SEREMONI: Bupati Malang, HM Sanusi saat memukul gong tanda dimulainya PKKMB di Universitas Kepanjen. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Bupati Malang H.M. Sanusi menekankan pentingnya integritas, disiplin, dan kemampuan kolaborasi bagi 718 mahasiswa baru saat menghadiri pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Universitas Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (15/9/2026), untuk mencetak lulusan yang mengabdi kepada masyarakat.
Bupati Malang, H.M. Sanusi, menegaskan bahwa mahasiswa baru tidak cukup hanya menguasai teori akademik selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Mereka dituntut memiliki integritas, disiplin, kemampuan berkolaborasi, serta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Sanusi saat menghadiri kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Kepanjen (UK) di Aula Kampus UK, Selasa (15/9/2026).
Menurut Sanusi, PKKMB memiliki posisi penting karena kehidupan di perguruan tinggi berbeda dengan jenjang pendidikan sebelumnya, termasuk SMA maupun SMK.
“Kegiatan ini penting karena perguruan tinggi berbeda dengan SMA atau SMK. Ini menjadi sarana pengenalan etika dan budaya dalam menjalani kehidupan kampus maupun kehidupan bermasyarakat,” ujar Sanusi.
Ia menilai masa awal perkuliahan merupakan momentum untuk membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya disiplin dan tujuan hidup. Sejak awal, mahasiswa harus memiliki arah yang jelas serta menjunjung tinggi integritas.
“Menata disiplin dan kesadaran dalam kehidupan harus mempunyai tujuan yang sangat jelas dan dimiliki oleh semua mahasiswa. Hal yang paling penting adalah integritas,” tegasnya.
Sanusi juga mengingatkan bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam menentukan kualitas kehidupan seseorang. Pengetahuan yang luas, menurutnya, menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi perubahan kehidupan sekaligus meningkatkan kemampuan akademiknya.

Bupati Malang, HM Sanusi didampingi Rektor Universitas Kepanjen Malang dan Ketua Yayasan saat menyapa mahasiswa baru. (Foto: Istimewa)
“Status ekonomi dan sosial seseorang dalam kehidupan juga sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengetahuan yang luas untuk mengakomodasi kehidupan manusia,” katanya.
Lebih jauh, Sanusi meminta mahasiswa Universitas Kepanjen tidak menjadikan perkuliahan hanya sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah semata. Kemampuan akademik, kata dia, harus terus dikembangkan, termasuk dengan membuka peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Tidak ada kata berhenti belajar. Selama kita mampu, teruslah belajar dan belajar,” pesan Sanusi.
Ia berharap setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Kepanjen, para mahasiswa tidak hanya membawa gelar akademik, melainkan juga mempunyai kemampuan untuk berbaur dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Bisa dan mampu berbaur dengan masyarakat setelah selesai pendidikan di UK. Yang terpenting bukan hanya teori, melainkan juga mampu mengimplementasikan apa yang telah didapatkan di UK,” tuturnya.
Sanusi juga menekankan pentingnya kemampuan bekerja sama. Menurutnya, kehidupan kampus sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar membangun komunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
“Yang terpenting adalah kolaborasi dan mampu bekerja sama,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Kepanjen, Dr. Tri Nurhudi Sasono, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa sebanyak 718 mahasiswa baru mengikuti rangkaian PKKMB tahun akademik 2026/2027. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 680 mahasiswa.
PKKMB berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis (15–17/9/2026), setelah sebelumnya mahasiswa mengikuti pra-PKKMB pada Senin (14/9/2026).
Dari total mahasiswa baru tersebut, sebanyak 547 mahasiswa berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan dan sekitar 166 mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Fakultas Ilmu Kesehatan menjadi fakultas dengan jumlah mahasiswa baru terbanyak, dengan bidang keperawatan sebagai salah satu program studi yang paling banyak diminati.
Menariknya, mahasiswa baru Universitas Kepanjen tahun ini tidak hanya berasal dari Malang Raya. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Timur.
Universitas Kepanjen bahkan menerima mahasiswa internasional. Tercatat mahasiswa asal Sudan menempuh program studi Keperawatan, sedangkan mahasiswa dari Papua Nugini mengambil pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Rangkaian PKKMB dirancang tidak sekadar menjadi kegiatan pengenalan lingkungan kampus. Pada hari pertama, mahasiswa mendapatkan materi mengenai nilai budaya dan etika, tata krama, pencegahan serta penanganan kekerasan di perguruan tinggi, sistem pendidikan tinggi, hingga pengenalan lembaga dan lingkungan Universitas Kepanjen.
Mahasiswa juga dibekali budaya anti-plagiarisme serta nilai-nilai Ke-Kepanjean sebagai fondasi pembentukan mahasiswa yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change).
Memasuki hari kedua, materi diarahkan pada pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi dunia perkuliahan maupun masa depan. Materi meliputi konsep diri dan pola pikir bertumbuh (growth mindset), kesehatan mental mahasiswa, bahaya napza dan pergaulan berisiko, integritas, literasi digital, kepemimpinan, serta kemampuan berpikir kritis berlandaskan karakter Pancasila. Mahasiswa juga mendapatkan pembekalan mengenai perlindungan Tenaga Kerja Migran Indonesia (TKMI).
Sementara itu, hari ketiga dikemas lebih kreatif melalui jalan sehat, festival kreativitas dan bazar, pertunjukan seni, serta penampilan kelompok mahasiswa baru. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan koreografi, kilas tarian (flashmob), penghargaan bagi mahasiswa dan kelompok terbaik, serta penampilan bintang tamu (guest star).
Bagi Sanusi, seluruh rangkaian tersebut pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan: membentuk mahasiswa yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kemampuan untuk mengabdikan diri di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar sejak awal benar-benar memahami pilihan program studi yang diambil karena bidang pendidikan yang ditempuh akan berhubungan dengan perjalanan kehidupan dan pengabdian mereka di masa mendatang.
“Program studi menentukan kehidupan nanti dalam bermasyarakat. Jadi, dalam memilih jurusan, betul-betul harus sesuai dengan cita-citanya,” pungkas Sanusi. (Seno/Dicky/Sugeng Irawan)




