MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman membuka Festival Pangan Lokal Makin Lokal Makin SAE di Balai Kota Among Tani Batu, Sabtu (26/9/2026), yang membagikan 4.800 porsi jajanan olahan nonberas gratis dari 48 anjungan guna mempromosikan diversifikasi pangan dan kampanye Stop Boros Pangan.
Pangan lokal Kota Batu tidak sekadar disajikan dalam bentuk olahan sederhana. Di tangan warga yang kreatif, aneka hasil bumi diolah menjadi sajian kuliner yang variatif, sehat, dan menarik. Kreativitas tersebut tampak dalam perhelatan Festival Pangan Lokal bertajuk “Makin Lokal Makin SAE” yang berlangsung di Halaman Parkir Timur Balai Kota Among Tani, Sabtu (26/9/2026).
Sebanyak 48 anjungan (booth) meramaikan festival tersebut. Beragam kreasi olahan pangan lokal nonberas ditampilkan secara memikat, mulai dari olahan kentang, ubi, hingga jenang apel khas Kota Batu. Tidak hanya dipamerkan, sebanyak 4.800 porsi jajanan lokal dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang memadati lokasi acara.
Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Ketua TP PKK Kota Batu, Siti Faujiah Nurochman, hadir langsung meninjau festival tersebut. Keduanya berkeliling melihat aneka sajian kuliner sekaligus mencicipi sejumlah produk kreasi pangan hasil olahan para peserta.

PANGAN LOKAL: Wali Kota Batu Nurochman bersama Ketua TP PKK Kota Batu saat mengicip secara langsung jajanan dalam event Festival Pangan Lokal 2026. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Festival ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menunjukkan inovasi dalam memanfaatkan bahan pangan lokal melimpah yang tersedia di Kota Batu. Bahan-bahan tradisional diolah menjadi menu modern yang lebih variatif dengan tetap mempertahankan kearifan lokal dalam penyajiannya.
Sejumlah peserta memanfaatkan tampah kayu, daun pisang, dan wadah bambu untuk menyajikan hidangan. Sentuhan alami tersebut membuat produk pangan lokal tetap memiliki karakter tradisional yang kuat, meskipun dikemas dengan tampilan yang estetis dan kekinian.
Ketua TP PKK Kota Batu, Siti Faujiah Nurochman, menyampaikan bahwa potensi tanaman, komoditas umbi-umbian, serta sayuran lokal sangat prospektif untuk terus dikembangkan menjadi beragam menu keluarga berkualitas. Menurutnya, kreativitas warga dalam mengolah pangan lokal perlu terus dipicu.
“Terus bersemangat dan ciptakan inovasi baru terkait dengan olahan makanan lokal yang ada di Kota Batu,” pesannya di hadapan para peserta, Sabtu (26/9/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Kota Batu, Hendry Suseno, menjelaskan bahwa festival ini juga membawa misi edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi makanan. Kampanye Stop Boros Pangan (Stop Food Waste) menjadi pilar penting dalam kegiatan ini.

“Pesan utama kampanye ini mengajak masyarakat mengonsumsi makanan secara bijak, mengambil porsi secukupnya, dan tidak menyia-nyiakan bahan pangan,” tegas Hendry.
Melalui pendekatan edukatif tersebut, festival tidak sekadar menjadi ajang festival kuliner semata, melainkan juga sarana mengenalkan budaya konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Di sisi lain, festival ini membuktikan potensi hasil pertanian Kota Batu yang sangat melimpah untuk terus diolah menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Kondisi geografis dan aktivitas pertanian warga menjadi modal utama bagi pengembangan ketahanan pangan daerah.
Melalui kreasi pengolahan yang inovatif, pangan lokal mampu tampil bergengsi tanpa kehilangan identitas aslinya. Dari bahan dasar yang dekat dengan keseharian warga, lahir beragam produk pangan unggulan yang layak diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
Kehadiran 48 anjungan dengan ratusan variasi produk olahan menegaskan bahwa pangan lokal memiliki prospek cerah untuk terus dikembangkan. “Festival Pangan Lokal Makin Lokal Makin SAE menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan hasil bumi, kreativitas warga, dan edukasi konsumsi pangan dalam satu rangkaian kegiatan,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




