tahun sebelum meninggal, ia berani membagi warisan secara total. Di umurnya yang 80 tahun, justru baru mulai memanggil guru nyanyi untuk lagu-lagu seriosa. Sejak muda ia suka menyanyikan lagu-lagu keroncong seperti Sepasang Mata Bola.
Di mesong itu saya tidak bisa segera pamit. Begitu banyak menu a la carte yang ditawarkan untuk disajikan. Sepuluh ruangan disewa untuk persemayaman jenazah—pertanda betapa banyak pelayat yang datang.
Salah satu pabriknya saja memproduksi per (pegas) mobil hampir untuk semua mobil yang dibuat di Indonesia. Rumahnya yang besar punya halaman belakang lapangan golf. Yang membuat saya tidak bisa cepat pamit adalah datangnya satu telepon ke salah satu anak almarhumah. Orang dari Bandung sedang menuju ke sini. Ingin sekali bisa bertemu. “Sudah dalam perjalanan dari bandara,” ujarnya.
Ia pengusaha garmen yang sukses. Karyawannya 15.000 orang. Ekspor mendominasi omzetnya.
Begitu datang, ia cepat-cepat sembahyang di depan peti jenazah. Lalu bergabung ke meja kami yang penuh makanan: soto kudus, tahu campur, sushi, rawon, es krim, es cendol, ronde, dan saya tidak hafal selebihnya.
Sambil melayat, kami pun berbicara soal keadaan ekonomi nasional. Termasuk ekspor garmen. Ternyata pabrik sebesar miliknya kini melayani pembeli eceran di luar negeri. Ini saya jadikan contoh hidup bagi pengusaha di Yogyakarta itu: jangan lagi terpaku pada cara lama.

Eksporter kerajinan tangan Yogyakarta Johni Sahlan (owner Tashinda) diminta ke panggung oleh Dahlan Iskan. (Foto: Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY)
Ekspor eceran yang dikembangkan pengusaha Bandung itu adalah jas. Ia melayani pembelian biarpun hanya satu jas. Yang memesan orang dari Jepang. Ia mengekspor jas satu biji untuk satu pengiriman ke Jepang.
Kian hari order eceran seperti itu kian banyak. Saat mesong itu, ia mengatakan ekspor ecerannya sudah mencapai 1.000 jas sebulan.
Maka saya minta pimpinan PT Pos Indonesia Cabang Utama Yogyakarta, Bebi Ahmed Jo Pical, untuk naik ke panggung. Saya minta ia berdiskusi dengan eksportir kerajinan itu mengenai teknis ekspor eceran. Apalagi kini Pos Indonesia sudah punya layanan seperti itu.
Seorang eksportir lainnya, Deddy Effendy, bercerita: kini ia selalu meminta bantuan AI untuk membuatkan desain produk kerajinan yang baru. Ia tidak punya lagi karyawan di bidang desain.
“Dalam sebulan berapa kali minta bantuan desain dari AI?”
“Tiap hari, Pak,” jawabnya.
“Hah? Tiap hari?”
“Iya, Pak.”
“Sebulan berapa desain yang dibuat AI?”
“Bisa 60 desain, Pak.”
“Hahaha…”.
Itulah peran AI di perusahaannya. Ia belum memanfaatkan AI untuk memperluas pemasaran (marketing).
Satu eksportir lagi, Johni Sahlan, mengombinasikan AI dengan cara tradisional. Termasuk dalam melihat dari mana datangnya ancaman masa depan perajin Yogyakarta.
“Dari Kamboja,” katanya.
“Sudah pernah ke Kamboja?”
“Sudah, Pak. Satu minggu di sana,” jawabnya.
Saya setuju dengan jawaban itu. Saya lihat Kamboja maju sekali. Bisa jadi the next Vietnam. Saya pernah melakukan perjalanan darat dari Kamboja ke Vietnam—untuk melihat denyut perkembangan ekonomi di kawasan itu. Belum semaju Indonesia, tetapi grafik kenaikannya sangat tinggi.

Pengusaha minyak atsiri Lily Widjaja curhat kepada Dahlan Iskan soal makin langkanya pohon nilam. (Foto: Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY)
Dulu, di antara tiga negara Indochina, hanya Vietnam yang orangnya pekerja keras. Laos dikenal paling santai. Kamboja di tengah-tengah: antara kerja kerasnya Vietnam dan santainya Laos. Ada pepatah yang selalu saya ingat untuk menggambarkan kategorisasi itu:
Orang Vietnam bekerja menanam padi; orang Kamboja hanya melihat bagaimana orang Vietnam menanam padi; orang Laos hanya mendengarkan cerita bagaimana padi itu tumbuh.
Johni ingin melihat sendiri calon-calon pesaingnya dari Kamboja. Agar bisa mengambil keputusan antisipasi apa yang perlu disiapkan. Saya setuju dengannya: hal seperti ini tidak bisa meminta bantuan AI.
Ada satu lagi eksportir: dia seorang wanita. Lily Widjaja.
Dulunya eksekutif di perusahaan asing. Ketika orang tuanyi meninggal, dia harus pulang kampung ke Yogyakarta: meneruskan perusahaan eksportir minyak atsiri dan nilam. Nama perusahaannyi: CV Indaroma.
Dia meminta perhatian pemerintah untuk dua hal: kian sedikitnya tanaman nilam dan banyaknya petani yang tidak memegang teguh etika dagang.
Di Yogyakarta kian sulit mendapatkan daun nilam untuk diproses menjadi minyak atsiri—antara lain jadi bahan baku parfum. Dia harus mendatangkannya dari Sulawesi dan bahkan dari Aceh. Biayanya bertambah.
Dia sebenarnya ingin meminta agar pemerintah membina petani nilam. Namun permintaan itu saya cegah: pengusaha tidak boleh meminta bantuan pemerintah. Biasakan tidak usah berharap. Pengusaha harus mengatasi semua persoalan yang dihadapi secara mandiri.
Pun soal banyaknya petani yang ingkar janji: mereka meminta kepadanyi modal kerja—untuk memanen daun nilam. Setelah panen, daunnya dikirim ke perusahaan lain. Lalu pinjaman modalnya tidak terbayar—atau dibayar dengan janji di panen berikutnya.
Saya juga meminta kepadanyi untuk tidak meneruskan keluhannyi. “Yang mengalami seperti itu banyak sekali. Jangan dikira hanya Anda,” kata saya. Itu memang persoalan berat. Namun itu juga tugas pengusaha sendiri untuk mengatasinya. Jadi pengusaha itu sulit. Justru di situlah yang membuat pengusaha itu istimewa.
Apalagi di saat seperti ini, usaha yang paling mudah itu hanya satu: menjadi tim sukses—biarpun Pemilunya masih jauh. Padahal itu penyakit nomor satu yang harus dijauhi pengusaha. Pengusaha tidak boleh menipu dan harus memegang janji. Tim sukses boleh menipu dan ingkar janji. (Dahlan Iskan)



