MALANG POST – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, memperkuat kolaborasi strategis bersama insan media se-Jawa Timur, lewat perhelatan Media Gathering di Kota Malang, guna mengakselerasi literasi dan perluasan jaminan sosial pekerja, Senin (24/8/2026).
Tugas melindungi keselamatan seluruh tenaga kerja di Indonesia bukanlah urusan sepele. Beban berat itu tidak mungkin dipikul sendiri oleh lembaga pemerintah.
Perlu gotong royong dan kesadaran kolektif dari berbagai elemen bangsa. Salah satu pilar yang memegang peran sangat vital adalah media massa.
Insan pers memiliki kekuatan untuk menjangkau pelosok negeri. Jurnalis sanggup menyampaikan pesan rumit menjadi narasi yang lugas dan mudah dipahami.
Kesadaran itulah yang mendasari perhelatan Media Gathering BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur. Acara guyub ini digelar di Kota Malang, Senin (24/8/2026).
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, hadir secara langsung. Pria ramah ini menegaskan bahwa pers merupakan mitra strategis yang sangat memenentu.
Media massa tidak sekadar bertugas menyiarkan berita atau merilis laporan resmi. Lebih dari itu, media adalah jembatan informasi tepercaya bagi warga.

DARI JAKARTA: Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
“Bagi kami, media bukan hanya menyampaikan informasi. Media menjadi mitra strategis untuk menghadirkan informasi yang lebih sederhana dan relevan,” kata Saiful, Senin (24/8/2026).
Lewat pemberitaan yang renyah, pekerja diharapkan kian sadar akan pentingnya jaminan sosial. Perlindungan diri adalah kebutuhan mendasar untuk membentengi keluarga.
Hingga Juli 2026, BPJS Ketenagakerjaan mencatatkan kinerja raksasa. Lembaga ini telah melindungi sekitar 48 juta peserta aktif di seluruh penjuru Indonesia.
Pada periode yang sama, klaim yang sudah dicairkan menembus angka fantastis Rp42 triliun. Angka itu berasal dari pembayaran 3,6 juta kasus klaim.
Selain itu, manfaat beasiswa pendidikan telah disalurkan kepada sekitar 90.000 anak peserta.
Meski capaian tersebut sangat mentereng, Saiful tidak mau cepat berpuas diri. Masih ada pekerjaan rumah raksasa yang menghadang di depan mata.
Tantangan terbesarnya berada di sektor pekerja informal. Dari total potensi 77,8 juta pekerja informal di Indonesia, baru 13,5 juta jiwa yang terdaftar aktif.
Ruang kosong yang belum terjangkau masih sangat membentang luas.
Pengemudi ojek, pedagang kaki lima, petani, nelayan, hingga pekerja mandiri harus terus disasar. Edukasi publik harus masif dilancarkan.
“Tantangannya adalah bagaimana pekerja informal melihat jaminan sosial bukan sebagai beban. Ini adalah kebutuhan untuk menjaga diri dan keluarga ketika risiko terjadi,” tegas Saiful.
Perspektif lembaga kini terus bertransformasi pesat. BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya berhenti saat uang klaim ditransfer ke rekening peserta.
Lewat pendekatan Value Beyond Protection, lembaga ingin menghadirkan manfaat yang berkelanjutan. Peserta dan ahli waris dituntun agar tetap mandiri secara ekonomi.
Langkah konkret itu diwujudkan lewat Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA). Program ini sukses melakoni soft launching pada 18 Agustus 2026 lalu secara serentak di 37 provinsi dan 45 titik.
Melalui PEKA, para penerima santunan dibekali keterampilan usaha. Maksudnya agar dana santunan tidak habis begitu saja, melainkan menjadi modal produktif.

JATIM: Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur, Irvansyah Utoh Banja. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Di tempat yang sama, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur, Irvansyah Utoh Banja, membeberkan peta data daerah.
Berdasarkan catatan per 19 Agustus 2026, Jawa Timur memiliki sekitar 21,06 juta angkatan kerja. Namun, baru 5,63 juta pekerja yang tercatat sebagai peserta aktif.
Karakteristik lapangan kerja di Jawa Timur terbilang sangat kompleks. Karena itu, Utoh membutuhkan jejaring kemitraan dua arah yang solid dengan insan pers.
“Rekan jurnalis berada sangat dekat dengan masyarakat bawah. Kami ingin rekan media terus menjadi mitra kritis sekaligus mitra strategis,” kata Utoh.
Masukan dan kritikan tajam dari jurnalis di lapangan sangat dibutuhkan. Temuan wartawan akan menjadi bahan evaluasi guna menyempurnakan kualitas pelayanan.
“Mari kita berjalan bersama. Bukan sekadar menghasilkan pemberitaan, melainkan membangun kesadaran agar semakin banyak pekerja melindungi dirinya,” tambah Utoh.
Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Malang, Zulkarnain Mahading, menyoroti pentingnya edukasi lokal secara berkala. Peran media lokal di Malang Raya sangat ampuh menembus kesadaran warga.
Masyarakat kerap kali salah kaprah dan hanya fokus membicarakan besaran iuran bulanan. Padahal, segudang manfaat nyata yang didapat jauh melampaui angka iuran tersebut.
“Peran media sangat penting untuk memberi pencerahan. Program pertemuan media akan rutin dilakukan untuk mengembangkan kepesertaan,” tutup Zulkarnain. (Ra Indrata)




