SUPLAI: Pendistribusian air bersih di Desa Kedungbanteng, yang dilakukan PMI Kabupaten Malang. (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
MALANG POST – Krisis air bersih masih dirasakan warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Bantuan air dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang sudah mengalir, tetapi pasokannya belum mampu memenuhi kebutuhan warga di tengah kondisi kekeringan.
Sedikitnya warga di 24 titik wilayah Desa Kedungbanteng terdampak krisis air bersih. Jumlahnya mencapai sekitar 1.200 kepala keluarga (KK).
Sejumlah wilayah yang mendapatkan distribusi bantuan antara lain RT 17, RT 27, RT 33, RT 13 dan RT 38.
Kepala Desa Kedungbanteng Ariv Iskandar Fatoni, S.E., mengatakan pasokan satu armada air setiap dua hari sekali masih jauh dari kebutuhan warga.
“Dengan pengiriman satu armada setiap dua hari sekali itu ternyata masih kurang separo. Seharusnya satu kali pengiriman bisa mencapai di 12 titik. Dengan kondisi panas ekstrem seperti saat ini, setiap warga hanya kebagian tiga dirigen air bersih masing-masing bervolume 20 liter,” ungkap Ariv, Rabu (30/9/2026).
Artinya, distribusi bantuan yang ada saat ini belum mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak secara optimal. Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk dengan membeli air.
Warga Harus Membeli Air
Kondisi kekeringan semakin terasa karena kebutuhan air bersih tidak berhenti pada kebutuhan minum dan memasak. Air juga diperlukan untuk mandi, mencuci serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
Dengan jumlah warga terdampak yang cukup besar, bantuan dari satu armada setiap dua hari dinilai belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
Pemerintah Desa Kedungbanteng pun mengambil langkah jangka pendek dengan berkoordinasi bersama BPBD dan PMI Kabupaten Malang untuk menambah pasokan air bersih.

Kepala Desa Kedungbanteng, Ariv Iskandar Fatoni. (Foto: Diky Prasetyo/Malang Post)
Selain mengandalkan bantuan pemerintah dan PMI, pemerintah desa juga membuka kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk yayasan dan donatur lainnya.
“Kami berusaha menambah pasokan air. Seperti mengajukan bantuan air bersih ke Perhutani KPH Malang,” terang Ariv.
Upaya tersebut dilakukan untuk menutup kekurangan pasokan sekaligus memastikan warga di titik-titik terdampak tetap mendapatkan air bersih selama kondisi kekeringan berlangsung.
Dua Sumur Bor Disiapkan
Selain bantuan air tangki, Desa Kedungbanteng juga mulai mengembangkan solusi yang lebih berkelanjutan melalui pembangunan sumur bor.
Ariv memberikan apresiasi kepada jajaran Polres Malang yang telah memberikan bantuan pembangunan sumur bor untuk masyarakat.
Saat ini, Desa Kedungbanteng memiliki dua titik sumur bor.
Satu titik merupakan bantuan dari Polres Malang dan sudah dimanfaatkan masyarakat. Sementara satu titik lainnya merupakan bantuan dari Kodim 0818/Malang-Batu melalui kerja sama dengan BPBD Kabupaten Malang dan masih dalam proses penyelesaian.
“Kini Desa Kedungbanteng sudah memiliki dua titik sumur bor. Satu titik atas bantuan dari Polres Malang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan yang satu lagi bantuan dari Kodim 0818 Malang-Batu atas kerja sama dengan BPBD Kabupaten Malang saat ini masih dalam proses penyelesaian,” pungkas Ariv.
Desa Kedungbanteng sendiri memiliki jumlah penduduk sekitar 7.400 jiwa. Di tengah kondisi kekeringan, pemerintah desa terus berupaya menambah sumber air, baik melalui distribusi bantuan maupun pembangunan sarana air bersih.
Bagi warga, tambahan pasokan menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, selama sumber air belum kembali normal, bantuan air bersih harus terus datang agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. (Diky Prasetyo/Ra Indrata)




