MALANG POST – Komunitas Karakter Brawijayan bersama Globalizing Universitas Brawijaya menggelar Pagelaran Wayang Kulit Kontemporer berlakon “Mutiara Kerang Kencana” di Gedung Samantha Krida UB, Malang, Sabtu (3/10/2026), untuk mengenalkan nilai-nilai luhur dan kebudayaan Nusantara kepada generasi muda.
Penguat nilai Karakter Brawijayan berkolaborasi dengan Globalizing Universitas Brawijaya (GUB) dan Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit Kontemporer berlakon Mutiara Kerang Kencana, Sabtu (3/10/2026), di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB), Malang.
Agenda seni ini disiapkan sebagai wadah edukasi budaya guna memperkenalkan sekaligus menghidupkan kembali tradisi pewayangan melalui kemasan pertunjukan yang kontekstual dengan gaya hidup generasi muda.
Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi UB, Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menilai perhelatan seni ini merupakan pijakan krusial dalam memperkokoh karakter dan identitas kebudayaan civitas akademika UB. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab dalam pengembangan keilmuan dan teknologi, melainkan juga mengemban misi melestarikan kebudayaan nasional.
“Wayang bukan sebatas tontonan seni, melainkan media tuntunan yang kaya akan filosofi dan pesan moral kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi kampus menghadirkan seni tradisional dalam ruang ekspresi yang dekat dengan mahasiswa,” ujar Andi, Sabtu (3/10/2026).
Andi menambahkan bahwa sinergi bertiga ini membuktikan pelestarian seni tradisional dapat dieksekusi secara kolaboratif. Lingkungan kampus diposisikan sebagai ruang perjumpaan antara nilai tradisi luhur dan ide-ide kreatif masa kini.
“Melalui kolaborasi semacam ini, kita menghendaki budaya Nusantara tidak sekadar menjadi artefak kenangan, melainkan terus berdenyut, berkembang, serta menyatu dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya generasi muda,” tambahnya.

Narasumber Sejarah Brawijaya, Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., M.Ec., Ph.D., menjelaskan bahwa pemahaman historis dan kebudayaan berbanding lurus dengan penguatan jati diri institusi. Menurutnya, Karakter Brawijayan menjadi pintu masuk utama untuk menginternalisasi nilai-nilai UB yang dibangun di atas pondasi akademik, sejarah, dan kesadaran lingkungan sosial.
“Sejarah bukan sekadar memori masa lalu. Sejarah memberikan pemahaman komprehensif mengenai identitas dan nilai dasar yang menjadi pijakan kokoh untuk melangkah ke masa depan,” terangnya.
Ia menilai pementasan wayang kulit merupakan media yang intuitif untuk mengomunikasikan pesan-pesan moral karena sarat akan narasi, simbolisme, dan kearifan lokal yang dapat ditafsirkan sesuai tantangan zaman. Pendekatan kontemporer dalam pementasan wayang dinilai mampu membuka ruang dialog budaya dengan generasi z (Gen-Z).
Lakon Mutiara Kerang Kencana menjadi sajian utama yang dibawakan secara apik oleh dalang Ki Tri Sulo dan Ki Daniswara. Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Fuad, S.Pi., M.T., mengungkapkan bahwa lakon ini menyajikan permenungan reflektif yang mengajak penonton memetik hakikat kebajikan, kepemimpinan, keberagaman, serta spiritualitas dalam pembentukan karakter bangsa.
Selain menjadi sarana pendidikan karakter, pementasan wayang ini diintegrasikan dengan rangkaian peringatan World Water Monitoring Day (WWMD) 2026 Universitas Brawijaya. Filosofi air yang menjadi salah satu pilar Karakter Brawijayan memberikan perspektif teologis dan ekologis mengenai urgensi menjaga kelestarian sumber daya air sebagai urat nadi kehidupan.
Melalui kemasan kontemporer, pertunjukan ini tidak hanya memosisikan wayang sebagai sarana hiburan, melainkan juga medium penanaman etika budaya Nusantara. Kehadiran Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji memperkuat struktur estetika dalang dan pengrawit, sementara Karakter Brawijayan dan GUB menyediakan ekosistem kreatif di tingkat perguruan tinggi.
Pagelaran ini membuktikan bahwa seni tradisional memiliki ruang tumbuh yang fleksibel. Inovasi penyajian yang kreatif mampu menjaga eksistensi seni pewayangan sekaligus memperluas jangkauan apresiasi budaya di tengah arus modernisasi.
Bagi Universitas Brawijaya, panggung kebudayaan seperti ini menjadi bagian integral dari penguatan ekosistem kampus berkarakter yang seimbang antara capaian akademik dan keagungan budaya lokal. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




