MALANG POST – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang bersama akademisi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), membongkar maraknya tren modus penipuan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti kloning suara (voice cloning) dan deepfake yang menelan korban warga Malang hingga puluhan juta rupiah, Jumat (2/10/2026).
Lompatan teknologi digital di era modernisasi, ibarat pisau bermata dua. Ketika fitur kecerdasan buatan dikembangkan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tangan-tangan jahat penjahat siber justru memanfaatkannya, untuk merancang perangkap penipuan yang kian rapi, halus, dan sulit ditebak oleh kasat mata.
Ancaman kejahatan berbasis AI itulah yang kini resmi masuk ke kawasan Malang Raya.
Dalam ruang siaran Talkshow Radio City Guide FM pada Jumat (2/10/2026), Kepala OJK Malang, Faried Faletehan, membeberkan kasus terbaru yang menimpa seorang warga di Malang.
Korban terkecoh hingga menderita kerugian materiil mencapai Rp80 juta.
Pelaku memanfaatkan teknologi AI untuk mengkloning atau menirukan suara teman dekat korban secara sangat presisi, lalu menghubungi korban menggunakan nomor baru.
”Pelaku mempelajari kebiasaan, hobi, serta pola percakapan targetnya di media sosial. Begitu suara orang terdekatnya berhasil dikloning dengan AI, pelaku menghubungi korban untuk meminta transfer uang. Korban percaya penuh karena suaranya identik,” jelas Faried Faletehan.
Tak hanya menyasar kalangan perkotaan, pelaku kejahatan keuangan juga bergerilya ke kawasan pedesaan.
Modus lainnya adalah membagikan uang tunai Rp50 ribu hingga Rp200 ribu kepada warga desa.
Sebagai imbalan, KTP warga dipinjam untuk dibuka rekening bank baru, yang ujung-ujungnya digunakan penipu untuk menampung uang kejahatan.
Faried menyebut tren penipuan berbasis AI secara nasional pada tahun 2026 melonjak tajam menembus lebih dari 1.300 kasus.
Di tingkat lokal, pengaduan masyarakat ke OJK Malang kurun Januari hingga Juli 2026 mencapai 2.300 laporan, di mana 21 hingga 22 persen di antaranya merupakan kasus penipuan.
Grafik penipuan tahun ini membengkak hampir 50 persen dibanding periode sebelumnya.
Guna membendung kebocoran dana, OJK mengoptimalkan layanan Indonesia Anti Scam Centre (IASC).
”Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, IASC OJK menerima lebih dari 668 ribu laporan pengaduan dari seluruh Indonesia. Dari total laporan tersebut, dana korban penipuan yang berhasil kami selamatkan dan dibekukan mencapai Rp771,2 miliar,” papar Faried.
Sementara itu, Dosen FILKOM Universitas Brawijaya, Dr.Eng. Ir. Herman Tolle, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kehadiran AI Generatif memang memudahkan masyarakat membuat konten.
Namun di sisi lain, fitur tools kloning suara hingga deepfake video membuat batas antara produk asli dan buatan AI semakin samar.
Herman mengimbau masyarakat untuk membatasi kebiasaan membagikan seluruh sisi kehidupan pribadi (oversharing) di media sosial.
Sebab data suara, rekaman video, daftar teman dekat, hingga hobi yang diunggah secara terbuka menjadi bahan baku utama bagi penipu untuk melatih mesin AI.
”Teknologi AI sekarang semakin halus dan tidak lagi patah-patah. Karena itu, kunci proteksi mandiri adalah selalu melakoni konfirmasi ganda (double check) atau verifikasi ulang ke nomor lama jika ada kerabat yang meminta bantuan keuangan mendadak,” pungkas Herman Tolle. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




