MALANG POST – Pemerintah Kota Batu menggandeng akademisi Universitas Brawijaya (UB), untuk mematangkan konsep Smart Integrated Farming (SIF) seluas 2,59 hektare di Rupatama Balai Kota Among Tani, Selasa (1/9/2026). Inovasi berbasis Internet of Things (IoT) ini dihadirkan untuk memodernisasi sektor pertanian lokal sekaligus mempercepat regenerasi petani muda.
Sektor pertanian di Kota Batu mulai dipersiapkan secara matang untuk menghadapi tantangan zaman. Tak lagi hanya mengandalkan metode konvensional dan tenaga fisik petani, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menggandeng akademisi Universitas Brawijaya (UB) untuk mengembangkan kawasan Smart Integrated Farming (SIF).
Konsep tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai sektor secara simultan, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan hasil pascapanen, hingga rantai pemasaran digital. Penerapan teknologi modern menjadi pengikat utama agar seluruh aktivitas tersebut berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Pematangan konsep SIF dilaksanakan Pemkot Batu bersama tim ahli UB di Rupatama Balai Kota Among Tani pada Selasa (1/9/2026). Wali Kota Batu, Nurochman, menyampaikan bahwa pengembangan SIF menjadi langkah strategis untuk menjaga agar sektor agraris tetap menjadi pilar utama pembangunan daerah di tengah pesatnya ekspansi pariwisata.
Menurutnya, pertumbuhan pariwisata tidak boleh berjalan dengan meminggirkan sektor pertanian. Pasalnya, mayoritas masyarakat Kota Batu masih menggantungkan mata pencaharian dan memiliki keterikatan kuat dengan dunia pertanian.
“Mayoritas masyarakat Kota Batu memiliki keterkaitan dengan pertanian. Karena itu, petani harus tetap kita jaga. Pertanian juga harus kita siapkan menjadi pilihan masa depan bagi generasi muda,” kata Wali Kota yang akrab disapa Cak Nur tersebut.

PERTANIAN: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan pemaparan, Pemkot Batu menggandeng UB untuk mengembangkan smart integrated farming (SIF) di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Melalui SIF, pertanian tidak sekadar dipertahankan sebagai aktivitas produksi bahan mentah. Ekosistem ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah (added value) tinggi sekaligus membuka peluang baru bagi generasi milenial dan Gen Z untuk melihat pertanian sebagai bisnis modern yang menjanjikan (agropreneurship).
Cak Nur menegaskan bahwa sektor pertanian di Kota Batu harus bertransformasi mengikuti kebutuhan pasar. Komoditas unggulan lokal yang berpotensi besar sering kali terkendala standar kelayakan mutu (quality control) untuk menembus pasar ritel modern maupun platform e-commerce.
“Kita harus mulai bertani berbasis kebutuhan pasar. Quality control harus diperbaiki agar produk kita tidak hanya bergantung pada pasar tradisional, tetapi bisa masuk ke pasar modern dengan nilai jual lebih tinggi,” ujarnya.
Terapkan Sistem Zero Waste dan Teknologi IoT di Area 2,59 Hektare
Selain mendongkrak produktivitas, program SIF juga dirancang ramah lingkungan dengan menerapkan prinsip sirkular zero waste. Seluruh limbah dari aktivitas pertanian maupun peternakan akan diolah kembali menjadi pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.
“Semua limbah akan kita olah kembali ke lahan. Ekosistemnya harus terintegrasi dan berkelanjutan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tegas Cak Nur.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menambahkan bahwa kesiapan daya dukung sumber daya air menjadi syarat mutlak yang harus diperhatikan sejak awal perencanaan.
“Nantinya konsep SIF tidak berhenti pada kawasan percontohan. Inovasi yang telah dikembangkan petani muda di Kota Batu, seperti kultur jaringan dan teknologi pengolahan pascapanen, perlu ikut masuk dalam ekosistem tersebut,” tutur Heli.
Scenarios teknis SIF ini akan dibangun di atas lahan seluas 2,59 hektare yang terbagi ke dalam 11 zona terpadu. Pengelolaannya memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) serta sistem pemantauan digital (digital monitoring) untuk mengontrol kondisi lahan dan ternak secara real-time.
Pemkot Batu berharap sinergi lintas sektor bersama akademisi UB ini dapat menghasilkan cetak biru (blueprint) pertanian modern yang tidak hanya canggih secara teknologi, melainkan juga aplikatif dan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani di Kota Batu. (Ananto Wibowo)




