MALANG POST – Akademisi dan perwakilan mahasiswa, mendorong perguruan tinggi di Kota Malang, untuk memasifkan screening kesehatan mental secara berkala, serta membangun sistem pemantauan yang aman bagi mahasiswa, Kamis (17/9/2026).
Kesehatan mental mahasiswa di lingkungan kampus tidak boleh lagi dipandang sebagai isu pinggiran. Di tengah kepungan beban akademis, tekanan tugas akhir skripsi, hingga dinamika asmara, ketersediaan ruang aman untuk bercerita menjadi kebutuhan mendesak.
Gagasan pembenahan itulah yang mencuat dalam dialog edukasi perguruan tinggi.
Dosen Psikologi Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, Sri Wiworo, mengungkapkan bahwa setiap kampus sejatinya telah memiliki unit layanan konseling dan Satgas.
Namun, sosialisasi yang belum masif membuat banyak mahasiswa masih ragu atau takut untuk datang memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Meskipun sudah ada Satgas di kampus, mindset mahasiswa untuk berani mencari bantuan harus dibentuk terlebih dahulu. Mereka harus merasa aman dan nyaman saat berkonsultasi,” ujar Sri Wiworo dalam talkshow Idjen Talk di Radio City Guide, Kamis (17/9/2026).
Woro sepakat agar screening kesehatan mental dimasifkan secara berkala.
Deteksi dini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa baru, tetapi wajib menyasar mahasiswa tingkat akhir yang rentan terpapar stres.
Melalui screening ini, kampus dapat mengarahkan mahasiswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut ke psikiater atau rumah sakit rujukan.
Dosen pun diimbau lebih peka memantau perubahan perilaku mahasiswa di kelas.
Pandangan senada dihembuskan perwakilan BEM Psikologi, Arina Sabila Rusyada.
Arina menilai kampus perlu memaksimalkan keberadaan konselor sebaya. Mahasiswa cenderung lebih terbuka dan nyaman saat berbagi cerita dengan teman sebaya.
Selain itu, fakultas didorong rutin menggelar seminar kesehatan mental dengan menghadirkan para ahli.
Arina menekankan pentingnya kampus memiliki sistem terintegrasi untuk memantau kondisi psikologis mahasiswa, seperti sistem survei data kesehatan mental yang telah diterapkan di Universitas Negeri Malang (UM).
“Dengan data tersebut, kampus bisa melakukan intervensi secara tepat. Tantangan terbesarnya sering kali ada pada individu yang enggan mengikuti proses penanganan lanjutan pasca-screening,” pungkas Arina. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




